Beasiswa

Pengertian Pelakor Dalam Perspektif Agama Islam

pelakor

Pelakor sebenarnya hanyalah sebuah singkatan atau kependekan dari Perebut Laki Orang, perebut suami orang. Kalau kita pahami lebih luas, pelakor merupakan perusak rumah tangga orang, baik itu disengaja atau tidak. Disengaja dalam artian pelakor itu punya maksud tujuan tertentu. Tidak disengaja maksudnya bisa jadi karena sebelumnya pelakor dan laki-laki punya hubungan tertentu yang menyebabkan kecemburuan terhadap istri sahnya lalu istri sahnya menyebut pelakor.

Pada intinya, pelakor adalah seorang perempuan yang sudah menikah atau belum yang merebut suami orang lain. Sebaliknya, jika itu terjadi pada laki-laki, seorang laki-laki yang merebut istri orang disebut Pebinor atau Perebut Bini Orang. 

Ada juga istilah "Butirang" yang merupakan akronim dari Perebut istri orang'. Pelakor dan pebinor tidak hanya sebatas perselingkuhan, melainkan sampai kepada tindakan untuk memiliki. Seperti meminta untuk menceraikan istrinya atau suaminya untuk kemudian diajak menikah.

Asal Usul Pelakor 

Pelakor hanyalah sebuah kata yang dibuat-buat untuk terlihat lebih berkesan atau terlihat keren. Padahal kata tersebut merupakan kependekan perebut laki orang. Jadi kalau mencari kata tersebut dalam kamus, tidak akan ditemukan. 

Istilah ini mulai viral sejak media media berita memberitakan seputar pasangan maupun pernikahan selebritis. Istilah ini kian viral setelah pengguna media sosial mengunggah video seorang pelakor sedang dihamburkan uang oleh istri sahnya. Tidak hanya itu, pelakor juga dimaki-maki.

Pelakor Dalam Perspektif Islam

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa pelakor sama dengan perusak rumah tangga orang. Lalu bagaimana pelakor dalam pandangan islam?

Islam melarang merusak rumah tangga orang. Dalam hal ini, islam menyebut sebagai takhbib. Jadi Pelakor sama dengan takhbib. Takhbib secara bahasa artinya menipu dan merusak dengan menyebut-nyebut kejelekan suami di hadapan istrinya atau kebaikan lelaki lain di depan wanita itu.

Dalil larangan takhbib, Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  (( مَنْ خَبَّبَ عَبْدًا عَلَى أَهْلِهِ فَلَيْسَ مِنَّا، وَمَنْ أَفْسَدَ اِمْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba sahaya dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari (golongan) kami, dan siapa yang merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah dari (golongan) kami".[1]

Takhbib / Pelakor adalah perbuatan dosa, yaitu memisahkan seorang wanita agar terpisah dari suaminya dan merusak seorang suami agar terpisah dari istrinya. Menzalimi seseorang suami dengan memisahkan isterinya dan kejahatan terhadap ranjangnya mencegah hak suami, dll hal itu lebih besar dibandingkan merampas hartanya secara zalim.

Siapa saja yang mau merusakkan hubungan antara suami istri. Maka ia tidak dianggap golongan nabi. Bahkan, merusak hubungan rumah tangga orang termasuk dosa besar dan sebagai ancaman berat [2]

Termasuk takhbib adalah ketika seseorang memberikan perhatian, empati, menjadi teman curhat terhadap wanita yang sedang ada masalah dengan keluarganya.  Merusak hubungan istri dengan suaminya, tidak hanya dalam bentuk memotivasi dia untuk menggugat cerai. Bahkan semata upaya memberikan empati, belas kasihan, berbagi rasa, dan segala sebab yang membuat si wanita menjadi jatuh cinta.

Rasulullah Saw. Selalu memberikan ancaman keras untuk pelanggaran semacam ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا 

”Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.”[3] 

Rasulullah Saw. bersabda :

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا 

”Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.”[4]

Imam Ibnul Qoyim menjelaskan tentang merusak rumah tangga orang lain, bahwa takhbib merupakan dosa besar

وقد لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم من فعل ذلك ، وتبرأ منه ، وهو من أكبر الكبائر ، وإذا كان النبي صلى الله عليه وسلم قد نهى أن يخطب الرجل على خطبة أخيه وأن يستام على سومه : فكيف بمن يسعى بالتفريق بينه وبين امرأته وأمته حتى يتصل بهما 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan takhbib, dan beliau berlepas diri dari pelakunya. Takhbib termasuk salah satu dosa besar. Karena ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang untuk meminang wanita yang telah dilamar oleh lelaki lain, dan melarang seseorang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, maka bagaimana lagi dengan orang yang berusaha memisahkan antara seorang suami dengan istrinya atau budaknya, sehingga dia bisa menjalin hubungan dengannya.[5]

Berhati-hatilah dalam bergaul dengan lawan jenis, siapapun dia, terutama wanita yang telah bersuami. Barangkali ada wanita yang sedang bermasalah dengan suaminya, lalu wanita tersebut curhat kepada orang lain tentang persoalan keluarga, yang pada akhirnya si wanita berfikir bahwa ia lebih menyukai pria itu daripada suaminya.
__________________
[1] HR. Imam Ahmad, Al-Musnad Juz 2, hal. 397. HR. An Nasai, Sunan Kubra juz 5, hal. 385. Al Bazar, Mawarid al-Zham'an juz 1, hal. 320
[2]Al-Zawajir juz 2, hal. 577
[3] HR. Abu Daud No. 2175
[4] HR. Ahmad No. 9157
[5] Al-Jawab al-Kafi, hlm. 154)

Aden Zaied Alfarobi
Artikel : vianeso.com
05 Jumadil Akhir 1439
22 Februari 2018