Beasiswa

Tata Cara Berwudhu Sesuai Tuntunan Al Qur’an Dan Al Hadits


Berwudhu adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan seorang muslim sebelum melakukan sholat. Wudhu merupakan kegiatan membersihkan diri dari berbagai kotoran dan bermakna kita telah siap dan bersih ketika beribadah kepada Allah SWT. Shalat yang kita lakukan, tidak akan sah  kalau tidak bersuci (berwudhu). Hal ini sesuai sabda Nabi Saw :

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat kecuali dengan thoharoh. Tidak ada sedekah dari hasil pengkhianatan.”[1]

Rasulullah Saw. Bersabda

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Abu Hurairah berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima ketika masih berhadats sampai dia berwudhu.“[2]

Mungkin di lingkungan kita masih banyak saudara-saudara kita yang cara berwdhunya asal-asalan, maka menjadi kewajiban kita untuk mengingatkannya. Untuk itulah penting bagi kita memepelajari Tata Cara Berwudhu Sesuai Tuntunan islam, sesuai petunjuk Al Qur’an Dan Al Hadits.

Ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang wudhu : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu, kedua tanganmu sampai siku dan sapulah kepalamu serta basuhlah kedua kakimu sampai mata kaki.” (Q.S. Al-Maidah : 6).

a. Syarat sahnya Wudhu
 1. Islam
 2. Mumayyiz
 3. Tidak sedang berhadats besar
 4. Memakai air yang suci dan menyucikan.
 5. Tidak ada yang menghalangi sampainya air ke kulit.

b. Rukun Wudhu
 1. Niat, 
 2. Membasuh muka
 3. Membasuh kedua tangan sampai siku.
 4. Mengusap kepala.
 5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
 6. Tertib

c. Sunnah sunnah dalam berwudhu :
1. Membaca basmallah pada permulaan wudhu.
2. Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan.
3. Berkumur-kumur.
4. Membasuh lubang hidung.
5. Menyapu seluruh kepala dengan air.
6. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri.
7. Menyapu telinga luar dan dalam.
8. Tiga kali dalam membasuh.
9. Membasuh sela-sela jari tangan dan kaki.
10. Membaca doa sesudah wudhu.
  
Cara Berwudhu Sesuai Tuntunan Al Qur’an Dan Al Hadits

Bagaimana cara berwudhu sesuai tuntunan nabi?

Utsman berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian dia shalat dua rakaat dengan khusyuk., maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Ibnu Syihab berkata, “Ulama kita mengatakan bahwa wudhu seperti ini adalah contoh wudhu yang paling sempurna yang dilakukan seorang hamba untuk shalat”. [3]

1. Niat,
Seseorang yang mau mengambil wudhu, maka harus diawali dengan niat. Tanpa niat, maka wudhunya tidak akan sah. Apakah niat wudhu harus di lafalkan? Tergantung madzhab mana yang kita pakai. Dilafadzkan atau tidak sama-sama sah. Sebagaimana yang kita telah ketahui, bahwa dalam masalah niat. Terdapat perbedaan dikalangan ulama mengenai masalah pelafalannya. Yang tidak sah yang tidak berniat sama sekali.

 2. Membasuh muka
Yakni mengalirkan air keseluruh bagian muka. Batas muka itu adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai jenggot dan dagu, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. Allah memerintahkan kita: ”Dan basuhlah muka-muka kamu.” (Al-Maidah: 6)


3. Membasuh kedua tangan sampai siku.
Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku, Allah swt berfirman: ”Dan bashlah tangan-tanganmu sampai siku” (Al-Maaidah: 6)



Rasulullah membasuh tangannya yang kanan sampai melewati sikunya, dilakukan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, Rasulullah mengalirkan air dari sikunya[4]

4. Mengusap kepala.
”Dan usaplah kepala-kepala kalian…” (Al-Maidah: 6).


Rasulullah mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengambalikan lagi ke depan kepalanya. [5]



Setelah itu tanpa mengambil air baru Rasulullah langsung mengusap kedua telingannya. Dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah bersabda: ”Dua telinga itu termasuk kepala.” [6] 


Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir. [7]



5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
Allah swt berfirman: ”Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki” (Al-Maidah: 6)


Rasulullah menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian. Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. [8]


 6. Tertib
Semua tata cara wudhu’ tersebut dilakukan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [9]

"Kalangan syafi'iyah ber-hujjah (berdalil) dengan berbagai hadis shahih yang diriwayatkan dari beberapa kelompok sahabat tentang cara Nabi SAW berwudhu. Semua mengatakan bahwa Nabi SAW berwudhu secara berurutan (tertib). Padahal jumlah mereka banyak, tempat mereka melihat Nabi berwudhu berbeda-beda, mereka sering berselisih tentang cara Nabi berwudhu apakah satu, dua ataukah tiga kali dan sebagainya. Akan tetapi tyidak terbukti dengan aneka macam perbedaan itu cara Nabi berwudhu dengan tidak tertib. Pekerjaan Nabi SAW itu merupakan penjelasan bagaimana wudhu yang diperintahkan itu. Andaikata meninggalkan tertib itu diperbolehkan, niscaya Nabi Muhammad SAW akan meninggalkannya pada satu waktu untuk menjelaskan kebolehannya, sebagaimana beliau pernah meninggalkan mengulang-ulang (basuhan dan usapannya) pada waktu-waktu tertentu" [10]

___________________________________
[1] HR. Muslim no. 224
[2] HR. Bukhari no. 6954 dan Muslim no. 225
[3] HR. Bukhari dan Muslim
[4]Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56
[5] HR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251
[6] HR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140
[7] Al-Mughni, I/312 , I/383-384.
[8]HR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128
[9] HR. Bukhari-Muslim
[10] Al-Fiqh al-Manhaji, Juz 1, Hal.56