Buruknya Meminta Kekuasaan
Buruknya Meminta Kekuasaan

Buruknya Meminta Kekuasaan

Gila jabatan kekuasaan
Ketika ada orang meminta kekuasaan. Maka, pada saat itu hilanglah kewibaannya, menurun pamornya, dan berkurang karismatiknya. Kekuasaan adalah keinginan banyak orang. Maka tak heran jika banyak orang berlomba dan melakukan berbagai macam cara untuk meraih kekuasaan.

Orang yang meminta jabatan, apalagi sampai ngemis-ngemis, terlebih-lebih mengancam. Maka orang-orang akan mencapnya sebagai gila jabatan. Tidakkah mereka khawatir akan beban berat yang akan mereka pikul.

Tak sedikit pemimpin yang gila kekuasaan meski ia gagal memimpin karena banyak tujuan yang tak tercapai, ia tetap merasa layak memimpin bahkan mencari kekuasaan lain yang bisa memenuhi arogansinya.

Suatu ketika, Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi bertemu dengan Presiden Mesir, Husni Mubarok. Dengan nasehatnya ia berpesan: "Jika di kepala anda terbenak ingin menjadi pemerintah. Maka janganlah meminta kekuasaan, sebab ia akan menjadi beban bagi anda" 

Masih ingatkah kita dengan cerita Abu Musa Al Asy’ari? Hal ini sebagaimana tercantum dalam hadits Nabi. HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733

Abu Musa Al Asy’ari berkata, “Aku pernah masuk menemui Nabi bersama dengan dua orang dari keluarga pamanku. Maka salah seorang dari mereka berdua berkata, “Wahai Rasulullah, angkatlah kami untuk mengurusi sebagian yang telah Allah kuasakan kepadamu.” Dan yang satu lagi berkata seperti itu pula. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

إِنَّا وَاللَّهِ لاَ نُوَلِّى عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya kami, demi Allah tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada seorang pun yang memintanya, atau seorang pun yang sangat menginginkannya.”


Lihatlah, betapa indahnya nasehat Rasullullah Saw. Kepada sahabatnya. Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah. 

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.” (HR. Bukhari no. 7146 dan Muslim no. 1652)


Nafsu syahwat, bisa membuat lupa diri. Ambisi dengan kekuasaan, menunjukkan betapa buruknya seseorang. Segala cara mereka tempuh, tanpa peduli lagi dengan halal dan haram. Ingin menjatuhkan lawan dengan cara yang tidak benar. Orang yang tidak mendukungnya, dianggap tidak benar. 

Nampaklah gambar-gambar mereka terpampang di setiap sudut jalan dengan kata-kata yang menggoda berharap agar mereka dipilih oleh masyarakat. Sungguh sial para pengemis kekuasaan. Mereka telah menghamburkan harta dimana-mana demi meraih kekuasaan untuk pesta demokrasi.