Perbedaan Tujuan Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih

Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih
Perbedaan Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih

Ilmu Fiqih adalah Ilmu yang mempelajari tentang tata cara beribadah kepada Allah. Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan mukalla.  Sedangkan Ushul fikih adalah ilmu yang membahas unsur-unsur umum dalam prosedur mendeduksikan hukum-hukum Islam.

“Ushul Fiqih itu ialah kaidah-kaidah yang dipergunakan untuk mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya, dan dalil-dalil hukum (kaidah-kaidah yang menetapkan dalil-dalil hukum)”. Dalil-dalil yang dimaksud adalah undang-undang (kaidah-kaidah yang ditimbulkan dari bahasa. Maka dari uraian diatas dapat dipahami bahwa yang dikehendaki dengan Ushul Fiqih adalah dalil-dalilnya seperti Alquran, sunnah Nabi, Ijma’ dan qiyas.[1]

Sementara Abdul Wahab Khalaf mengartikan Ilmu Ushul Fiqih adalah ilmu tentang kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan yang merupakan cara kuntuk menemukan hukum-hukm syara’ yang maliyah dari dalil-dalilnya secara rinci. Atau kumpulan-kumpulan kaidah dan pembahasan yang merupakan cara untuk menemukan (mengambil) hukum syara’ yang amaliyah dari dalil-dalilnya secara rinci.[2]

Jika ilmu fiqih berbicara tentang hukum dari sesuatu perbuatan, maka ilmu ushul fiqih bicara tentang metode dan proses bagaimana menemukan hukum itu sendiri. Atau, dilihat dari sudut aplikasinya, fiqih akan menjawab pertanyaan “apa hukum dari suatu perbuatan?”, dan ushul fiqih akan menjawab pertanyaan “bagaimana cara atau proses menemukan hukum yang digunakan sebagai jawaban permasalahan yang dipertanyakan tersebut”.oleh karena itu, fiqih lebih bercorak produk sedangkan ushul fiqih lebih bermakan metodologis.

Tujuan Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh

Tujuan Ilmu Fiqh
Tujuan dari ilmu fiqh adalah menerapkan hukum-hukum syariat terhadap perbuatan dan ucpan manusia. Jadi ilmu fiqh itu adalah tempat kembali seorang hakim dan keputusannya, tempat kembali seorang mufti dalam fatwanya, dan tempat kembali seorang mukallaf untuk dapat mengetahui hukum syara’ yang berkenaan dengan ucapan dan perbuatan yang muncul dari dirinya.

 Jadi maksud akhir yang hendak dicapai dari ilmu fiqih adalah penerapan hukum syariat kepada amal perbuatan manusia, baik tindakan maupun perkataannya. Dengan mempelajarinya orang akan tahu mana yang diperintah dan mana yang dilarang, mana yang sah dan mana yang batal, mana yang halal dan mana yang haram, dan lain sebagainya.[3]

Tujuan Ushul Fiqh
Tujuan dari Ilmu Ushul Fiqih adalah menerapkan kaidah-kaidahnya dan teori-teorinya terhadap dalil-dalil yang rinci untuk menghasilkan hukum syara’ yang ditunjuki dalil itu. Jadi berdasarkan kidah-kaidahnya dan bahasa-bahasanya, maka nash-nash syara’ dapat dipahami dan hukum yang menjadi dalalahnya dapat diketahui, serta sesuatu yang dapat menghilangkan kesamaran lafazh yang samar dapat diketahui. Juga dikethui dalil-dalil yang dimenagkan ketika terjadi pertentangan antara satu dalil dengan dalil lainnya. Juga berdasarkan kaidah-kaidahnya dan bahasan-bahasannya, dapat pula hukum diistimbathkan dengan qiyas, atau istihsan, atau istishab, atau lainya dalam kasus yang tidak terdapat nash mengenai hukumnya.
  
  
Perbedaan Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih Dilihat Dari Objek Kajian

Objek pembahasan dalam Ilmu Fiqih adalah perbuatan mukallaf ditinjau darari segi hukum syara’ yang tetap baginya. Seorang faqih membahas tentang jual beli mukallaf, sewa menyewa, pegadaian, perwakilan, shalat, puasa, haji, pembunuhan, tuduhan terhadap zina, pencurian, ikrar, dan wakaf yang dilakukan mukallaf, supaya ia mengerti tentang hukum syara’ dalam segala perbuatan ini.

Adapun objek pembahasan ilmu ushul figh adalah dalil syar’i yang bersifat umum ditinjau dari segi ketepatan-ketepatan hukum yang bersifat umum pula. Jadi seorang pakar ilmu ushul membahas  tentang qiyas dan kehujjahannya, tentang dalil”Amm dan yang membatasinya, dan tentang perintah (amr) dan dalalaahnya, demikian seterusnya.[4]

Secara Umum, Perbedaan antara ilmu fikih dan ushul fikih adalah :

Ilmu fikih membicarakan tentang dalil dan hukum yang bersifat rinci (juz'î), maka ilmu ushul fikih membicarakan tentang dalil atau ketentuan yang bersifat garis besar (kullî) yang berfungsi sebagai metodologi dalam memahami dalil-dalil rinci itu.

Kalau tujuan mempelajari ilmu fikih adalah mempraktikkan hukum-hukum syariah pada perbuatan dan ucapan manusia, maka tujuan mempelajari ilmu ushul fikih adalah mempraktikkan kaidah-kaidah dan teori-teorinya terhadap dalil-dalil rinci untuk mengungkapkan hukum-hukum syariah yang terdapat dalam dalil-dalil itu.

Contoh, seorang ahli ushul fikih membahas tentang hukum wajib yang terkandung dalam suatu kata perintah (amr), sedangkan ahli fikih membahas tentang kewajiban shalat, yang didasarkan pada dalil "âqîmû al-shâlâh" (dirikanlah shalat).


Ushul fikih tidak hanya diperlukan dalam memahami teks-teks yang terdapat dalam al-Quran maupun hadis, tetapi juga untuk menetapkan hukum terhadap hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang tidak ada hukumnya dalam teks keduanya. Dengan demikian, seorang mujtahid tidak mungkin dapat memahami dan mendalami hukum-hukum syariah (Islam) dengan tepat tanpa memahami ushul fikih ini.

Daftar Pustaka :
[1] Drs. H. A. Syafi’I Karim. Fiqih Ushul Fiqih. (Bandung: Pustaka Setia, 1997). Hlm.23
[2] Ibid,
[3] Prof. Dr. H. Alaiddin Koto, M.A. Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih (Sebuah Pengantar). (Jakarta: PT           Rajagrafindo Persada, 2009) Hlm. 10
[4] Prof. Abdul Wahhab Khallaf. Ilmu Ushul Fiqh. (Semarang: Dina Utama Semarang, 1994). Hlm. 2
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner