banner

Memahami Lebih Jauh Makna Ta’aruf Dalam Islam

Ta’aruf Dalam Islam

Ta’aruf secara bahasa adalah diambil dari kata ta’arafa yata’arafu yang artinya saling mengenal. Dalam al-Quran surat al-Hujurat dijelaskan :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal …” [QS. al-Hujurat: 13].

Sebagian orang memahami makna Ta’aruf hanya sebagai proses sebelum menuju pernikahan. Padahal, Ta’aruf juga bisa berarti berkenalan dengan seorang teman, baik laki-laki maupun perempuan. Jadi, Ta’aruf tidak terbatas pada makna proses perkenalan pra nikah.

Islam mengajarkan kita agar saling mengenal baik antar suku, bangsa, Negara. Bahkan terhadap orang yang berbeda agama, kita diperintahkan untuk saling berta’aruf atau saling mengenal.Tatkala antar manusia atau antar suku dan bahkan antar negara tidak saling mengenal maka mereka akan saling mencurigai satu dan yang lainnya, sehingga akan timbul gesekan konflik yang akan merugikan, tapi tatkala mereka saling mengenal maka akan timbul rasa kasih sayang. Seperti pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang.

Ta’aruf dalam lingkungan sekolah misalnya, ketika memasuki tahun pelajaran baru diadakan perkenalan bagi siswa-siswi baru. Contoh lain seperti pawai Ta’aruf. Kesimpulannya, Ta’aruf mempunyai makna yang luas. Saling mengenal ini sendiri akan melahirkan suatu hal yang positif. Dimana dengan Ta’aruf antar sesama teman, saudara, guru, dsb. akan saling menyayangi yang pada ahirnya akan saling memberikan manfaat.

Lain halnya dengan pengertian Ta’aruf dengan lawan jenis (pra nikah). Taaruf  dalam hal ini merupakan proses perkenalan yang merupakan rangkaian dari menuju khitbah kemudian menuju kejenjang pernikahan. Terkadang hasil dari ta’aruf ini, dari salah satu pihak masih ada rasa kurang cocok.  Tidak ada cara khusus dalam masalah ta’aruf. Intinya bagaimana seseorang bisa menggali data calon pasangannya, tanpa melanggar aturan syariat maupun adat masyarakat.

Dalam berta’aruf. Masing-masing bisa saling menceritakan biografinya secara tertulis maupun secara lisan. Ta’aruf tidak harus melakukan pertemuan untuk saling cerita. Dengan tulisan juga bisa dilakukan. Apabila melakukan perkenalan dengan lisan atau saling bertemu, sebaiknya ada pihak ketiga, yaitu keluarganya yang menemaninya agar tidak terjadi fitnah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا
“Jangan sampai kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), karena setan adalah orang ketiganya.” [HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth].

Yang perlu diingat, bahwa tujuan ta’aruf betul-betul karena ada i’tikad baik, yaitu ingin menikah.  Setelah ta’aruf diterima, selanjutnya bisa dilakukan khitbah atau lamaran, kemudian ke jenjang pernikahan.