Keutamaan Melaksanakan Ibadah Qurban
Keutamaan Melaksanakan Ibadah Qurban

Keutamaan Melaksanakan Ibadah Qurban

Keutamaan Melaksanakan Ibadah Qurban
Sebelum membahas keutamaan berqurban. Alangkah baiknya kita mengulang sejenak dan memahami apa pengertian dari qurban itu sendiri.

Qurban istilah lainnya adalah Udhhiyah. Namun masyarakat kita jarang menyebut istilah ini, sehingga mungkin sebagian besar dari kita masih terasa asing dengan istilah Udhhiyah

Dalam Fiqih Sunnah, Udh-hiyah diartikan sebagai hewan ternak yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut [Shahih Fiqih Sunnah II/366]

Perintah berqurban ini terdapat dalam Al Quran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” [QS. Al Kautsar: 2].

Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan. Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied”. [Taudhihul Ahkaam IV/450. Shahih Fiqih Sunnah II/366].

Keutamaan Qurban

Menyembelih qurban termasuk amal shalih yang paling utama. Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim. Taudhihul Ahkam, IV/450]

Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah [ Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521]


Ibadah qurban sangatlah ditekankan dalam Ajaran Islam sebagai bentuk ketaatan kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan untuk menyebarkan rahmat Alloh kepada sesama manusia, agar yang mampu dapat berbagi kepada yang tidak mampu, sehingga yang tidak mampu juga dapat merasakan manfaat dari keberadaan orang diberikan kemampuan oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

Makna hakiki dari pelaksanaan qurban adalah, menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita, karena boleh jadi wujud kita manusia, tapi bermentalkan kerbau, sapi, kambing dll. Sifat-sifat itulah yang harus kita sembelih untuk selanjutnya kita jadikan kendaraan ruhani menuju Ridho Alloh Subhanahu wa Ta'ala. 

Menyembelih bukan berarti mematikan jiwa, karena jiwa tidak dapat mati. Menyembelih berarti mentransfer jiwa ke alam ruhaniah, sehingga jiwa dapat terbebas dari ikatan badan (jasad). Firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala :

Artinya, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." [QS. Al Hajj (22) : 37]

Maka dari itu berbahagialah kiranya yang sudah bisa berqurban, semoga kita menjadi hamba-hamba yang bertaqwa yang selalu siap berqurban. Mengorbankan harta, waktu, tenaga, dan pikiran demi kemaslahatan umat. Mengorbankan harta, waktu, tenaga, dan pikiran dalam rangka mentaati perintah Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

Selain memiliki keutamaan, qurban juga merupakan perintah dalam islam.

Hukum berqurban sendiri terbagi dua pendapat:

Pendapat pertama hukum qurban adalah wajib

Wajib yang dimaksud disini adalah wajib bagi orang yang berkelapangan atau mampu. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta sebagian ulama pengikut Imam Malik,

Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu” [Syarhul Mumti’, III/408]

Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” [HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672]

Pendapat kedua hukum qurban adalah Sunnah Mu’akkadah.

Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama Maliki, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” [HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi].

Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” [HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi]

Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” [Shahih Fiqih Sunnah, II/367-368, Taudhihul Ahkaam, IV/454]

selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam. [Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120]

Bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” [HR. Al Bukhari 1374 & Muslim 1010]