Beasiswa

Dalil-Dalil Wudhu Dan Dasar Hukum Wudhu


Pengertian wudhu
Pengertian Wudhu menurut bahasa dan istilah

Secara Bahasa Wudhu adalah mensucikan anggota badan tertentu dengan air untuk menghilangkan hadas kecil. Wudhu wajib dilakukan saat akan melakukan ibadah shalat. Pembahasan wudhu dalam fiqih masuk pada bab thaharah, yang berarti bersuci. 

Al-Hafizh Ibnu Hajar dari kalangan Syafi’iyah , kata wudhu terambil dari kata al-wadhu’ah / kesucian (اَلْوَضُوءْ). Wudhu disebut demikian, karena orang yang shalat membersihkan diri dengannya. Sehingga, ia menjadi orang yang suci.[1]

Pengertian wudhu  Secara Istilah dan Syari’at

Menurut Syaikh Shalih Ibnu Ghanim As-Sadlan memberikan pengertian : makna wudhu adalah menggunakan air yang suci lagi menyucikan pada anggota-anggota badan yang empat (wajah, tangan, kepala dan kaki) berdasarkan tata cara yang khusus menurut syariat.[2]

Definisi wudhu bila ditinjau dari sisi syariat adalah suatu bentuk peribadatan kepada Allah Ta’ala dengan mencuci anggota tubuh tertentu dengan tata cara yang khusus.

Dalil-Dalil Wudhu Dan Dasar Hukumnya. Yang menjadi dasar disyari’atkan wudhu ditegaskan berdasarkan 3 macam alasan.[3]

a.  Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 6“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka cucilah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (cuci) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.

b. Sabda Rasulullah

Artinya: Allah tidak menerima shalat salah seorang dia nataramu bila ia berhadats, sehingga ia berwudhu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

c. Ijma’
Telah terjalin kesepakatan kaum muslim atas disyari’atkannya wudhu semenjak zaman Rasulullah hingga sekarang ini, sehingga tidak dapat disangkal lagi bahwa ia adalah ketentuan yang berasal dari agama.

Rukun Wudhu
Rukun wudhu, Dalam kitab Fathul Mu’in disebutjkan ada 6 hal [4]
1.       Niat fardhunya wudhu ketika pertama kali membasuh wajah
2.       Membasuh wajah
3.       Membasuh kedua tangan dari telapak dan lengan sampai siku
4.       Membasuh sebagian kepala
5.       Membasuh kedua kaki beserta ke-dua mata kaki
6.       Tertib

Terdapat perbedaan pendapat ketika menyebutkan rukun wudhu. Ada yang menyebutkan 4 saja, sebagaimana yang tercantum dalam ayat Qur’an, namun ada juga yang menambahkannya dengan berdasarkan dalil dari sunnah.[5]

Menurut Al-Hanafiyah Empat  rukun mengatakan bahwa rukun wudhu itu hanya ada 4 sebagaimana yang disebutkan dalam Nash Qur’an.

Tujuh rukun menurut Al-Malikiyah menambahkan dengan keharusan niat, ad-dalk yaitu menggosok anggota wudhu, sebab menurut beliau sekedar mengguyur anggota wudhu dengan air masih belum bermakna mencuci/membasuh, juga beliau menambahkan kewajiban muwalat.

Dari kalangan As-Syafi’iyah ada 6 rukun, menambahnya dengan niat pembasuhan dan usapan dengan urut, tidak boleh terbolak balik. Istilah yang beliau gunakan adalah harus tertib.

Menurut kalangan Al-Hanabilah terdapat tujuh dengan tambahan bahwa harus niat, tertib dan muwalat, yaitu berkesinambungan. Maka tidak boleh terjadi jeda antara satu anggota dengan anggota yang lain yang sampai membuatnya kering dari basahnya air bekas wudhu.

Syarat-syarat Wudhu
1. Dikerjakan dengan air mutlaq.
2. Mengalirkan air di atas anggota yang dibasuh.
3. Tidak ada sesuatu pada anggota yang dapat mengubah air, yaitu perubahan yang merusakkan air mutlak itu.
4. Pada anggota wudhu, tidak ada sesuatu yang menghalangi antara air dan anggota tubuh yang dibasuh.
5. Dilakukan sesudah masuk waktu shalat bagi orang yang selalu berhadats.

Sunah-sunah Wudhu
1. Membaca basmalah sebelum mengambil air untuk membasuh muka sambil niat berwudhu.
2. Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan 3x (tiga kali) dengan air yang suci
3. Berkumur.
4. Beristisyaq (menghirup air ke dalam hidung)
Dan sunnah mengeraskan berkumur dan beristinsyaq bagi yang tidak puasa, dan makruh bagi yang puasa. Berkumur dan istinsyaq dilakukan 3x.
5.  Istinsaar (membuang air dari hidung) dengan meletakkan jari telunjuk dan ibu jari tagan kiri di atas hidung. Jika dalam hidung terdapat kotoran yang keras, hendaklah dikeluarkan dengan jari kelingking tangan kiri.
6. Mengusap kedua telinga bagian luar atau dalam hingga gendang telinga
Dalam mengusap telinga harus menggunakan air yang baru, bukan air yang habis digunakan mengusap kepala.
7. Merenggangkan jari-jari kedua tangan dan kaki jika menghalangi masuknya air ke sela-sela jari.
Caranya pada tangan ialah meletakkan bagian dalam pada salah satu telapak tangan di atas telapan tangan yang lain sambil memasukkan jari tanganpada tangan lain. Dan caranya pada kaki adalah meletakkan jari-jari tangan kiri diantara jari kaki, dimulai dari jari kelingking kaki kanan dan berakhir pada kelingking kiri pada bagian bawah kaki.
8. Menggerakkan cincin agar air sampai pada bagian bawah jari.
9. Mendahulukan anggota kanan ketika membasuh kedua tangan dan kaki.
10. Memulai dengan ujung anggota yaitu membasuh wajah mulai bagian atas sampai bawah dan membasuh kedua tangan mulai jari-jari sampai siku, mengusap kedua kepala mulai dari tempat yang biasa ditumbuhi rambut sampai bagian atas kepala, dan membasuh kedua kaki dari ujung jari-jari sampai kedua mata kaki
11. Melebihkan basuhan pada anggota yang wajib seperti wajah, tangan, kaki.
12. Membasuh dua atau tiga kali dalam segala hal, kecuali bila sudah merata, bila merata pada basuhan kedua, maka basuhan kedua itu dianggap kali pertama. Bila merata pada basuhan kali ketiga, maka semua basuhan dianggap kali pertama, dan hendakllah diteruskan dengan basuhan kali kedua dan ketiga.
13. Menghadap kiblat.
14. Tertib yaitu beruntun antara anggota-anggota wudhu tidak terdapat jarak yang lama, sehingga anggota yang telah dibasuh mengering kembali.
15. Membasuh tangan hingga pergelangan pada saat akan mulai wudhu. Ini biasa dilakukan Rasulullah SAW, sunnah ini sangat sesuai dengan fitrah dan akal. Sebab biasanya pada tangan itu ada debu atau yang serupa dengan debu. Maka sudah harusnya, kamu dimulai dengan membersihkannya sehingga kemudian bisa digunakan untuk mencuci muka dan anggota tubuh lainnya. Dan yang sangat ditekankan untuk melakukan itu adalah saat bangun dari tidur. Sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. “Jika seorang diantara kalian bangun dari tidur, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam wadah air hingga dia mencucinya sebanyak 3x. Sebab dia tidak tahu di tempat mana tangannya berada sebelumnya.
16.  Menyela-nyela jenggot yang lebat.
17.  Memulai dari bagian kanan. Hendaknya ia mulai mencuci tangan kanan sebelum yang kiri, mencuci kaki kanan sebelm yang kiri.
18.  Hemat dalam menggunakan air.

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu
1.  Keluarnya sesuatu dari kubul atau dubur.
2.  Madzi dan Wadi
Termasuk yang membatalkan yang keluar dari kemaluan seorang laki-laki adalah madzi dan wadi.
Madzi adalah sesuatu yang keluar dari penis seseorang lelaki setelah dia bercumbu, melihat atau berpikir mengenai seks. Dia adalah air yang kental yang keluar dengan cara mengalir dan tidak memancar laksana mani.
Sedangkan wadi adalah air berwarna putih yang keluar setelah buang air kecil.
Keduanya membatalkan wudhu seperti kencing, dan kewajiban seseorang yang keluar madzi dan wadi adalah istinja’ dan wudhu.
3.  Keluarnya Angin dari Anus
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Artinya: Allah tidak menerima shalat salah seorang dianatara kamu bila ia berhadats, sehingga ia berwudhu”.
Abu Hurairah menafsirkan kata “hadats”, di sini ada orang bertanya kepadanya: “apa yang dimaksud dengan hadats”? Dia berkata: kentut yang tidak terdengar suaranya dan kentut yang terdengar suaranya.

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Zaid dari Ashim Al-Anshari, bahwa dia mengadukan sesuatu kepada Rasulullah tentang seseorang yang ragu merasakan sesuatu pada saat shalat yakni dia merasakan ada angin keluar dari anusnya, maka Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah dia berhenti (berpaling) hingga dia mendengar bunyi atau dia mencium bau”.[6]

Artinya, dia masih tetap berada dalam keadaan suci dan dalam wudhunya, karena itu adalah keyakinan, dan keyakinan tidak hilang disebabkan keraguan, lain halnya jiak dia mendengar suara kentutnya atau mencium baunya.
4. Tidur berat
Hal yang disepakati membalatkan wudhu adalah tidur nyeyak dan lama. Sebagaimana tidurnya seseorang yang tidur di malam hari, kemudian dia bangun pagi.
Sedangkan yang berupa kantuk, maka dia tidak membatalkan wudhu, sebab itu adalah tidur ringan.
5. Bersentuhan laki-laki dan perempuan yang belumh nikah yang telah baligh dan berakal, dan tidak ada penghalang antara keduanya.
6. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan tanpa ada penghalang

_____________________________
[1] Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqulani, Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari, (Jakarta: Pustaka Azam, 2001),hlm.306
[2] Abdullah bin Muhammad Al Thoyaar. Kitab Riasalah fi Al-Fiqh Al-Muyassar (Riyadh: Madar Al-Wathoni Lin Nasyr),hlm.19
[3] Zainuddin bin Muhammad Al-Ghazaly Al Mailbary. Fatkhul Mu’in (Surabaya: Barul Al Ilmi),hlm.5
[4] Ibnu Mas’ud &  Zainal Abidin S. Fiqih Madzhab Imam Syafi’i (Bandung: Pustaka Setia Bandung, 2007),  hlm.56
[5] Ibrahim Muhammad Al-Jamal. Fiqih Muslimah (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm.14-16
[6]  M.Qadhari Yusuf, Fikih Thaharah (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004), 207-231