Rukun-Rukun Shalat Dan Cara Pelaksanaannya
Rukun-Rukun Shalat Dan Cara Pelaksanaannya

Rukun-Rukun Shalat Dan Cara Pelaksanaannya

Rukun shalat

Rukun Shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. (Baca : Pengertian Shalat) Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka salat pun tidak dianggap secara syar’i dan juga tidak bisa diganti dengan sujud sahwi. Rukun-rukun sholat yang akan  di di jelaskan  adalah sebgai berikut:

1. Niat

Niat berarti menyengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati. Niat harus ikhlas, niat untuk melaksanakan ibadah hanya karena kepada Allah Swt semata.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain).

Niat tidak dilafadzkan Dan tidaklah disebutkan. Namun, ada juga yang berpendapat, terutama dalam kalangan madzhab syafi’i. Niat boleh di ucapkan. Seperti “Usholli Fardadzdzuhri....dst”. Dalam hal niat, ada perbedaan dikalangan ulama.

Mereka yang beralasan niat tidak diucapkan, menggunakan dalil, suatu ketika, Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, “Apakah orang sholat mengatakan sesuatu sebelum dia takbir?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” (Masaail al Imam Ahmad hal 31. Hal ini juga disebut dalam Majmuu’ al Fataawa).

2. Berdiri

Rukun yang kedua, yaitu berdiri saat mengerjakan shalat. Merupakan suatu kewajiban dalam shalat fardhu untuk berdiri. Hal ini juga bersandar pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring.”

Allah ta’ala berfirman,
وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ

Artinya : “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu". (QS. al Baqarah: 238)
Apabila tidak mampu berdiri karena sakit atau yang lainnya maka shalat dengan semampunya. Jika shalat dibelakang imam yang duduk (karena sakit atau yang lainnya), maka ikut duduk .

3. Takbiratul ihram

Lafadz takbiratul ihram yaitu mengucapkan “Allahu Akbar”
Adapun bacaan doa iftitah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah:
 “allahuumma ba’id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghribi, allaahumma naqqinii min khathaayaaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. allaahummaghsilnii min khathaayaaya bil maa’i wats tsalji wal baradi”

4. Membaca al Fatihah

Membaca al fatihah merupakan rukun di antara rukun-rukun shalat. Bagi imam dan orang yang sendirian maka wajib membacanya, tidak ada khilaf disini. Adapun bagi orang yang shalat dibelakang imam ada khilaf di kalangan para ulama. Sebagai bentuk kehati-hatian hendak makmum tetap membaca al Fatihah dalam shalat-shalat yang sirriyah dan disaat-saat imam diam/tidak membaca.
Dan Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun sholat, jadi kalau dalam sholat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):  “Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah” (HR. Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).
“Barangsiapa yang sholat tanpa membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya buntung, sholatnya buntung…tidak sempurna” (HR. Imam Muslim).

5. Rukuk

Rukuk adalah gerakan setelah membaca Alfatihah dan surat dalam al quran. Rukuk dengan cara membungkuk hingga setengah badan. Saat rukuk, membaca “SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIMI WA BIHAMDIH”

6. I’tidal (berdiri tegak)

Setelah ruku’ dengan sempurna dan selesai membaca do’a, maka kemudian bangkit dari ruku’ seraya membaca “SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH” disertai dengan mengangkat kedua tangan sebagaimana waktu takbiratul ihrom.

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dalam sholat mengangkat kedua tangannya sampai setentag kedua pundaknya, hal itu dilakukan ketika bertakbir mau rukuk dan ketika mengangkat kepalanya (bangkit ) dari ruku’ sambil mengucapkan SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH…” (HR. Bukhari, Muslim dan Malik).
Kemudian ketika sudah tegak dan selesai bacaan tersebut disahut dengan bacaan “RABBANAA LAKAL HAMDU...dst”

7. Sujud

Sujud adalah meletakkan kening ke permukaan bumi (tempat sujud), dan hendaknya semua anggota sujud yang tujuh sempurna menyetuh permukaan bumi. Anggota sujud yang tujuh yaitu : kening serta hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung kedua telapak kaki. Sujud merupakan salah rukun shalat yang utama karena waktu sujud adalah waktu paling dekat antara hamba dengan Allah.

“Terkadang beliau mengangkat kedua tangannya ketika hendak sujud.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam An-Nasa’i dan Daraquthni) “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya [dan membentangkan] serta merapatkan jari-jarinya dan menghadapkannya ke arah kiblat.” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Bacaan ketika sujud yaitu “SUBHAANA RABBIYAL A’LAA WA BIHAMDIH”, 3X. Atau dengan bacaan lain “SUBHAANAKALLAAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAAHUMMAGHFIRLI”

8. Duduk Antara Dua Sujud

Dari ‘A-isyah berkata: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang kanan, baliau melarang dari duduknya syaithan.” (HR. Imam Ahmad dan Muslim)
Saat duduk diantara du sujud, maka membaca “ALLAAHUMMAGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARZUQNII WARFA’NI”


9. TASYAHHUD AWAL

Rasulullah SAW duduk tasyahud setelah rakaat kedua, jika sholat yang dilakukannya hanya dua rakaat, seperti sholat Subuh. Menurut Nasa’i Beliau SAW duduk iftirasy’ (duduk diatas telapak kaki kiri yang dihamparkan dalam telapak kaki kanan yang ditegakkan), seperti ketika Beliau duduk diantara dua sujud. Demikian juga apabila Beliau SAW duduk pada tasyahhud awal dalam sholat tiga atau empat rakaat.
Beliau SAW menyuruh orang yang salah sholatnya untuk melakukan hal itu sebagaimana sabdanya ”Bila kamu duduk dipertengahan sholat, hendaklah kamu melakukan thumuninah. Lalu hamparkanlah telapak kaki kirimu kemudian bacalah tasyahud.” (HR Abu Daud dan Baihaqi).

Letak tangan ketika duduk

Untuk kedua cara duduk tersebut tangan kanan ditaruh di paha kanan sambil berisyarat dan/atau menggerak-gerakkan jari telunjuk dan penglihatan ditujukan kepadanya, sedang tangan kirinya ditaruh/terhampar di paha kiri.

Dari Ibnu ‘Umar berkata Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila duduk didalam shalat meletakkan dua tangannya pada dua lututnya dan mengangkat telunjuk yang kanan lalu berdoa dengannya sedang tangannya yang kiri diatas lututnya yang kiri, beliau hamparkan padanya.”(HR. Imam Muslim dan Nasai).

Berisyarat dengan telunjuk, bisa digerakkan bisa tidak

Selama melakukan duduk tasyahhud awwal maupun tasyahhud akhir, berisyarat dengan telunjuk kanan, disunnahkan menggerak-gerakkannya. Kadang pada suatu sholat digerakkan pada sholat lain boleh juga tidak digerak-gerakkan.
“Kemudian beliau duduk, maka beliau hamparkan kakinya yang kiri dan menaruh tangannya yang kiri atas pahanya dan lututnya yang kiri dan ujung sikunya diatas paha kanannya, kemudian beliau menggenggam jari-jarinya dan membuat satu lingkaran kemudian mengangkat jari beliau maka aku lihat beliau menggerak-gerakkannya berdo’a dengannya.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa-i).

Dari Abdullah Bin Zubair bahwasanya ia menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jarinya ketika berdoa dan tidak menggerakannya.” (HR. Imam Abu Dawud).

10. Tasyahud Akhir

Pada saat tasyahud akhir, membaca “attahiyaat..dst”
 “AT-TAHIYYAATU LILLAHI WAS SHOLAWATU WAT THAYYIBAAT, AS-SALAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIY WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUHU, AS-SALAAMU ‘ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAHIS SHALIHIN. ASYHADU ALLAA ILAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUHU” (HR. Imam Bukhari)

Dari Ka’ab bin Ujrah berkata : “Maukah aku hadiahkan kepadamu sesuatu ? Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami, maka kami berkata : ‘Ya Rasulullah kami sudah tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, lantas bagaimana kami harus bershalawat kepadamu? Beliau berkata : ucapkanlah “ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID. ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BARAKTA ‘ALAA AALI IBRAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.”

11. Salam

Nabi SAW mengucapkan salam dengan menoleh ke kanan seraya mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”, sehingga terlihat pipi kanannya yang putih. Juga menoleh ke kiri seraya mengucapakan “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”, sehingga terlihat pipi kirinya yang putih.(HR. Imam Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi).

12. Tertib

Tertib, maksudnya sesuai dengan urutannya. Sesuai dari awal hingga akhir. Kalau misalkan ada yang mendahulukan Alfatihah sebelum doa iftitah, maka itu namanya tidak tertib. Kalau dalam istilah antrian, tertib artinya sesuai dengan nomor urutnya.