banner

Zakat, Infaq Shodaqah Dan Wakaf (Ringkasan)

Zakat, Infaq Shodaqah Dan Wakaf
Zakat, Infaq Shodaqah Dan Wakaf
(Ringkasan/Resume Artikel)

ZAKAT

1. Pengertian Zakat
Zakat menurut bahsa berarti al-barakatu (keberkahan), al-nama “pertumbuhan dan perkembangan”, ath-thaharatu “kesucian”, dan ash-shahalu “keberesan”. Sedangkan menurut istilah zakat adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu yang Allah SWT wajibkan kepada pemilik harta untuk diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Kewajiban mengeluarkan Zakat di jelaskan dalam Al-quran Surat Al-baqarah : 263 yang artinya “hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengamibilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

2. Fungsi Zakat
Perintah akan adanya Zakat guna untuk menyucikan dari harta yang dimiliki oleh seseorang. Penerapan sistem Zakat akan mempunyai berbagai implikasi di beberapa segi kehidupan, antara lain:
a. Memenuhi kebutuhan masyarakat yang kekurangan;
b. Memperkecil jurang kesenjangan ekonomi;
c. Menekan jumlah permasalahan sosial; kriminalitas; pelacuran; gelandangan; pengemis; dan lain-lain;
d. Menjaga kemampuan beli masyarakat agar dapat memelihara sektor usaha. Dengan kata lain zakat menjaga konsumsi masyarakat pada tingkat minimal sehingga perekonomian dapat terus berjalan
e. Mendorong masyarakat untuk berinvestasi, tidak menumpuk harta.

Manfaat individu dari zakat adalah bahwa ia akan membersihkan dan menyucikan mereka yang membayar zakat. Zakat akan membersihkan hati manusia dari sifat kekikiran dan cinta harta yang berlebihan, dan zakat akan menyucikan atau menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati manusia. Sementara itu, manfaat kolektif dari zakat adalah bahwa zakat akan terus mengingatkan orang yang memiliki kecukupan harta bahwa dalam harta mereka terdapat hak orang lain. Sifat kebaikan yang akan kemudian mengantarkan zakat memainkan peranan sebagai instrumen yang memberikan kemanfaatan kolektif sehingga pemerataan sosial akan tercipta.

Dengan adanya mekanisme Zakat, aktivitas ekonomi dalam kondisi terburuk sekalipun dipastikan akan dapat berjalan paling tidak pada tingkat minimal untuk memenuhi kebutuhan primer. Oleh karena itu, instrumen zakat dapat digunakan sebagai perisai terakhir bagi perekonomian agar tidak terpuruk pada kondisi krisis di mana kemampuan konsumsi mengalami stagnasi.

3. Rukun Zakat
Rukun Zakat diantaranya:
a. Muzakki : orang-orang yang wajib membayar zakat
b. Mustahiq : orang-orang yang berhak menerima zakat, diantaranya fakir, miskin, Amil, mu’allaf, budak yang baru merdeka, orang yang berhutang di jalan Allah, orang yang dalam perjalanan fii sabilillah dan ibnu sabil. Hal ini dijelaskan dalam QS at-taubah : 60
c. Harta : harta bersifat suci, dimiliki sepenuhnya, bebas dari orang lain dalam mengguakannya.
d. Amil : orang yang mengurus segala yang berkaitan dengan zakat yaitu mencatat, mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.

4. Macam-macam Zakat
Zakat terbagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Zakat fitrah, yaitu kewajiban bagi setiap muslim yang mampu tanpa terkecuali dengan maksud mensucikan dan membersihkan diri orang yang berpuasa dan menyempurnakan puasanya. Sifatnya konsumtif dan tujuannya untuk menggembirakan orang yang menerimanya.
b. Zakat maal, dikenal dengan sebutan zakat harta. Zakat maal tujuannya tidak sekedar konsumtif dan memenuhi kebutuhan sesaat, yang terlihat dari makna epistimologinya yaitu pertumbuhan, keberkahan dan pertambahan yang baik. Dalam hali ini muncul makna kemanusiaan dan kebersamaan dalam masyarakat. Dengan kata lain pemerataan sosial dan persamaan dengan maksud untuk menanggulangi kemelaratan dan kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan umat islam.


5. Problem-problem dalam Zakat
Ada berbagai masalah yang tamapak dalam kehidupan masyarakat bagi secara teoritik maupu praktik. Diantaranya:
a. Di masyarakat pedesaan, banyak kita jumpai atau mungkin kita sendiri yang mengalaminya, mana lebih baik zakat dibayar kepada ‘Amil atau kepada kiayi?
b. Jika seorang mustahiq yang berstatus sosial fakir, miskin dan qharim, apakah dalam penerimaan zakat didasarkan pada status sosialnya yaitu tiga bagian atau hanya satu saja?
c. Bolehkah zakat dari seorang muzakki diberikan seluruhnya kepada seorang mustahiq untuk pemerataan sosial? Sedangkan jika hanya mendapatkan 2,5 kg beras/makanan pokok lainnya itu tidak dapat mengubah status sosialnya si mustahiq.
d. Bagaimana dengan zakat dalam bentuk zakat produktif, dimana hal itu tidak diketahui dari siapa, berapa jumlahnya, dan untuk siapa zakat tersebut?

INFAQ SHADAQOH

1. Pengertian Infaq/Shodaqah
Infaq menurut bahasa berasal dari kata anfaqa-yunfiqu-infaq yang berarti menafkahkan, membelanjakan, memberi atau mengeluarkan harta. Sedangkan menurut istilah adalah memberikan sebagian hartanya yang telah direzekikan oleh Allah kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sedangkan Shadaqoh adalah pemberian harta secara suka rela kepada seseorang atau lembaga. Pada dasarnya setiap kebaikan itu adalah shadaqoh.

2. Fungsi Infaq/Shadaqoh
Fungsi dari Infaq dan Shadaqoh tidak jauh berbeda dengan fungsi zakat. Infaq dan Shadaqoh berfungsi sebagai pembersih dari keburukan-keburukan yang ada apad harta itu sendiri. Yakni sebagai pembersih dari dosa dan kesalahan akibat mencari, meraih, dan mendapatkan kesuksesan dan kekayaan dengan cara yang tidak baik, dan inilah berkah dari Infaq dan Shadaqoh serta sebagai bentuk kasih cinta dari Allah SWT.

3. Rukun Infaq/Shadaqoh

Rukun daripada Infaq dan Shadaqoh juga sama denga rukun zakat yakni orang-orang yang memberi, orang-orang yang menerima, harta/benda. Namun dalam Infaq dan Shadaqoh ‘Amil bukan syarat mutlak karena Infaq dan Shadaqoh tidak harus melalui ‘Amil untuk pendistribusiannya.

4. Macam-macam Infaq/shodaqah
a. Infaq mubah : mengeluarkan harta untuk perkara yang mubah, seperti berdagang, bercocok tanam, dan lain-lain.
b. Infaq wajib : mengeluarkan harta untuk perkara yang wajib, seperti membayar mahar, menafkahi istri, menafkahi istri tertalak dan masih dalam masa iddah.
c. Infaq haram : mengeluarkan harta untuk perkara yang dilarang Allah, seperti infaqnya orang kafir untuk menghalangi syiar islam.
d. Infaq sunnah : mengeluarkan harta dengan niat shadaqoh.

5. Problem-problem dalam Infaq/Shadaqoh

Pemahaman masyarakat terhadap masalah Infaq dan Shadaqoh sehingga mereka yang mampu dalam hal ekonomi kemana dan bagaimana harus menyalurkan hartanya. Hal ini disebabkan oleh:
a. Tingkat kesadaran beragam masih rendah sehingga tidak memahami apa makna, fungsi dan manfaat Infaq dan Shadaqoh dalam kehidupan masyarakat.
b. Sifat kikir yang melekat pada diri seseorang menjadi penghalang untuk ber-Infaq dan ber-Shadaqoh.
c. Gaya hidup bermewah-mewahan untuk memuaskan nafsunya sehingga lupa diri, sombong dan tamak padahal di sekitarnya terdapat orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

WAKAF

1. Pengertian Wakaf
Kata wakaf berasal dari bahasa arab “Waqafa” yang berarti “menahan” atau “berhenti”. Sedangkan menurut istilah fiqih wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif (orang yang memberi wakaf) setelah sempurna prosedur perwakafan.

2. Fungsi wakaf
Fungsi wakaf antara lain:
a. Menggerakkan ekonomi masyarakat.
b. Mewujudkan kesejahteraan sosial.
c. Mampu mengatasi krisis ekonomi

3. Rukun Wakaf
a. Waqif : orang yang menyerahkan harta wakaf. Syaratnya baligh, tidak punya hutang, wakaf tidak boleh dibatalkan, atas kemauan sendiri.
b. Mauquf bih : barang/harta yang diwakafkan syaratnya tetap, tidak mudah habis/rusak, batas-batasnya harus jelas, milik sendiri.
c. Mauquf ‘alaih : orang yang menerima wakaf syaratnya dewasa dan bertanggung jawab.
d. Sighat : pernyataan serah-terima barang wakaf.

4. Macam-macam wakaf
a. Wakaf ahli : wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu. Seorang atau lebih, keluarga si wakif atau bukan. Wakaf ini sering disebut dengan wakaf Dzurri.
b. Wakah khairi : wakaf yang secara tegas ditujukan untuk kepentingan agama atau kepentingan masyarakat. Seperti wakaf yang diserahkan untuk pembangunan masjid, sekolah, jalan raya, rumah sakit, panti asuhan dan lain-lain.

5. Problem-problem dalam wakaf
a. Kurangnya pengetahuan yang cukup tentang wakaf terkadang harta atau barang yang diwakafkan pada waktu kemudian oleh anak cucu wakif diminta kembali karena perwakafan dinilai tidak sesuai prosedur.
b. Yang sering terjadi pada wakaf bangunan, ketika mendapatkan bantuan baik dari pemerintah terkadang juga si wakif menunjukkan dirinya dengan harapan bisa menikmati bantuan tersebut padahal barang wakaf itu sudah menjadi tanggung jawab pengelola.

6. Undang-undang yang mengatur tentang wakaf
a. Peraturan pemerintah no. 28 tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik.
b. Peraturan menteri dalam negeri no. 6 tahun 1977 tentang tata cara pendaftaran tanah mengenai perwakafan tanah milik.
c. Peraturan menteri agama no. 1 tahun 1978 tentang peraturan pelaksanaan peraturan pemerintah no. 28 tahun 1977.
d. Peraturan direktur jenderal bimbingan masyarakat islam no. Kep/P/75/1978 tentang formulir dan pedoman peraturan-peraturan tentang perwakafan tanah milik.

Perbedaan Zakat, Infaq Shodaqah Dan Wakaf :

Zakat
Harta yang wajib dizakati yaitu barang tertentu (emas, perak dll). Wajibnya zakat ada syarat-syarat tertentu (haul & nishob). Orang mati wajib dizakati oleh ahli waris. Zakat wajib diberikan pada golongan2 tertentu. Tidak bayar zakat hukumnya dosa besar. Tidak boleh diberikan pada kerabat atas (ushul) dan bawah (furu’)

Infaq shodaqah
Hartanya tidak wajib disedekahkan, dalam bentuk apa saja. Tidak ada syarat. Tidak ada kewajiban apapun bagi ahli waris. Bebas pada siapa saja. Tidak bayar tidak apa-apa. Boleh kepada siapa saja

Wakaf
Berupa uang, benda bergerak, benda tak bergerak. Ahli (kerabat), khairi (kepentingan umum)
Tidak bayar tidak apa-apa Boleh pada siapa saja