Beasiswa

Sejarah Perkembangan Ilmu Tajwid

Sejarah Kemunculan Ilmu Tajwid

Salah satu riwayat yang menjelaskan tentang tata cara membaca al-Qur`an dengan baik dan benar adalah riwayat yang disampaikan oleh Musa Ibn Yazid al-Kindi, ia berkata;

كان ابن مسعود يقرئ القرأن رجلا فقرأ الرجل: انما الصدقت للفقراء والمسكين, مرسلة, فقال ابن مسعود: ما هكذا أقرأنيها رسول الله, قال: كيف أقرأكها يا أبا عبد الرحمن؟ قال: أقرأنيها: انما الصدقت للفقراء والمسكين, فمدّها.

“Ibn Mas’ud mengajarkan al-Qur`an kepada seseorang, lalu orang itu membaca انما الصدقت للفقراء والمسكين (at-Taubah:60) dengan memendekkan lafadz al-fuqara, maka Ibn Mas’ud berkata: ‘tidak seperti itu Rasulullah mengajarkan bacaan kepadaku’. Orang itu bertanya: ‘Bagaimana beliau mengajarkan qiraah kepadamu, wahai Abu Abdurrahman?’ Ibn Mas’ud menjawab: ‘Beliau membacakannya kepadaku انما الصدقت للفقراء والمسكين yaitu dengan memanjangkan lafadz al-fuqara. [1]

ilmu tajwid
Berdasarkan riwayat tersebut, dapat diketahui bahwa cara membaca al-Qur`an dengan benar telah ada sejak awal diajarkan oleh Rasulullah Saw, sehingga jika dilihat dari sisi ‘amaliyahnya, peletak dasar ilmu tajwid ini adalah Rasululullah Saw. 

Dilihat dari sisi nazhariah, peletak dasar ilmu tajwid para ulama berbeda pendapat tentang orang yang pertama kali meletakkan dasar-dasar ilmu tajwid. Ada yang mengatakan Abul Aswad ad-Duali, ada yang berpendapat Abu Ubaid al-Qasim bin Salam. Ada juga yang berpendapat al-Khalil bin Ahmad. Sedangkan pendapat yang kuat untuk peletak dasar ilmu tajwid adalah Abu Muzahim Musa bin Ubaidillah al-Khaqani dengan karyanya yang dikenal dengan nama al-Qashidah al-Khaqaniyah.[2] 

Pendapat ini salah satunya dipegang oleh Ibn al-Jazari yang mengatakan:

هو أوّل من صنّف في التجويد[3]

“Dia (Abu Muzahim al-Khaqani) adalah orang yang pertama kali menulis tentang tajwid.”

Tulisan Abu Muzahim sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu tajwid pada masa-masa selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya ulama-ulama yang menulis karya tentang ilmu tajwid, seperti:

- Kitab at-tanbih ‘ala al-lahnil Jali wal Lahnil Khafi, karya Abul Hasan Ali bin Ja’far bin Muhammad as-Sa’idi ar-Razi (w. 410 H).

- Kitab ar-Ri’ayah li Tajwidil Qira`ah wa Tahqiqi Lafdzi at-Tilawah, karya Abu Muhammad Makki bin Abu Thalib al-Qaisi (w. 437 H).

- Kitab at-Tahdid fil Itqan wat Tajwid, karya Abu Amr Utsman bin Sa’id ad-Dani (w. 444 H).

Sejarah Perkembangan Ilmu Tajwid

Seiring dengan perkembangan zaman, pencetakan al-Qur`an semakin banyak. Salah satunya dalam pencetakan al-Qur`an juga menyentuh ranah ilmu tajwid. Menurut Ingrid Mattson[4], pada awal 1990-an, inovasi penting dalam bidang pencetakan mushaf menyebar cepat di seluruh dunia Islam. Inovasi itu adalah penemuan sistem penulisan huruf dalam warna yang berbeda untuk menandakan bunyi yang dikehendaki ilmu tajwid. 

Sistem ini dikembangkan oleh seorang insinyur Syiria yang belajar tajwid kepada seorang ulama di Damaskus. Buku tajwid Qur`an telah disahkan secara resmi oleh para ulama al-Azhar di Kairo dan diterbitkan oleh Dar al-Ma’rifah. Tajwid Qur`an ini lebih mudah diakses dan digunakan dibandingkan dengan teks-teks abad pertengahan seperti karya al-Dani, al-Syatibi, Ibn al-Jazari, dll.

Di Indonesia, perkembangan produksi mushaf muncul sejak awal tahun 2000-an, ketika teknologi computer semakin maju dan dimanfaatkan oleh para penerbit. Perubahan itu sangat mencolok dalam hal kaligrafi teks mushaf.[5] Salah satunya adalah pewarnaan pada teks al-Qur`an berkaitan dengan tajwid. Hal ini bertujuan untuk menuntun para pembaca al-Qur`an yang masih awam dalam ilmu tajwid, dengan memberi warna tertentu terkait hukum bacaan dalam ilmu tajwid.[6]

Dalam dunia modern, kajian ilmu tajwid juga sering dihubungkan dengan fonetik dan fonologi al-Qur`an. Fonetik adalah ilmu yang membicarakan masalah bunyi tanpa memperhatikan fungsi dan makna yang dikandung oleh bunyi itu. Bunyi dipelajari sebagai suatu gejala alami, contoh kajiannya adalah membahas organ bicara, makhraj dan sifat bunyi.[7]

Sedangkan fonologi adalah ilmu bunyi yang membahas tentang bunyi bahasa tertentu dengan mempertimbangkan fungsi dan makna yang dikandungnya. Contoh kajiannya adalah modifikasi bunyi: idgham, ikhfa, imalah, isymam, panjang-pendek, dan waqaf.[8]

__________________________
[1] Muhammad Nashiruddin al-Albani,Silsilah al-Ahadits as-Shahihah jilid 5 hadis nomor 2237, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, t.th), hlm. 279
[2] Abu Ya’la Kurnaedi, Tajwid Lengkap asy-Syafi’I, hlm. 41
[3] Ghanim Qadduri al-Hamad, Abhats fi ‘Ilm at-Tajwid, (Oman: Dar ‘Ammar, 2001), hlm. 23
[4] Ingrid Mattson, Ulumul Qur`an Zaman Kita, hlm. 194
[5] Hamam Faizin, Sejarah Pencetakan al-Qur`an, (Yoyakarta: Era Baru Pressindo, 2012), hlm. 156
[6] Hamam Faizin, Sejarah Pencetakan al-Qur`an, hlm. 157
[7] Ahmad Sayuti Anshari Nasution,Fonetik dan Fonologi al-Qur`an, (Jakarta: Amzah, 2012), hlm. 2
[8] Ahmad Sayuti Anshari Nasution,Fonetik dan Fonologi al-Qur`an. hlm. 3

Demikianlah artikel tentang Sejarah Perkembangan Ilmu Tajwid. Semoga bermanfaat.