banner

Hukum Mad Dan Macam-Macam Pembagiannya

Hukum Mad
Dalam ilmu tajwid, terdapat pembahasan bab yang mempelajari hukum bacaan madd. Dengan mempelajari hukum bacaan mad dapat mengetahui apa hukum bacaan tersebut dan mengetahui seberapa harakat bacaan tersebut. Apa itu Mad? Ada berapa pembagian mad? Baca : Contoh-contoh dan hukum bacaan idgham

Pengertian Mad

Arti dari mad adalah memanjangkan suara suatu bacaan. Huruf mad ada tiga yaitu :  ا  و ي 

Mad menurut bahasa adalah الزِّيَادَةُ yang artinya Bertambah.[Matan Al-Jazariah] Ada juga yang mengartikan Mad menurut bahasa Mad artinya Panjang. 

Pengertiam Mad menurut istilah adalah Memanjangkan bacaan menurut aturan-aturan tertentu dalam Al-Qur’an. 

Mad merupakan ibarat dalam memanjangkan bacaan menurut huruf-huruf tertentu. Pengibaratan dari panjangnya waktu suara huruf dan tambahnya suara disaat bertemu Hamzah dan Sukun. [Lihat dalam kitab Tuhfatul Athfal]

Hukum Pembagian macam macam Mad

Secara garis besar Mad terbagi menjadi 2 bagian yaitu, Mad Ashli (Mad Thabi’i) dan Mad Far’i. Kemudian mad tersebut terbagi menjadi beberapa bagian. Kalau di jumlahkan, semuanya ada 15 macam.

Nadzaman :

وَالْمَدُّ أَصْلِيٌّ زَفَرْعِيٌّ لَهُ # وَسَمِّ أَوَّلًاطَبِيْعِيًّا وَهُوَ
مَالَاتَوَقُّفٌ لَهُ عَلَى سَبَبْ # وَلَابِدُوْنِهِ الْحُرُوْفُ تُجْتَلَبْ
بَلْ أَيُّ حَرْفٍ غَيْرِ هَمْزٍأَوْسُكُوْنٍ # جَابَعْدَ مَدٍّ فَالطَّبِيْعِيَّ يَكُوْن

“Mad ada 2 yaitu ashli dan far’i. Mad ashli sering disebut mad thabi’i. Mad ashli tidak membutuhkan sebab. Tidak akan berdiri tanpa huruf mad. Setelah mad ashli selalu ada huruf selain Hamzah dan huruf bersukun.”

1. Mad Ashli / Mad thobi’i adalah memanjangkan bacaan di karenakan ada huruf mad ( ا , و , ي), dan tidak ada sebab yang dapat mengubah keasliannya. atau Definisi lain Terjadi apabila :huruf berbaris fathah bertemu dengan alif , huruf berbaris kasroh bertemu dengan ya mati atau huruf berbaris dhommah bertemu dengan wawu mati. Panjang bacaanya 2 harakat.

2. Mad Wajib Muttashil adalah setiap mad thobi’i bertemu dengan hamzah dalam satu kata. Cara membacanya wajib panjang sepanjang 5 harakat atau dua setengah kali mad thabi’i Panjang bacaanya 2 harakat.

3. Mad Jaiz Munfashil Yaitu setiap mad thobi’i bertemu dengan hamzah dalam kata yang berbeda. (Jaiz artinya: boleh. Munfashil artinya terpisah) Panjangnya adalah 2, 4, atau 6 harokat (1, 2, atau 3 alif).

Bacaan Mad Jaiz Munfashil dibaca panjang 6 harokat atau 3 alif karena Mad Thobi`i bertemu dengan hamzah dalam dalam kata yang berbeda.

4. Mad Aridh Lisukuun Yaitu setiap mad thobi’i bertemu dengan huruf hidup dalam satu kalimat dan dibaca waqof (berhenti). Panjangnya adalah 2, 4, atau 6 harokat (1, 2, atau 3 alif). Apabila tidak dibaca waqof, maka hukumnya kembali seperti mad thobi’i.

Bacaan Mad Aridh Lisukuun dibaca panjang 6 harokat atau 3 alif karena Mad Thobi`i bertemu dengan huruf hidup dalam satu kalimat dan dibaca waqof (berhenti). Jika diwashol menjadi Mad Thobi`i.

5. Mad Badal Yaitu mad pengganti huruf hamzah di awal kata. Lambang mad madal ini biasanya berupa tanda baris atau kasroh tegak. Cara membaca Mad Badal adalah di panjangkan 2 harakat (1 alif) karena pengganti huruf hamzah di awal kata.

6. Mad ‘Iwad adalah mad yang terjadi apabila pada akhir kalimat terdapat huruf yang berbaris fathatain dan dibaca waqof. Panjangnya 2 harokat (1 alif). Mad 'iwad terjadi jika berhenti (waqaf) pada huruf yang berbaris fatha tain ( ً ). Kecuali pada huruf ta marbuthah ( ة ).

Cara membaca Mad 'iwadh adalah tanwin (an) di hilangkan dan di baca seperti fatha biasa (a) dengan panjang 2 harakat.

7. Mad Lazim Mutsaqqol Kalimi Yaitu bila mad thobi’i bertemu dengan huruf yang bertasydid. Panjangnya adalah 6 harokat (3 alif). Adapun Bacaan Mad Lazim Mutsaqqol Kalimi dibaca panjang 6 harokat atau 3 alif karena Mad Thobi`i bertemu dengan huruf yang bertasydid.

8. Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi adalah bila mad thobi’i bertemu dengan huruf sukun atau mati. Panjangnya adalah 6 harokat (3 alif). | Bacaan Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi dibaca panjang 6 harokat atau 3 alif karena Mad Thobi`i bertemu dengan huruf sukun.

9. Mad Lazim Mukhaffaf Harfi : terjadi apabila membaca huruf-huruf tunggal yand di eja (di baca nama hurufnya) pada awal surah-surah dalam Al-Qur’an. 

Mad Lazim Mukhaffaf Harfi Kadar panjang bacaannya: 6 harakat dan tidak disertai dengan Idgham kecuali huruf ع yang boleh dibaca dengan 4 atau 6 harakat. Huruf-hurufnya adalah: ن ق ص ع س ل ك م

10. Mad Lazim Muthaqqal Harfi : mad yang terdapat pada huruf-huruf tertentu yang di eja di permulaaan surah , dan dari suara ejaan tersebut terdapat mad yang di ikuti mim atau nun sukun dan kemudian bertemu dengan mim. Mad Lazim Muthaqqal Harfi di idghamkan dan di baca panjang 6 harakat.

11. Mad Silah Tawilah adalah mad yang terjadi jika “ha dhamir” (kata ganti) bertemu huruf hamzah yang berbaris dan huruf sebelum "ha dhamir" tersebut juga berbaris. Cara membaca  kadar panjang bacaannya adalah 4 atau 5 harakat karena “ha” dhomir bertemu dengan hamzah.

12. Mad Shilah Qashiroh adalah mad yang terjadi bila setelah "ha" dhomir terdapat huruf selain hamzah. Dan biasanya mad ini dilambangkan dengan baris fathah tegak, kasroh tegak, atau dhommah terbalik pada huruf "ha" dhomir. atau mad yang terjadi apabila “ha dhamir” (kata ganti) berada di antara dua huruf yang berbaris ( bukan huruf mati)..

Bacaan Mad Shilah Qashiroh dibaca panjang 2 harokat atau 1 alif karena “ha” dhomir tidak bertemu dengan hamzah.

13. Mad Layyin yaitu Mad yang terjadi di huruf berbaris atas (fathah dan dhomah) bertemu dengan huruf ya ( ي ) atau wau ( و ) bertanda sukun, sedangkan di depannya lagi ada satu huruf lagi yang di matikan karena waqaf (berhenti)..

Atau dalam bahasa penjelasan yang lebih mudah, adalah bacaan miring (lin) bertemu satu huruf yang di matikan karena waqof (berhenti). Mad Layyin terjadi hanya jika berhenti (waqaf). 

Cara membaca Mad Layyin adalah di panjangkan 2, 4 atau 6 harakat jika anda bertanya jadi 2, 4 atau 6 harakat ? ya, anda boleh pilih yang mana saja, hanya saja anda harus konsisten pada pilihan pertama jika anda menemukan bacaan serupa hingga akhir bacaan.

14. Mad Tamkin adalah mada yang terjadi bila 2 buah huruf ya bertemu dalam satu kalimat, di mana ya pertama berbaris kasroh dan bertasydid dan ya kedua berbaris sukun/mati. Panjangnya 2 – 6 harokat (1 – 3 alif). Mad ini terjadi bila : huruf berbaris fathah bertemu wawu mati atau ya mati, kemudian terdapat huruf lain yang juga mempunyai baris. Mad ini terjadi di akhir kalimat kalimat yang dibaca waqof (berhenti).

Bacaan Mad Tamkin dibaca panjang 6 harokat atau 3 alif karena 2 buah huruf “ya” bertemu dalam satu kalimat, di mana ya pertama berbaris kasroh dan bertasydid dan ya kedua berbaris sukun/mati.

15. Mad Farqu terjadi bila mad badal bertemu dengan huruf yang bertasydid dan untuk membedakan antara kalimat istifham (pertanyaan) dengan sebutan/berita. Panjangnya 6 harokat. Dinamakan mad farq karena untuk membedakan bahawa hamzah tersebut adalah hamzah untuk bertanya.

Bacaan Mad Farqu dibaca panjang 6 harokat atau 3 alif karena mad badal bertemu dengan huruf yang bertasydid dan untuk membedakan antara kalimat istifham (pertanyaan) dengan sebutan/berita.


Lafadz Yang Tidak Boleh Dibaca Mad

Ada beberapa bacaan yang tidak dibaca Mad meskipun bacaan tersebut mengandung huruf Mad atau memenuhi syarat dihukumi Mad. Bacaan atau lafadz tersebut biasanya ditandai dengan tanda kecil berbentuk bulat atau lonjong diatas huruf yang tidak boleh dibaca panjang (Tanda shifir)

1. Shifir Mustadir

Shifir Mustadir merupakan tanda kecil berbentuk bulat yang terletak diatas suatu huruf yang berfungsi sebagai tanda tambahan yang menunjukkan bahwa huruf tersebut tidak boleh dibaca panjang. Contohnya:

وَمَلَا۠ئِهِ , وَثَمُوْدَا۠ , اَفَا۠بِنْ

Lafadz di atas, huruf yang ada tanda shifir mustadir tidak dibaca Mad atau panjang, baik ketika diwashalkan maupun diwaqafkan. Jika bacaan dipanjangkan maka artinya juga akan berubah.

2. Shifir Mustathil

Shifir Mustatil merupakan tanda kecil berbentuk bulat panjang (lonjong) yang terletak diatas suatu huruf yang berfungsi sebagai tanda tambahan yang menunjukkan bahwa huruf tersebut tidak boleh dibaca panjang ketika washal tetapi dibaca panjang ketika waqaf. Contohnya:

أَنَا۠ , لٰكِنَّا۠ , اَلسَّبِيْلَا۠

Pada lafadz di atas, yaitu huruf yang ditandai dengan tanda shifir mustathil tidak boleh dibaca panjang ketika diwashalkan, tapi jika diwaqafkan maka harus dibaca panjang.