12/09/2018

Hukum Dan Larangan Memanggil Orang Dengan Sebutan Binatang

Hukum Dan Larangan  Memanggil Orang Dengan Sebutan  Binatang

Sikhriyyah, adalah sikap merendahkan, menghina, dan mencela orang lain. Memanggil orang lain deng sebutan yang tidak pantas. Menyebut orang lain dengan panggilan yang tidak disukainya. Seperti nama binatang, Cebong, Kampret, Keledai, Anjing, dsb.

Kalau ada orang yang menyebut orang lain dengan sebutan tersebut. Maka ia sama dengan mengolok-ngolok. 

Firman Allah Swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11)

Bukankah di sekolah, di pesantren, di musholla, dulu kita diajari untuk tidak mengolok-ngolok orang lain? Maka, berhentilah menyebut saudaranya dengan sebutan Cebong dan Kampret, sebelum anda menjadi Cebong dan Kampret beneran.

Orang tua melahirkan anak bukan untuk menjadi makhluk cebong dan bukan untuk menjelma jadi kampret. Melainkan agar menjadi manusia yang benar-benar manusia. Yang saling menghormati. Yang saling memahami. Dan saling memberikan manfaat.

Para ulama berpendapat mengenai hal ini.


Ibrahim An Nakha’i berkata :

اذاقال الرجل للرجل "ياحمار. ياكلب. ياخخنزير". سال الله له يوم القيامة [رواية ابن ابي شيبه في المصنف]


“jika seseorang mencela orang lain dengan perkataan ‘wahai keledai‘, ‘wahai anjing‘, ‘wahai babi‘ maka kelak Allah akan bertanya kepadanya di hari kiamat".

Demikian juga Sa’id bin Al Musayyab berkata :

لا تقل لصاحبِك: ياحمار. ياكلب. ياخخنزير. فيقول لك يوم القيامة أتراني خُلقت ًكلبا او حمارا اوْ خخنزير ؟ [رواية ابن ابي شيبه في المصنف:٥-]٢٨

“Jangan engkau berkata kepada temanmu ‘wahai keledai‘, ‘wahai anjing‘, ‘wahai babi‘. Sehingga kelak di hari kiamat engkan akan ditanya: ’apakah engkau melihat aku diciptakan sebagai anjing atau keledai atau babi?’”

Imam An Nawawi berkata :

ومن الألفاظ المذمومة المستعملة في العادة قوله لمن يخاصمه: يا حمار، يا تيس، يا كلب، ونحو ذلك، فهذا قبيح لوجهين: أحدهما: أنه كذب. والآخر: أنه إيذاء [الاذكر]

“diantara lafadz yang tercela yang biasa digunakan orang untuk mencela orang yang berselisih denganya adalah perkataan ‘wahai keledai‘, ‘wahai kambing‘, ‘wahai anjing‘ atau semacamnya. Perkataan ini tercela dari 2 sisi: 
(1) itu merupakan dusta 
(2) itu merupakan gangguan terhadap orang lain”.

Allah mengharamkan perbuatan mencela orang lain, dan hal ini telah disepakati oleh para ulama. Perbuatan ini termasuk dosa besar, wajib seorang muslim untuk menjauhinya dan mengingatkan orang lain dari dosa ini.