Sumber Hukum Islam Dan Penjelasannya
Sumber Hukum Islam Dan Penjelasannya

Sumber Hukum Islam Dan Penjelasannya


Sumber Hukum Islam
Para ulama hukum Islam berpendapat bahwa sumber-sumber hukum Islam ada empat,  yaitu:
  • Al-Qur'an,
  • Sunah (Hadis),
  • Ijma',
  • Qiyas.

Pada dasarnya yang menjadi sumber norma dan hukum islam adalah kitab suci Alqur’an dan sunah Rasulullah saw. Keduanya merupakan sumber  pokok atau sumber utama. Akan tetapi kalau di rinci, sebetulnya selain dua sumber tersebut, masih ada sumber lain yang berkedudukan sebagai sumber tambahan-tambahan atau penjelasan, seperti Ijma’ ra’yu, Qiyas, istihsan mashallah mursalah, istihab, dan saddu-dzair’ah.

Pengertian Sumber dan Dalil Hukum Islam
Dalam bahasa Arab, yang dimaksud dengan “sumber” secara etimologi adalah mashdar (مصدر), yaitu asal dari segala sesuatu dan tempat merujuk segala sesuatu. Dalam ushul fiqih kata mashdar al-ahkam al-syar’iyyah (مصادرالاحكام الشرعية) secara terminologi berarti rujukan utama dalam menetapkan hukum Islam, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.

Sedangkan “dalil” dari bahasa Arab al-dalil (الدليل), jamaknya al-adillah (الادلة). Secara terminologi, dalil mengandung pengertian: Suatu petunjuk yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis, baik yang statusnya qathi’ (pasti) maupun Dzani (relatif).[1]

Sumber dan Dalil Hukum Islam
Dasar yang digunakan oleh ulama ushul tentang sumber hukum adalah firman Allah swt dalam QS. An-Nisa: 59 yang Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demekian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Allah juga mewajibkan kepada hamba-Nya untuk menjadikan Islam -yang merupakan hukum dan keputusan Allah- sebagai aturan hidup manusia di semua sisi kehidupannya, baik dalam hal ibadah maupun mu’amalah. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, untuk memilih pilihan (lain) dalam urusan mereka, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan”. [QS. Al-Ahzab: 36]. Allah juga berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam dengan sempurna”. [QS. Al Baqoroh: 208]

Ibnu Jarir –rahimahullah– menafsiri ayat ini dengan mengatakan: “Wahai kaum mukminin, jalankanlah Syariat Islam semuanya, masuklah untuk membenarkannya baik dalam perkataan maupun perbuatan, dan tinggalkanlah mengikuti jalan-jalan dan jejak-jejak setan, karena dia adalah musuh yang nyata permusuhannya terhadap kalian. Dan jalan setan yang dilarang Allah untuk diikuti adalah apapun yang menyelisihi hukum dan syariat Islam”. [2]

para ulama -rahimahumullah- telah menerangkan apa saja sumber-sumber hukum itu dengan sangat jelas, diantaranya adalah Imam Syafi’i -rahimahullah-, beliau mengatakan: “Allah tidak membolehkan kepada siapapun untuk berpendapat kecuali dengan ilmu yang telah dia ketahui sebelumnya, dan sumber ilmu itu adalah: Kitab (Qur’an), Sunnah (Hadits), Ijma’, Atsar (perkataan para sahabat), dan meng-qiyaskan kepada dalil-dalil tersebut sebagaimana telah kuterangkan”. [3]

Inilah sumber-sumber dalam Islam sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafii -rahimahullah-: Qur’an, hadits, Ijma’, Atsar, dan Qiyas. Adapun dalil-dalil lain yang disebutkan oleh para ulama, maka semuanya kembali kepada lima dalil ini. Dan dari lima dalil ini, ada yang sering tidak disebutkan oleh para ulama, yaitu: dalil atsar atau perkataan para sahabat, karena sebenarnya dalil ini masuk dalam dalil ijma’, karena pendapat para sahabat yang bisa dijadikan dalil hanyalah pada hal-hal yang mereka sepakati, dan ini masuk dalam bab ijma’ mereka. Adapun bila mereka berbeda pendapat, maka yang dipilih dari pendapat mereka adalah yang lebih dekat kepada kitabullah, atau Sunnah Nabi, atau qiyas yang shahih. [4]

“Tidak dibolehkan bagi siapapun yang telah diangkat sebagai hakim atau mufti; untuk menghakimi atau berfatwa kecuali dari sumber keterangan yang pasti, yaitu: Alkitab, kemudian Assunnah, atau perkataan para ulama yang tidak ada perselisihan padanya (Ijma’), atau qiyas kepada sebagian dari dalil-dalil ini”. [5]

Imam Syafi’i  rahimahullah berkata  “Aku belum pernah mendengar satu pun ulama yang menyelisihi bahwa tidaklah ada perkataan yang mengikat, kecuali yang berdasar pada Kitabullah atau Sunnah Rosul Nya, dan bahwa yang selain keduanya itu mengikuti keduanya”. [6]

Al-Qur’an
Secara etimologis, Al-Quran adalah membaca, menelaah, mempelajari dan menyampaikan. Sedangkan secara terminologi menurut ahli ushul fiqh dan ahli fiqh, Al-Quran adalah kalam Allah SWT., yang  menjadi mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., yang dituliskan dimushaf, yang dinukilkan  secara mutawatir, dan dipandang sebagai ibadah bagi yang membacanya.

a.         Hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran

Hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran ada tiga macam, yaitu:

 1. Hukum-hukum I’tiqadiyah,  yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan keimanan (rukun iman yang enam).
2. Hukum-hukum Khuluqiyah, yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan akhlak.
3. Hukum-hukum Amaliyah (kajian ilmu fiqh), yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia.

b.      Dalalah Al-Quran Terhadap Hukum-hukum

Dalalah Al-Quran terhadap hukum-hukum adakalanya bersifat qathi’ dan adakalanya bersifat dzani.

1.    Qathi’ yaitu lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak bisa dipahami makna lain darinya.
Contohnya adalah firman Allah swt dalam QS. An-Nur: 4”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”(QS. An-Nur: 4)

2. Dzani yaitu lafal-lafal yang dalam Al-Quran mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk ditakwilkan. Contohnya adalah firman Allah swt dalam QS. An-Nisa: 43 :
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah maha pemaf lagi maha pengampun.” (QS. An-Nisa:43)

As-Sunnah
As-Sunnah secara etimologis yaitu kabar, kejadian, sesuatu yang baru, perkataan, hikayat, dan cerita[6].  Sedangkan secara terminologi ialah perkataan Nabi, perbuatannya dan taqririnya (yakni ucapan dan perbuatan sahabat yang beliau diamkan dengan arti membenarkannya).

a.         Macam-macam sunnah[7]

1.         Dilihat dari materi dan isinya sunnah terbagi pada:
a)        Sunnah Qauliyah (perkataan Nabi)
b)        Sunnah Fi’liyah (perbuatan Nabi)
c)        Sunnah Taqririyah, yaitu perbuatan atau ucapan seorang sahabat yang dilakukan dihadapan atau sepengetahuan Nabi, tetapi tidak dicegah oleh Nabi.

2.    Dari segi banyak-sedikitnya orang yang meriwayatkan, hadist dibagi menjadi tiga, yaitu:
a)        Hadits Mutawatir
b)        Hadits Masyhur
c)        Hadits ‘Ahad

3.    Dilihat dari penerimaan dan penolakkan hadits, maka hadits terbagi pada:
a)      Hadits Shahih
b)      Hadits Hasan
c)      Hadits Dha’if

Fungsi As-Sunnah

Adapun fungsi As-Sunnah terhadap Al-Quran dalam hukum adalah:[8]
1.  As-sunnah berfungsi sebagai penjelas, memerinci yang mujmal mengkhususkan yang umum.
2. Hukumnya sudah disebutkan dalam Al-Quran kemudian As-Sunnah menguatkannya dan menambahkannya.
3.   As-Sunnah memberi hukum tersendiri yang tidak terdapat dalam Al-Quran.

Al-Ijma

Ijma artinya kesepakatan[9] atau ketetapan hati untuk melakukan sesuatu atau keputusan berbuat sesuatu.  Secara terminologi, ijma adalah kesepakatan mujtahid dari kaum muslimin pada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW.,  tentang suatu hukum syara dalam perkara yang bersifat amaliyah.

 Macam-macam ijma
Ijma sharih (tegas), yaitu kesepakatan tegas dari para mujtahid dan menyatakan persetujuannya terhadap kesimpulan tersebut.

Ijma sukuti (persetujuan yang diketahui dengan diamnya sebagian ulama), yaitu bahwa sebagian ulama mujtahid menyatakan pendapatnya, sedangkan ulama yang lainnya hanya diam tanpa komentar.

Al-Qiyas
Qiyas secara secara terminologi yang dikemukakan oleh ‘Abdul Wahhab Khallaf, qiyas merupakan menyamakan suatu kasus yang tidak terdapat hukumnya dalam nash dengan kasus yang terdapat dalam nash, karena adanya persamaan illat kedua kasus itu.[10]

a. Rukun qiyas
Suatu masalah dapat di-qiyaskan apabila memenuhi rukun-rukun qiyas diantaranya, yaitu:[11]
1. Asal, yaitu dasar, titik tolak dimana suatu masalah itu dapat disamakan (musyabbah bih).
2. Furu’, yaitu suatu maslah yang akan di-qiyaskan disamakan dengan asal yang disebut musyabbah.
3. Illat, yaitu suatu sebab yang menjadikan adanya hukum sesuatu dengan persamaan sebabinilah baru dapat di-qiyaskan masalah kedua (furu’) kepada masalah yang pertama (asal) karena adanya suatu sebab yang dapat dikompromikan antara asal dengan furu’.
4. Hukum, yaitu ketentuan yang ditetapkan pada furu’ bila sudah ada ketetapan hukumnya pada asal.

b. Syarat qiyas
Adapun untuk dapat melakukan qiyas terhadap suatu masalah harus memenuhi syarat-syaratnya, diantaranya:

- Hukum asalnya tidak berubah-ubah.

- Asal serta hukumnya sudah menurut ketegasan Al-Quran dan Hadits. Hukum asal itu dapat diperlakukan pada qiyas. Tidak boleh hukum furu’ terdahulu  dari hukum asal, karena untuk menetapkan hukumb berdasarkan pada illatnya (sebab).

- Harus sama illat yang ada pada furu’ dengan illat yang ada pada asal. Tidak boleh hukum furu’ menyalahi hukum asal.

- Tiap-tiap ada illat itu itdak bertentangan menurut ketentuan-ketentuan agama, artinya tidak boleh menyalahi Al-Quran dan Sunnah.

c. Macam- macam qiyas

1. Qiyas Aulawi, yang terdapat dalam al- far’u lebih utama dari pada yang terdapat pada asal. Misalnya meng-qiyaskan hukum haram memukul kedua orang tua kepada hukum haram mengatakan “Ah” yang terdapat dalam QS. Al-Isra (17): 23.

2. Qiyas Musawwa, qiyas yang berlakunya pada far’u sama keadaannya dengan berlakunya hukum pada asal karena kekuatan illat-nya sama. Misalnya men-qiyaskan membakar harta anak yatim kepada memakannyasecara tidak patut.

3. Qiyas Adna, qiyas yang berlakunya pada far’u lebih lemah dibandingkan dengan berlakunya hukum pada asal. Misalnya,sifat yang memabukkan pada hukum sifat yang memabukkan pada hukum qiyas bir umpamanya lebih rendah dari sifat memabukkan yang terdapat pada minuman keras khamar, yang digharamkan dalam QS. Al-Maidah : 90.

Ada beberapa ayat Al-Quran yang menganjurkan umatnya untuk menggunakan akal. Dan hal inilah ulama dijadikan hujjah penggunaan qiyas. Salah satu ayat itu ialah Surat Yusuf: 111  ‘Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf (12): 111)

 11 Jumadil Akhir 1439
 27 Februari 2018
Aden Zaied Alfarobi                                                                         
www.vianeso.com                                                                            

________________________________________
[1] Wahbah al-Zuhaili. 1986. Ushul Fiqih Al-Islami. Beirut: Dar al-Fikr, hal. 417
[2] Tafsir Thobari 3/602
[4] Arrisalah: 508
[5] Kitab: Al-umm, Ibtholul Istihsan 9/67
[6] Kitab: Al-Umm, Jima’ul Ilmi: 9/5
[7]  A. Djazuli. 2005. Ilmu Fiqh, Edisi Revisi. Jakarta: Prenadamedia Group, hal. 63
[8] A. Djazuli. 2005. Op.Cit., hal. 69
[9] Nazar Bakry. 1996. Fiqh Dan Ushul Fiqh. Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada, hal. 50
[10] Mardani. 2103. Op.Cit., hal.178.
[11] Nazar Bakry. 1996. Op.Cit., hal. 47