5/26/2019

Sejarah Singkat Hari Raya Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri
Sebelum kita membahas tentang sejarah idul fitri, ada baiknya kita memahami dulu, apa pengertian idul fitri. Pengertian idul fitri, secara bahasa Idul Fitri artinya kembali ke fitrah. 

Kembali ke fitrah, maksudnya bahwa setelah kaum muslim berpuasa sebulan penuh, diharapkan ia telah kembali suci, bersih dari dosa-dosa berkat mengerjakan amalan-amalan dibulan ramadhan. Seperti halnya bayi yang baru lahir, bahwa manusia dilahirkan dalak keadaan suci (fitroh)

Oleh karena itulah, Hari raya idul fitri dikatakan  penutup dari rangkaian ibadah puasa yang telah dijalankan selama satu bulan sebelumnya. Idul fitri merupakan perayaan atas sebuah kemenangan besar, yakni kemenangan dalam memerangi nafsu selama sebulan penuh di bulan ramadhan. 


Sejarah Hari Raya Idul Fitri

Dahulunya, sebelum syariat islam diturunkan. masyarakat Jahiliyah sudah memiliki dua hari raya yang diberi nama Nairuz dan Mahrajan. Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta-pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan.

Setelah turunnya agama islam,  tentu turun pula berbagai syariat bagi pemeluknya. salah satunya juga adalah syariat Idul Fitri. Perintah itu terdapat pada hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda:  

"Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha." [HR Daud dan Nasai]


Sebagimana penjelasan di atas, Ketika Rasulullah SAW berada di Madinah, terdapat kaum Yasyrik yang menggunakan dua hari khusus untuk berpesta-pesta dan bersenang-senang semata. Kedua hari tersebut dinamakan hari An-Nairuz dan hari Al-Mahrajan.

Rasulullah yang mendengar perayaan tersebut, tertuntut untuk mencari tahu ihwal dua hari tersebut kepada orang-orang Madinah.

“Wahai Rasul pada hari ini kami sedang merayakan pesta untuk kesenangan dan kepuasan kita, dan kita akan menjadikan hari ini menjadi sebuah tradisi kita karena hari ini suda ada sejak zaman kaum Jahiliyah".

Kemudian Rasulullah berkata kepada kaum Musyrik tersebut. Dalam sebuah hadis diterangkan:

ﻋَﻦْ ﻋَﻨَﺲٍ رَﺿِﻲ اﷲُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎل: ﻗَﺪِم رَﺳُﻮْل اﷲِ ﺻﻠﻌﻢ اﻟْﻤَﺪِﻳْﻨَﺔ, وَﻟَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺎنِ ﻳَﻠْﻌَﺒُﻮْن ﻓِﻴْﻬِﻤَﺎ. ﻓَﻘَﺎل رَﺳُﻮْل اﷲِ ﺻﻠﻌﻢ: ﻣَﺎ هَﺬَا ﻳَﻮْﻣَﺎنِ؟ ﻗَﺎﻟُﻮا: آُﻨﱠﺎ ﻧَﻠْﻌَﺒُﻮْن ﻓِﻴْﻬِﻤَﺎ ﻓِﻰ اﻟﺠَﻬِﻠِﻴﱠﺔ. ﻓَﻘَﺎل رَﺳُﻮْل اﷲِ ﺻﻠﻌﻢ: إِنﱠ اﷲَ ﻗَﺪْ أَﺑْﺪَﻟَﻬُﻤَﺎ ﺧَﻴْﺮًا ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﻳَﻮْمُ اﻷَﺿْﺤَﻰ وَﻳَﻮْمُ اﻟﻔِﻄْﺮ. (رواﻩ اﺑﻮداود(

“Diriwayatkan dari ‘Anas RA berkata : Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah dan penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang di dalamnya mereka berpesta-pesta dan bermain-main di hari itu pada masa jahiliyah . Lalu Beliau SAW bersabda : Apakah dua hari itu? Mereka berkata: pada hari itu kami berpesta-pesta dan bermain-main dan ini sudah ada sejak zaman jahiliyah dulu. Maka Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik yaitu Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.” [HR. Abu Daud] [Lihat dalam Fiqh Madzahib Al-Arbaah. Juga dalam Bulughur Marom]

Sejarah asal mula terjadinya Hari Raya Idul Fitri tersebut, dijadikan sebagai landasan dasar sejarah idul fitri untuk mengubah hari yang tidak baik menjadi hari yang sangat baik yang di dalamnya penuh dengan keberkahan.

Hikmah dari belajar sejarah idul fitri ini adalah, sebagai orang islam, bahwa kita sudah mempunyai hari raya tersendiri. Tidak mengikuti peryaan-perayaan jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran islam.