Makalah Tentang Akhlak : Sifat Dusta
Makalah Tentang Akhlak : Sifat Dusta

Makalah Tentang Akhlak : Sifat Dusta


Bohong atau dusta
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT yang telah memberikan kenikamatan kepada kita semua yaitu nikmat islam dan iman.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah Agama Islam.

Makalah tentang Sifat Dusta yang  kami sajikan berdasarkan berbagai sumber informasi, referensi.. Makalah ini di susun sebagai tugas dalam menempuh pendidikan. Sebagai bahan sarana dalam proses mencari ilmu. Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini. Semoga makalah tentang sifat dusta yang kami buat dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca sekalian dan dapat jadi bahan rujukan untuk semua kalangan.



BAB I
PENDAHULUAN

Kejujuran merupakan nikmat Allah Ta’ala yang teragung setelah nikmat Islam, sekaligus penopang utama bagi berlangsungnya kehidupan dan kejayaan Islam. Sedangkan sifat bohong merupakan ujian terbesar jika menimpa seseorang, karena kebohongan merupakan penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan kejayaan Islam.

Jauhilah Dusta, karena dusta merusak hakikat yang sebenarnya atas dirimu dan akan merusakpula kondisimu dan pandangan manusia terhadapmu. Pendusta akan menggambarkan sesuatu yang tiada seperti ada dan ayang ada seperti tiada. Kebenaran dikatakan sebagai kebatilan, kebatilan dikatakan kebenaran. Kebaikan dikatakan sebagai keburukan dan keburukan dikatakan kebaikan. Akhirnya hakikat sebenarnya tidak mampu ia kenali sebagai akibat atas kedustaannya.

Syariat agama sangat menaruh perhatian terhadap perilaku menyimpang yang berkait dengan dusta. Sebab dusta merupakan sumber dari perbuatan dosa. Bohong merupakan perilaku ingkar yang mudah beranak pinak dan pembuka jalan menuju kemaksiatan. Pada jaman Nabi terdapat kisah seorang yang tekun berbuat dosa dengan keahlian mencuri, spesialis judi dan hobi minuman keras ingin masuk Islam. Menanggapi maksud baik tersebut, Rasulullah berpesan  agar meninggalkan satu hal yakni tidak berbohong. Kesanggupan tidak berbohong tersebut ternyata merupakan hal yang sangat berat karena selalu menghantui pikiran tatkala kembali berniat jahat.  Ia merasa jika sesekali berbohong berarti telah mengkhianati janji kepada Rasulullah. Walhasil dengan menghindari perbuatan dusta, akhirnya mantan penjahat tersebut berubah menjadi muslim yang taat. Ia merasakan bahwa di balik pesan singkat Rasulullah terkandung sebuah hikmah yg sangat berharga.

Penyembuhan penyakit dusta dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan bercermin pada diri sendiri. Betapa sakit hati kita bila  dibohongi orang.  Menyadari bahwa  bohong merupakan perbuatan haram yang sangat merugikan baik bagi diri maupun orang lain merupakan cara jitu menghentikan perbuatan dusta. Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan  Ibnu Mas’ud bersabda: Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun menuju surga. Sungguh seseorang yang membiasakan jujur niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat sebagai pendusta. [HR.Bukhari dan Muslim].


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Dusta

Bohong atau dusta adalah sifat atau keadaan dari  sesuatu perbuatan/perkataan, yang tidak benar, tidak berdasarkan fakta,  tidak menepati  janji/kesepakatan atau tidak mengakui atau melanggar hak-hak pihak lain.
Sejenis dengan pengertian bohong, terdapat kata dusta/mendustakan (tidak mengakui), hianat/menghianati (tidak amanah/tidak menepati janji/curang), fitnah/memfitnah (menyebar berita bohong/tuduhan palsu) dan sebagainya.

Sifat Dusta Terbagi Dalam 3 Kategori

Perbuatan yang memiliki sifat bohong/dusta/khianat, dapat dibagi dalam 3 kategori, berdasarkan kepada firman Allah Ta’ala berikut ini:  
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.Q.S (Al-Anfaal [8] : 27)

1.      Mendustakan / berkhianat   kepada Allah SWT
Dusta / khianat yang terkait dengan  hak-hak Allah SWT, mengabaikan perintah dan larangan-Nya, tidak mensyukuri/mendustakan nikmat-Nya, sehingga  yang melakukan itu  termasuk orang-orang yang digolongkan kedalam:  kufur,  syirik, fasiq, ishyan.     Firman Allah swt: “Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya)” Q.S (An-Anaam [6]: 4)

2.      Mendustakan atau berkhianat  kepada Rasul saw.
Mendustakan/khianat kepada Rasul  adalah tidak percaya  terhadap misi yang dibawa Rasul, berhianat termasuk memalsukan hadits, pembuat bid’ah serta memuja/mengagung-agungkan mengkultuskan Nabi melebihi manusia biasa (sehingga dianggap sebagai anak Tuhan) dan sebagainya. Firman Allah Ta’ala: Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”  Maka tatkala Rasul itu (Muhammad) datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (As-Shaf  [61] : 6)

3.      Mengkhianati amanah  (kepercaan) diantara sesama manusia  
Dusta  khianat fitnah yang terkait dengan  hak-hak sesama manusia, seperti harta, kehormatan, kepercaayaan dan sebagainya.
Perbuatan seperti sumpah palsu, pemalsuan, penipuan, merusak rasa keadilan/lingkungan/tatanan kehidupan, merugikan orang lain/masyarakat dan lainnya, sudah biasa terjadi  bahkan semuanya bisa terjadi dan bersatu dalam diri seseorang yang disebutkoruptor.

Rasulullah SAW telah menyampaikan risalahnya berupa peringatan serta petunjuk seperti yang  terdapat di dalam Al-Qur’an serta As-Sunnah diantaranya: Dan barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata” Q.S (An-Nisa : 112) 

B.     Faktor-Faktor Terjadinya Dusta
Adapun faktor-fktor pendorong terjadinya dusta, yaitu:
 1.   Tipisnya rasa takut kepada Allah Ta’ala.
2.   Usaha memutarbalikkan fakta dengan berbagai motifnya baik untuk melariskan barang dagangan, melipatgandakan keuntungan atau yang lain.
3.   Mencari perhatian, seperti ikut dalam seminar dan diskusi dengan membawakan trik-trik dan kisah-kisah bohong menarik supaya para peserta terpesona.
4.   Tiadanya rasa tanggung jawab dan berusaha lari dari kenyataan hidup.
5.   Kebiasaan berdusta sejak kecil, baik karena pengaruh kebiasaan orang tua atau lingkungan tempat tinggalnya.
6.   Merasa bangga dengan kebohongannya, karena ia menganggap kebohongan itu suatu kecerdikan, kecepatan daya nalar dan perbuatan baik.

C. Dusta dalam kehidupan Sehari-hari

Ungkapan seseorang: “Telah saya katakan kepadamu seribu kali, masa belum paham juga.” Ungkapan di atas tidak menunjukkan jumlah bilangannya, tetapi untuk menguatkan maksud. Jika ia hanya mengatakannya sekali, maka ia telah berdusta. Tetapi jika ia mengatakannya berkali-kali walaupun belum sampai hitungan seribu kali, maka ia tidak berdosa.
Seseorang berkata kepada temannya: “Silakan dimakan,” lalu dijawab: “Terimakasih, saya sudah kenyang atau saya tidak bernafsu.” Hal-hal semacam itu dilarang (haram) jika tidak mengandung tujuan yang benar. Ahli wira’i (orang-orang yang senantiasa memelihara dirinya dari unsur haram) sangat membenci basa-basi semacam ini.

Berdusta dalam memberitakan mimpi, padahal dosanya besar sekali. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang yang mengaku (bernasab) kepada selain bapaknya, atau bercerita tentang mimpi yang tak pernah ia lihat, serta meriwayatkan atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sesuatu yang tidak pernah beliau katakan.” (HR. Al-Bukhari) 
Mengelabuhi anak kecil dengan memanggilnya untuk diberi sesuatu, padahal ia tidak memiliki apa-apa. Misalnya, seseorang berkata: “Nak kemari, bantu bapak ya, nanti bapak kasih duit,” tetapi kemudian ia tidak memberinya apa-apa.
Menceritakan segala hal yang ia dengar.
Cukuplah seseorang disebut pendusta, jika ia menceritakan segala hal yang ia dengar”(HR. Muslim).

Padahal sangat mungkin terjadi kekeliruan dalam pemberitaannya, karena ia tidak mengecek terlebih dahulu, tapi biasanya ia berdalih: “Ini berdasarkan yang saya dengar”. Bagaimana jika berita itu tentang tuduhan zina? Apa ia tetap menyebarluaskannya tanpa bukti yang nyata? Adakah di antara kita rela didakwa zina semacam ini?
6.      Berkata atau bercerita bohong yang lucu, agar massa pendengarnya tertawa.
“Neraka Wail (kehancuran) bagi orang yang berbicara kemudian berdusta supaya pendengarnya tertawa. Wail baginya, sungguh Wail sangat pantas baginya”. (HR. Bazzar)

Penyembuhan Penyakit Dusta/Bohong

Jika  ingin mengerti keburukan sifat dusta dari diri kita sendiri, maka perhatikan kebohongan orang lain, niscaya kita membencinya, merendahkan dan mengecamnya. Setiap muslim wajib memperbaharui taubat dirinya dari segala dosa dan kesalahan. Demikian pula ia wajib mencari dan memelihara berbagai macam sebab yang bisa membantunya dalam meninggalkan dan menjauhi sifat yang tidak terpuji ini. Di antara sebab-sebab tersebut adalah:

  • Pengetahuan sang pelaku tentang keharaman dusta, siksanya yang berat dan selalu mengingat dalam setiap hendak berbicara.
  • Membiasakan diri dalam memikul tanggung jawab dalam segala hal yang benar dan berbicara jujur, apapun resikonya.
  • Memelihara kata-katanya dan senantiasa mengoreksinya.
  • Mengubah tempat-tempat berdusta menjadi tempat-tempat ibadah, dzikir dan mempelajari ilmu.
  • Hendaknya para pembual tahu, mereka telah menyandang salah satu sifat orang-orang munafik karena dustanya.
  • Hendaknya mereka juga memahami, dusta merupakan jalan menuju kemungkaran yang nantinya bermuara di Neraka, sedangkan jujur menuntun pelakunya ke Surga.
  • Hendaknya ia mendidik anak-anaknya secara Islami dan benar, mambiasakanmereka selalu jujur di setiap ucapan dan tindakannya serta senantiasa jujur di hadapan mereka.
  • Hendaknya ia mengerti, kepercayaan relasinya akan berkurang karena kebohongan-kebohongannya, bahkan bisa luntur sama sekali.
  • Hendaknya ia memahami, kebohongannya itu sangat membahayakan orang lain.





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

  • Bohong adalah sifat atau keadaan dari  sesuatu (perbuatan/perkataan), yang tidak benar, tidak berdasarkanfakta,  tidak menepati  janji/kesepakatan atau tidak mengakui atau melanggar hak-hak pihak lain.
  • Perbuatan seperti sumpah palsu, pemalsuan, penipuan, merusak rasa keadilan/lingkungan/tatanan kehidupan, merugikan orang lain/masyarakat dan lainnya, sudah biasa terjadi  bahkan semuanya bisa terjadi dan bersatu dalam diri seseorang
  • Perbuatan yang memiliki sifat dusta, dapat dibagi dalam 3 kategori, berdasarkan kepada firman Allah Ta’ala yaitu: mendustakan/berkhianat   kepada Allah SWT, mendustakan atau berkhianat  kepada Rasul SAW, mengkhianati amanah  (kepercayaan) diantara sesama manusia


DAFTAR PUSTAKA

Kitab Al Kadzib, Karya Saikh Abdul Malik Qashim (bit tasharruf wa ziyadah AM. Afkar/alsofwah)

Zaky Ahma Fahreza. MENGINSTAL JUJUR “Agar Jujur Kebiasaan dan Supaya Dusta Jadi Pantangan”. 2011. Klaten Jateng: INAS MEDIA

Ibnu Taimiyah. A’mal al-qulub au Maqamat wa al-Ahwal. 2007. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi
Admin
Karena belajar adalah kewajiban, menulis untuk mengabadikan, menyebarkan merupakan kebaikan.