Cadar Dalam Pandangan Madzhab Syafi'i
Cadar Dalam Pandangan Madzhab Syafi'i

Cadar Dalam Pandangan Madzhab Syafi'i

hukum bercadar bagi wanita
Hukum cadar merupakan salah satu pembahasan yang menjadi ikhtilaf ulama. Dari sekian banyak pendapat ulama, namun selalu saja menjadi polemik di masyarakat ketika melihat seorang wanita mengenakan cadar.

Bahkan ada sebagian orang islam yang anti terhadap cadar. Hal ini pernah penulis temukan di media sosial saat ada seorang wanita mengupload gambar kata bijak tentang cadar. Lalu ada yang mengomentari dengan tidak setuju kalau wanita menggunakan cadar. 

Mengenai hukum cadar, dalam fikih Islam, terdapat berbagai pandangan para fuqaha terkait tafsir ayat dalam Al Qur'an surat an-Nur ayat 31 yang menjelaskan tentang hijab. Cadar dan hijab adalah dua hal yang berbeda namun ada kaitan didalamnya. 

Aurat Wanita Dan Hukum Cadar Menurut Madzhab Syafi'i

Mayoritas fuqaha berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat. Maka wanita boleh menutupinya dengan cadar dan boleh membukanya. Sementara dalam kalangan syafiiyah, aurat itu :


أَنَّ لَهَا ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاِة وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ، وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْاَجَانِبِ إِلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ


“ bahwa sesungguhnya perempuan memiliki tiga uarat. Pertama, aurat dalam shalat dan hal ini telah dijelaskan. Kedua aurat yang terkait dengan pandangan orang lain kepadanya, yaitu seluruh badannya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad." [1]

Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki bukan mahram adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ

“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yangmu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha”[2]

وَاخْتَلَفَ الشَّافِعِيَّةُ فِي تَنَقُّبِ الْمَرْأَةِ ، فَرَأْيٌ يُوجِبُ النِّقَابَ عَلَيْهَا ، وَقِيل : هُوَ سُنَّةٌ ، وَقِيل : هُوَ خِلاَفُ الأَوْلَى

" Dan terdapat perbedaan dalam Madzhab Syafi’i mengenai hukum memakai cadar bagi perempuan. Ada yang berpendapat hukum mengenakan cadar bagi perempuan adalah wajib. Pendapat lain menyatakan hukumnya adalah sunah. Dan ada juga yang menyatakan khilaful awla,” [3]

Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata: “Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” [4]

Pendapat Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi :

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” [5]

“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” [6]

“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” [7]

Para ulama sepakat bahwa berhijab bagi wanita itu wajib. Yang mereka perselisihkan adalah dalam masalah wajah dan kedua telapak tangan apakah wajib ditutupi atau tidak. 

______________________
[1] Hasyiyah asy-Syarwani, Bairut Dar al-Fikr, juz II, hlm. 112

[2] Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112

[3] Al Mawsu’atul Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah juz XLI, halaman 134

[4] Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, hlm. 411

[5] Fathul Qaarib, hlm. 19

[6] Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, Juz 3, hlm. 115

[7] Kifaayatul Akhyaar, hlm. 181