banner

Sejarah Kelahiran Majapahit, Tak Lepas Dari Peran Sumenep

Sejarah Kelahiran Majapahi
sejarahlengkap.com

Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.

Sumenep, sebagai salah satu kota di ujung timur pulau Madura, mempunyai peran penting dalam kelahiran Majapahit. Soengenep (nama tempo dulu) meliputi wilayah Madura sekarang sudah eksis sebagai sebuah kota jauh sebelum masa pemerintahan Kertanegara di Singosari.

Adanya beberapa penguasa pemerintahan lokal yang menyetorkan upeti pada pemerintahan raja-raja Singosari sebelum Kertanegara. Prasasti Mula Malurung, juga menceritakan tentang Ranggawuni atau Wisnuwardhana yang pernah mengangkat 9 anaknya untuk memerintah di beberapa kerajaan yang saat itu menjadi daerah kekuasaannya. Kesembilan anak tersebut di antaranya ditempatkan di Dhaha dan Soengenep. Tetapi sayangnya dua lempengan prasasti Mula Malurung yang ditemukan sekitar tahun 1972 hilang, sehingga sejarah Sumenep sebelum masa Arya Wiraraja sulit untuk digali lebih jauh. Dua lempengan prasasti itu hilang sehingga nama penguasa Madura sebelum Arya Wiraraja tidak diketahui.

Tokoh Arya Wiraraja sendiri bukan tokoh fiktif, riwayatnya ada dalam berbagai prasasti, salah satunya Prasati Kudadu. Dalam ilmu sejarah, bukti tertua adalah prasasti, sebelum sumber-sumber yang lain seperti babad dan kidung. nama tokoh Arya Wiraraja sendiri dijumpai di prasasti Penanggungan dan Mula Malurung. Selain itu Arya Wiraraja juga ditulis di Pararaton. Ada pula beberapa kidung yang menceritakan tentang Wiraraja, seperti Kidung Arsa Wijaya, Ranggalawe, Surandaka dan kidung Pamancangan.

Dari peristiwa itu, Wiraraja dan Raden Wijaya mengadakan persekutuan dengan berjanji kalau berhasil menundukkan Jayakatwang, Raja Kediri, bumi Jawa akan dibagi dua. Kemudian disusunlah strategi pura-pura takluk lalu diberikan tanah di Tarik dan orang-orang Soengenep, pasukan Arya Wiraraja yang membuka hutan Tarik, cikal bakal Majapahit.

Bukti sejarah menunjukkan sebelum kemudian Arya Wiraraja dinobatkan sebagai adipati pada 31 Oktober 1269 oleh Singosari, sudah ada pejabat lokal yang mengatur pemerintahan di Sumenep. Pemerintahan itu sekaligus menjalankan mandat untuk menyatukan beberapa pemerintahan di bawahnya agar tunduk pada kekuasaan Kertanegara.

Karena itu pemerintah Kabupaten Sumenep memperingati kedatangan Adipati Arya Wiraraja ke Soengenep sebagai hari jadi Sumenep. Hanya saja, peninggalan peniggalan atau prasasti sebagai bukti sejarah, hampir punah alias berhilangan dari sejarah peradaban kerajaan di Sumenep. Kalau ditanyakan peninggalannya, memang boleh dikatakan hampir tidak ada. Setelah Wiraraja berhasil membantu Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dia dipindahkan ke Lumajang. Justru di Lumajang ditemukan sisa-sisa peninggalan situs Wiraraja yang sekarang disebut Situs Biting, Kutorenon.
Sumber sejarah tentang Sumenep pada umumnya berasal dari babad Sumenep. Tetapi karena babad Sumenep ditulis jauh setelah masa Arya Wiraraja dengan rentang 400-500 tahun sesudahnya, cerita-ceritanya menjadi kabur.

Sebelum adanya naskah Negara Kertagama, tokoh Raden Wijaya, Hayam Wuruk, tidak pernah terdengar. Yang diketahui hanya Ciung Wanara dan Raden Sesuruh yang lebih dikenal sebagai legenda. Karena babad tanah Sumenep dan babad Tanah Jawa sama-sama ditulis sekitar abad ke-17 dengan bahan dongeng-dongeng yang disampaikan dari mulut ke mulut saja. Baru setelah akhir abad ke-20, ketika ilmu-ilmu prasasti sudah dikuasai oleh ahlinya dan lontar Negara Kertagama ditemukan, disusunlah situasi kerajaan pada masa Majapahit.