Syarat-Syarat Berqurban
Syarat-Syarat Berqurban

Syarat-Syarat Berqurban

Hewan qurban
Syarat-syarat berkurban :

1. Dari binatang ternak
2. Tidak bercacat
3. Telah mencapai usia yang telah ditentukan
4. Hewan qurban adalah miliknya
5. Hewan Qurban Tidak ada kaitan dengan hak orang lain
6. Disembelih pada waktu yang telah ditentukan

Syarat yang pertama:

Kenapa Harus dari golongan binatang ternak? Hal ini berdasarkan dengan firman Allah Swt

( وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُواْ اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِّن بَهِيمَةِ الاَْنْعَامِ )

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka”. (QS. al Hajj: 67)

Beberapa binatang ternak diantaranya adalah sapi dan kambing, hewan ternak ini sudah lumrah di masyarakat Indonesia. Sedangkan di Arab yang lumrah adalah hewan ternak Unta.

Syarat yang Kedua:

Hewan tersebut mencapai usia tertentu yang telah disyari’atkan berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

" لا تذبحوا إلا مسنة إلا أن تعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن " . رواه مسلم .

“Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, namun jika kalian sulit mendapatkannya maka sembelihlah jadza’ah dari kambing”. (HR. Muslim)

Ketentuan umur hewan qurban adalah sebagai berikut [Fiqh Islam Sulaiman Rasjid Hal 476]:
- Domba telah berumur 1 tahun lebih
- Kambing yang telah berumur 2 tahun
- Untah berumur 5 tahun lebih
- Sapi, kerbau, dan semacamnya berumur 2 tahun lebih

Syarat yang Ketiga:

Hewan kurban harus tidak bercacat yang menjadikannya tidak boleh dijadikan hewan kurban, Rasulullah Saw  bersabda:

" أربعاً : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقى ". رواه مالك في الموطأ من حديث البراء بن عازب

“Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban. pincang yang jelas, yang buta sebelah, sakit yang jelas sakitnya, yang sangat kurus”. (HR. Malik di dalam Al Muwatha’  dari hadits al Barra’ bin ‘Azib. Lihat pula Fiqh Islam Sulaiman Rasjid, Hal.476).

Syarat yang keempat:

Hewan qurban harus menjadi milik qurbani sepenuhnya, tidak sah berkurban dengan hewan yang bukan miliknya, seperti : hasil ghasab, mencuri, mengambil paksa dengan alasan yang bathil. Kurbannya wakil sah, jika sudah mendapatkan restu dari pemilik harta.

Syarat yang kelima:

Hewan tersebut tidak berkaitan dengan hak orang lain, dan tidak sah berkurban dengan harta yang digadaikan.

Syarat yang keenam:

Disembelih pada waktu yang telah ditentukan oleh syari’at, yaitu; mulai setelah shalat idul adha sampai terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzul Hijjah atau akhir hari tasyrik.

 Jika hewan qurban disembelih sebelum shalat id atau setelah terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzul Hijjah, maka kurbannya menjadi tidak sah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

" من ذبح قبل الصلاة فإنما هو لحم قدمه لأهله وليس من النسك في شيء ".

 “Barang siapa yang berkurban sebelum shalat, maka sembelihannya menjadi makanan untuk keluarganya dan bukan ibadah (kurban) sama sekali”.

Jundub bin Sufyan al Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

" من ذبح قبل أن يصلي فليعد مكانها أخرى ".

“Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat, maka ia harus mengulanginya dengan hewan lain (setelah shalat)”.

Dibolehkan menyembelih hewan kurban pada siang ataupun malam hari, namun pada siang hari lebih utama, dan pada hari raya (tanggal 10 Dzul Hijjah) setelah shalat langsung lebih utama, dan setiap hari setelah tanggal 10 lebih baik dari berikutnya dengan dasar bersegera mengerjakan kebaikan.