6/26/2019

Memakai Nama Kunyah Dalam Tadisi Arab

Nama Kunyah
Apa itu yang dimaksud Nama Kunyah? Kata kunyah di sini bukan mengunyah dalam bahasa Indonesia yang berarti melumat makanan di mulut. Yang dimaksud di sini adalah "kun-yah" (كنية) yang berarti tradisi Arab untuk menyebut seseorang atau sesuatu dengan panggilan yang berawalan Abu atau Ummu.

Ali bin Abi Thalib berkata kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:
“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu apabila lahir untukku seorang anak laki-laki sepeninggalmu lalu aku namakan ia Muhammad dan aku beri kunyah dengan kunyahmu?” Beliau menjawab: “Ya (boleh).” `Ali berkata: “Pembolehan itu adalah rukhshah (keringanan) untukku (yakni tidak untuk selain `Ali -pent).” (HR. Abu Daud 4967, Tirmidzi 2843, Ahmad 1/95, Baihaqi 9/301 dan Bukhari dalam Adabul Mufrad 843)

Imam Bukhari membuat bab tersendiri tentang masalah ini dan beliau namakan bab “Memberi Kunyah untuk Anak Kecil dan untuk Laki-laki yang Belum Memiliki Anak.”

Biasanya kunyah ini memakai nama anak yang lumrahnya anak tertua, tapi tak harus selalu yang tertua. Contoh, Zaid dan Hindun menikah lalu punya anak bernama Farah, maka Zaid dipanggil Abu Farah sedangkan Hindun dipanggil Ummu Farah. 

Kunyah ini biasanya dianggap sebagai nama kehormatan. Terkesan dewasa dan lebih diperhitungkan di masyarakat kalau sudah punya nama kunyah ini. Karena itulah, maka yang tak punya anak pun biasanya akan diberi kunyah sebagai penghormatan, Contoh seperti Siti Aisyah yang memakai nama keponakannya, Abdullah, sebagai kunyah dirinya. Beliau dikenal dengan panggilan Ummu Abdillah yang berarti Ibu Abdillah. Abdillah di sini adalah Abdullah bin Zubair yang tak lain adalah anak dari saudari Aisyah. Tak ketinggalan, yang jomblo seumur hidup pun juga berkunyah, misalnya Syaikh Ibnu Taymiyah yang berkunyah Abul Abbas. Jangan dikira beliau punya anak bernama Abbas, menikah saja tidak. Anak kecil pun kadang diberi kunyah untuk membuatnya merasa lebih pede dan diperhitungkan, misalnya Abu Umair, seorang sahabat kecil. 

Tapi kunyah tak selalu memakai nama anak, ada juga yang memakai nama benda atau nama hewan. Sayyidina Ali ketika kedapatan tidur di masjid, yang saat itu lantainya tanah, maka oleh Nabi dipanggil Abu Turob. Turob berarti tanah berdebu. Demikian juga Sayyidina Abdurrahman ketika kedapatan membawa kucing di lengan bajunya lantas dipanggil dengan Abu Hurairah yang berarti Bapak kucing kecil. Selain panggilan kehormatan (atau keisengan), kunyah kadang jadi panggilan ledekan juga. Misalnya Abu Jahal alias Bapak Kebodohan. 

Saking lumrahnya tradisi kunyah ini, beberapa hewan pun juga biasa diberi kunyah. Misalnya singa disebut Abul Harits, kancil disebut Abu Hushain, serigala disebut Abu Ja'dah dan sebagainya. 

Sebagian lagi memakai kata "Ibnu" atau "Bintu" sebagai kunyah bila orang tuanya lebih dikenal masyarakat. Misalnya Ibnu Umar yang berarti Putra Umar Bin Khattab dan Ibnu Abbas yang berarti Putra Sayyidina Abbas. Kunyah bentuk ini juga dikenal di berbagai kebudayaan sebagai identitas lengkap seseorang. Hercules son of Zeus (Herkules putra Zeus), Tommy anaknya Soeharto, dan sebagainya adalah contohnya. 

Karena itu, maka jangan heran kalau orang Arab nyaris semua berkunyah. Ada yang populer kunyahnya dan ada yang tidak. 

Orang Indonesia, juga sejak dulu terbiasa berkunyah. Namun kunyah Indonesia terbatas pada penggunaan nama anak saja, tak komplit seperti versi Arab. Tapi tradisi kunyah ala Indonesia tak memakai kata Abu dan Ummu namun versi terjemahnya, yakni Pak dan Bu. 

Misalnya namanya sendiri adalah Sunarto yang menikah dengan Supatmi tapi di masyarakat dipanggil Pak Sukino dan Bu Sukino sebab anaknya bernama Sukino. Sedangkan kunyah dengan kata "ibnu" atau "bintu" yang berarti "putra dari" atau "putri dari" lumrahnya tak disebut tetapi langsung menggandengkan nama anak dengan orang tuanya. Tommy Soeharto berarti Tommy putra dari Soeharto. Ini adalah kunyah ala Nusantara. Biasanya kunyah ini menjadi nama kedua atau nama alias. 

Jadi orang  Indonesia masa lalu tak berkunyah dengan bahasa Arab tetapi dengan bahasa lokal mereka sendiri sesuai kebiasaan mereka sendiri. Secara hakikat ini sama saja dengan memakai istilah Arab, malah lebih pas dengan spirit Islam yang membumi di bumi tempatnya berpijak. Namun sekarang sepertinya ngetren memakai kata Abu atau Ummu sehingga tiba-tiba membludak sebutan Abu Anu atau Ummu Anu, terutama di kalangan "hijrah". Tak ada yang salah sih meniru budaya lain sebab budaya memang saling memengaruhi satu sama lain, tapi juga tak ada spesialnya dengan meniru-niru. 

Apakah kunyah merupakan tradisi islam atau sunnah islamiyah? Saya lebih suka menyebutnya sebagai tradisi Arab sebab sebelum Islam ada, tradisi ini sudah ada. Nabi Muhammad sebagai orang Arab hanya meneruskan tradisi yang sudah membumi di bumi tempat beliau dilahirkan. Beliau datang dengan agama yang tak membawa tren nama baru, tren pakaian baru (kecuali pakaian yang prinsipnya menutup aurat), atau tren budaya lainnya. Selain urusan syariat, semuanya adalah budaya yang memang membumi di lingkungan beliau. 

Sejarawan, semisal Al-Maqrizi dalam Imta' al-Asma' dan Mahmud Syukri al-Alusi dalam Bulugh al-Arab bercerita tentang asal usul tradisi kunyah ini. Konon, dahulu kala ada seorang raja yang membuat fasilitas pendidikan khusus bagi putranya selaku putra mahkota yang letaknya terpisah jauh dari kota. Dalam fasilitas ini, Sang Raja juga meletakkan beberapa anak lain yang terpilih sebagai teman putra mahkota itu. Setiap tahun Sang Raja bersama orang tua anak-anak itu mengunjungi fasilitas tersebut. Biasanya putra mahkota itu kemudian bertanya ke sang ayah, siapakah orang-orang yang bersamanya? Sang Raja, ayahnya, memperkenalkan mereka dengan jawaban: "Ini bapaknya si Anu, ini bapaknya si Anu.". Akhirnya jadi populer penyebutan seorang ayah dengan memakai nama anaknya. Jadi kunyah ini murni bagian dari budaya, bukan agama. 

Sebagai budaya, tentu nilainya biasa saja sebab tak ada budaya yang superior di atas budaya lainnya (kecuali dalam nalar kolonialisme). Budaya juga bukan sesuatu yang unik sebab besar kemungkinan satu budaya punya kesamaan dengan budaya yang lain (Disadur dari :Abdul Wahab Ahmad)