Semangat Belajar Dan Nasehat Imam Syafi'i
Semangat Belajar Dan Nasehat Imam Syafi'i

Semangat Belajar Dan Nasehat Imam Syafi'i

Nasehat Imam Ayafi'i
Terkadang, malas dan bosan. Sewaktu-waktu menjadi musuh yang tak siinginkan untuk datang ketika kita mau belajar. Semangat belajar jadi hilang, hanya gara-gara penyakit yang bernama malas.

Semangat belajar tentu diperlukan bagi kita yang ingin mendalami sebuah ilmu. Contohnya, sebut saja Imam Syafi'i. Seorang imamussunnah, imam Ahlussunnah Wal Jamaah, yang sudah tidak diragukan lagi akan keilmuannya. Meskipun yatim, beliau mempunyai semangat belajar yang tinggi.

Beliau bernama Muhammad Bin Adris Asy Syafi'i, disebut juga Abu Abdillah. Lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Beliau termasuk keturunan Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Imam Syafi'i berkata "saya seorang yatim yang tinggal dengan ibu. Ibuku menyerahkan saya ke Kuttab (sekolah yang ada di masjid). Ibu saya tidak memiliki sesuatu, yang bisa diberikan kepada pengajar sebagai upahnya karena mengajari saya. Saya mendengar darinya hadits atau pelajaran. Kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka, setiap menemukan tulang putih saya mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila tulisannya sudah penuh. Saya menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.[Ibnu Abdil Bar, Jami'ul Bayanil 'Ilmi Wa Fadhlihi. 1/98]

Nasehat Imam Syafi'i, yang begitu masyhur ditelinga kita. Yakni :

Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya. Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.

Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya. Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu.

Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian. Pengagum ilmu akan selalu berusaha baik dalam keadaan telanjang dan berpakaian.

Jadikanlah bagi dirimu bagian yang cukup dan tinggalkan nikmatnya tidur. Mungkin suatu hari kamu hadir di suatu majelis menjadi tokoh besar di tempat majelsi itu. [Kaifa Turabbi Waladan Shalihan, Al-Maghrbi bin As-Said Al-Maghribi, Darul Haq]
Admin
Karena belajar adalah kewajiban, menulis untuk mengabadikan, menyebarkan merupakan kebaikan.