banner

Makalah Pengertian Fiqih Dan Objek Ilmu Fiqih

Pengertian Fiqih Dan Objek Ilmu Fiqih
KATA PENGANTAR

Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT yang telah memberikan kenikamatan kepada kita semua yaitu nikamat islam dan iman.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah Agama Islam.

Makalah tentang pengertian fiqih dan objek kajian ilmu fiqih ini,  kami sajikan berdasarkan berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

           Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  saya  di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.


DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................................................. 
Kata Pengantar................................................................................................ 
Daftar Isi............................................................................................................ 
BAB I          PENDAHULUAN......................................................................... 
                    1.1. Latar Belakang...................................................................... 
                    1.2. Rumusan Masalah.............................................................. 
                    1.3. Tujuan.................................................................................... 
BAB II        PEMBAHASAN............................................................................. 
                    2.1. Pengertian ilmu fiqih........................................................... 
                    2.2. Objek kajian ilmu fiqih......................................................... 
                    2.3. Tujuan mempelajari ilmu fiqih............................................ 
BAB III       PENUTUP...................................................................................... 
                    3.1. Kesimpulan........................................................................... 
                    3.2. Saran...................................................................................... 
Daftar Pustaka.................................................................................................. 



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ilmu fiqih merupakan salah satu bidang ilmu yang menjadi landasan panduan kita dalam beribadah kepada Allah Swt. Untuk mengetahui bagaimana cara penetapan dan pengambilan hukum, maka ada cara khusus yang disebut dengan metode. Metologi inilah yang akan berperan dalam memahami hukum islam dari petunjuk-petunjuknya itu yakni ushul fiqh.

Segala amal perbuatan manusia, perilaku dan tutur katanya tidak dapat lepas dari ketentuan hukum syari'at, baik hukum syari'at yang tercantum di dalam Quran dan Sunnah, maupun yang tidak tercantum pada keduanya, akan tetapi terdapat pada sumber lain yang diakui syari'at.Sebagaimana yang di katakan imam Ghazali, bahwa mengetahui hukum syara' merupakan buah (inti) dari ilmu Fiqh dan Ushul fiqh. ilmu fiqh meninjau dari segi hasil penggalian hukum syara', yakni ketetapan Allah yang berhubungan dengan perbuatan orang-orang mukallaf, baik berupa igtidha (tuntutan perintah dan larangan), takhyir (pilihan), maupun berupa wadhi (sebab akibat), yang di maksud dengan ketetapan Allah ialah sifat yang telah di berikan oleh Allah terhadap sesuatu yang berhubungan dengan orang-orang mukallaf. Seperti hukum haram, makruh, wajib, sunnah, mubah, sah, batal, syarat, sebab, halangan (mani')

Dalam pembahasan ini akan menyajikan beberapa kajian seperti pengertan fiqih, objek kajian ilmu fiqh, dan sebagainya. Menurut sejarahnya, fiqh merupakan suatu produk ijtihad lebih dulu dikenal dan dibukukan dibanding dengan ushul fiqh. Tetapi jika suatu peroduk telah ada maka tidak mungkin tidak ada pabriknya. Ilmu fiqh tidak mungkin ada jika tidak ada ilmu ushul fiqh.

1.2. Rumusan Masalah
a. Apakah pengertian Fiqih?
b.Apa objek ilmu fiqih?
           c. Apa manafaat mempelajari ilmu fiqih?


1.3. Tujuan manfaat penulisan

            Dengan adanya makalh ini agar dapat menjadi bahan pelajaran dan bahan referensi serta jadi bahan bacaan untuk menguasai dasar ilmu fiqih, khususnya dikalangan para mahasiswa maupun siswa


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ilmu Fiqih

Menurut bahasa fiqih berasal dari kata faqiha- yafqahu- fiqhan (  فقه- يفقه- فقها )yang berarti mengerti, faham akan sesuatu.[1] Dari sinilah ditarik perkataan fiqih yang memberikan pengertian kepemahaman dalam hukum syari’at yang sangat dianjurkan oleh Allah dan Rasulnya Sedangkan menurut fuqaha (faqih), fiqih merupakan pengertian zhanni tentang hukum syariat yang berhubungan dengan tingkah laku manusia .Pengertian mana yang dibenarkan dari dalil-dalil hukum syara’ tersebut terkenal dengan ilmu fiqih. Orang yang ahli fiqih disebut faqih, jamaknya fuqaha, sebagaimana diketahui bahwa dalil-dalil umum dari fiqih itu adalah tafshily yang seperti disebutkan diatas tadi statusnya zhanni dan hukum yang dilahirkan adalah zhanni dan hukum zhanni tentu ada tali pengikatnya. Tali pengikat itu adalah ijtihad, yang akhirnya orang berpendapat fiqih itu sama dengan ijtihad.[2]

 Jadi, ilmu fiqih ialah suatu ilmu  agama, pengertian ini dapat ditemukan dalam surah Thaha ayat 27-28 yang berbunyi:
يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ(28). وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ(27)
Dan lepaskan kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku. (Q.S. Thaha :27-28).

 Selain itu juga ditemukan dalam sabda Rasulullah saw. Yang berbunyi:
مَنْ يُرِدِاللهُ بِهِ جَيْرًايَفْقَهُهُ فِى الدِّيْنِ
Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka ia akan memberikan pemahaman agama (yang mendalam).

Sedangkan pengertian menurut istilah fiqih ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan amaliah yang diambil dari dalil-dalil tafshily .[3]

Dari uraian di atas dapat dikemukakan beberapa definisi sebagai berikut:
a.       Definisi ilmu fiqih secara umum ialah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam syari’at atau hukum Islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia, baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial.
b.      Ilmu fiqih merupakan sekumpulan ilmu yang sangat besar pembahasannya, yang mengumpulkan berbagai ragam jenis hukum Islam dan bermacam aturan hidup , untuk keperluan seseorang, golongan, dan asyarakat umum manusia.[4]
secara umum Ilmu Fiqih itu dapat disimpulkan bahwa jangkauan fiqih itu sangat luas, yaitu membahas masalah-masalah hukum Islam dan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan kehidupan manusia.
c.       Definisi fiqih yang dikemukakan oleh ustazd Abdul Hamid Hakim, antara lain:
اَلْفِقْهُ لُغَةً اَلْفَهْمُ, فَقِهْتُ كَلاَمَكَ أَيْ فَهِمْتُ
“fiqih menurut bahasa:Faham, maka tahu aku akan perkataan engkau, artinya faham aku”
(وَاصْطِلاَحًا: اَلْعِلْمُ بِالأَحْكَامِ الْشَّرْعِيَّةِ الَّتِىْ طَرِيْقُها الْاءِجْتِهَاد
“fiqih menurut istilah mengetahui hukum-hukum agama Islam dengan cara atau jalannya Ijtihad”.
  كَالْعِلْم بأنّ النّيّة فى الوضوءواجبة ونحو ذلك من المسائل الاءجتهاديّة لقوله صلى الله عليه وسلم:  إنّماالأعمال باانّيات
Seperti mengetahui bahwa sesungguhnya niat pada berwudhu adalah wajib dan seperti demikian itu sebagai dari Ijtihad sebagaimana kata Nabi Muhammad SAW: ”sesungguhnya pekerjaan-pekerjaanitu dimulai dengan niat”.[5]
            Kalau kita mengetahui dan mempelajari definisi fiqih yang telah dikemukakan para ahli fiqih dalam berbagai masa perkembangannya jelaslah bahwa definisi fiqih telah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zamannya masing-masing , maka para ahli fiqih dalam memberi definisi fiqih juga berubah/ berbeda. Coba perhatikan definisi fiqih di bawah ini.

1.     Pengertia /  Definisi fiqih pada abad I ( pada masa sahabat )
Definisi fiqih dimasa ini ialah ilmu pengetahuan yang tidak mudah diketahui oleh masyarakat umum. Sebab untuk mengetahui fiqih atau ilmu fiqih hanya dapat diketahui oleh para liyatafaqqahufiddin  dimana mereka dapat membahas dengan meneliti buku-buku yang besar dalam masalah fiqih.
            Siapa yang dikehendaki Allah, mereka akan memperoleh pengetahuan fiqih yang mendalam , yaitu semasa belum lahirnya mazhab, tapi fiqih waktu itu dalam tangan sahabat dan tabi’in , karena orang pada waktuitu belum berpegang pada suatu mazhab dari seorang mujtahid.[6]

2.      Definisi fiqih pada abad  II ( masa telah lahirnya mazhab-mazhab )
Pada abad ini telah lahir pemuka-pemuka mujtahid yang mendirikan mazhab- mazhab yang terbesar dikalangan umat islam.  Definisi   fiqih yang dikemukakan Abu Hanifah, ahli agama dan mujtahid besar dan tertua pada akhir masa sahabat tabi’in menyatakan :
عِلْمٌ يُبَيِّنُ الْحُقُوْقَ وَالْوَاجِبَاتِ الَّتِىْ تَتَعَلَّقُ بِأَفْعَالِ الْمُكَلَّفِيْنَ
Ilmu yang menerangkan hak dan kewajiban.
Yang dimaksud dengan definisi diatas ialah suatu pengetahuan yang menerangkan dari segala yang diwajibkan, disunatkan, dimakruhkan dan dibolehkan oleh ajaran islam.[7]
3.      Definisi fiqih menurut ahli ushul dari Ulama-Ulama Hanafiah.
Definisi fiqih menurut ulama Hanafiah ialah:
علم يبين الحقوق والواجبات التي تتعلق بأفعال المكلّفين
Ilmu yang menerangkan segala hak dan kewajiban berhubungan dengan amalan para mukallaf.
4.      Definisi  fiqih yang dikemukakan oleh pengikut-pengikut Syafi’I ialah:
اَلْعِلْمُ الَّذِىْ يُبَيِّنُ الأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّة الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِأَفْعَالِ الْمُسْتَنْبَطُ مِنْ اَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّة
Ilmu yang menerangkan segala hukum agama yang berhubungan dengan perbuatan para mukallaf yang diistinbat dari dalil-dalil tafshily.[8]
5.       Definisi fiqih menurut ibnu khaldun ialah:
الفقه معرفة احكام الله تعالى فى افعال المكلفين بالوجوب والحظر والنداب والكراهة والإباحة وهي متلقات من الكتاب والسنة ومانصبه الشارع لمعرفتها من الأدلة فاذااستخرجت الأحكام من تلك الأدلة قيل لهافقه
Fiqih adalah ilmu yang dengannya diketahui segala hukum Allah yang berhubungan dengan segala pekerjaan mukallaf baik yang wajib, sunnah, makruh dan yang mubah yang diistinbathkan dari al-kitab dan as-sunah dan dalil-dalil yang ditegaskan syara’. Apabila dikeluarkan hukum-hukumdengan jalan ijtihad dari dalil-dalilnya, maka yang dikeluarkan itu dinamai fiqih.[9]
6.       Definisi fiqih menurut ulama lainnya ( Ijtihad Islam):
العلم بالأحكام الشرعية العملية المستنبط من ادلتها التفصيلية
Suatu ilmu yang dengan ilmu itu kita mengetahui hukum-hukum syara’ yang amaliyah yang diperoleh dari dalili-dalilnya yang secara rinci.[10]



2.2. Objek Kajian Ilmu Fiqih


Objek pembahasan dalam Ilmu Fiqih adalah perbuatan mukallaf ditinjau darari segi hukum syara’ yang tetap baginya. Seorang faqih membahas tentang jual beli mukallaf, sewa menyewa, pegadaian, perwakilan, shalat, puasa, haji, pembunuhan, tuduhan terhadap zina, pencurian, ikrar, dan wakaf yang dilakukan mukallaf, supaya ia mengerti tentang hukum syara’ dalam segala perbuatan ini.

Objek pembahasan dalam fiqih adalah perbuatan mukallaf ditinjau dari segi hukum syara’ yang tetap baginya. Seorang faqih membahas membahas tentang jual beli  mukallaf, sewa menyewa, penggadaian, perwakilan, shalat, puasa, haji, pembunuhan, tuduhan terhadap zina, pencurian, ikrar, dan wakaf yang dilakukan oleh mukallaf,  supaya ia mengerti tentang hukum syara’ dalam segala perbuatan ini.

Adapun objek pembahasan ilmu ushul figh adalah dalil syar’i yang bersifat umum ditinjau dari segi ketepatan-ketepatan hukum yang bersifat umum pula. Jadi seorang pakar ilmu ushul membahas  tentang qiyas dan kehujjahannya, tentang dalil”Amm dan yang membatasinya, dan tentang perintah (amr) dan dalalaahnya, demikian seterusnya.[11]

2.3. Manfaat mempelajari ilmu fiqih

mempelajari kaidah-kaidah fiqih sangat penting sebab permasalahan di dalam fiqih banyak sekali dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Banyak faedah yang bisa dipetik dari belajar dan mengetahui kaidah fiqhiyyah, di antaranya:

1. Sebuah kaidah fiqhiyyah bisa digunakan untuk mengetahui banyak permasalahan fiqhiyyah yang tercakup dalam pembahasannya.
Dan ini akan sangat memudahkan seorang penuntut ilmu untuk mengetahui hukum-hukum fiqih tanpa harus menghafal setiap permasalahan satu per satu, karena masalah-masalah di dalam fiqih itu banyak sekali. Di dalam madzhab Hanafi saja, disebutkan masalah fiqihnya mencapai 500 ribu masalah. "Bagaimana dengan madzhab lainnya? Dan bagaimana pula dengan perkembangan zaman sekarang?!!
Berkata al-Imam al-Qarrafi, "Barang siapa menguasai fiqih lewat penguasaan kaidah-kaidahnya, maka dia tidak butuh untuk menghafal semua permasalahannya satu per satu karena sudah tercakup di dalam keumuman kaidah tersebut."

2. Penguasaan kaidah fiqhiyyah akan sangat membantu seseorang di dalam memberikan sebuah hukum yang kontemporer dan belum pernah terjadi sebelumnya dengan cara yang mudah.
Sebab, Islam ini agama yang sempurna. Akan tetapi, kesempurnaan Islam bukan dengan membahas satu per satu masalah, melainkan dengan memberikan kaidah-kaidah indah.
Tinggal kita mau mempelajarinya ataukah tidak.
Alangkah bagusnya ucapan al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah,
فَلَيْسَتْ تَنْزِلُ فِي أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ اللهِ نَازِلَةٌ إِلَّا وَفِي كِتَابِ اللهِ الدَّلِيْلُ عَلَى سَبِيْلِ الْـهُدَى فِيْهَا
"Tidak ada satu pun masalah baru yang menimpa seorang yang memiliki pengetahuan agama kecuali di dalam al-Qur'an telah ada jawaban dan petunjuknya."

3. Mengetahui keindahan syari'at Islam dan intisari syari'at
Dengan mempelajari kaidah fiqih, kita akan semakin bangga dan yakin dengan agama Islam yang relevan untuk setiap zaman dan tempat, dan mampu menjawab berbagai permabalahan dan tantangan zaman. Inilah yang diisyaratkan al-Qarrafi tatkala berkata, "Kaidah-kaidah yang mulia dan agung sekali, mengandung rahasia-rahasia syari'at dan hikmah-hikmahnya.''
Ibnu Asyur berkata, "Kaidah fiqih diambil dari berbagai masalah cabang fiqih yang banyak dengan mengetahui hubungannya terhadap tujuan pokok syari'at dan keindahan syari'at."

4. Agar ilmu fiqihnya kuat dan kokoh
Lihatlah para ulama yang mantap ilmunya, rata-rata mereka memiliki pengetahuan kaidah-kaidah yang sangat matang, seperti Syaikhul slam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim yang anyak perhatian tentang masalah kaidah-kaidah. Oleh karena itu, termasuk kesalahan di dalam menuntut ilmu adalah jika hanya menyibukkan ddengan perkara-perkara cabang masalah fiqih namun tidak mempelajari kaidah-kaidahnya. contoh, dia menyibukkan dengan perincian bab air hingga sedetail-detailnya tetapi ternyata dia berada di samudra luas tanpa kaidah sehingga dia berenang tanpa mengetahui jurus renang dan akhirnya dia pun tenggelam. Al-Qarrafi berkata, "Barang siapa mempelajari cabang masalah tanpa kaidahnya maka dia akan plinplan, goncang, dan tidak mapan.[12]


BAB III
Kesimpulan

Menurut Bahasa Fiqih Berarti faham atau tahu. Menurut istilah, fiqih berarti ilmu yang menerangkan tentang hukum-hukum syara’ yang berkenaan dengan amal perbuatan manusia yang diperoleh dari dalil-dali tafsil (jelas).Orang yang mendalami fiqih disebut dengan faqih. Jama’nya adalah fuqaha, yakni orang-orang yang mendalami fiqih.

Objek pembahasan dalam Ilmu Fiqih adalah perbuatan mukallaf ditinjau darari segi hukum syara’ yang tetap baginya.

mempelajari kaidah-kaidah fiqih sangat penting sebab permasalahan di dalam fiqih banyak sekali dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.


DAFTAR PUSTAKA
[1] Prof. DR. H. Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: PT Mahmud yunus wadzuriyah, t.t, hal. 321
[2] Drs. H. Syafii karim, Fiqih- Ushul Fiqih, Bandung: CV Pustaka Setia, 2001, hal. 11
[3] Imam Abu Sujak, fathul Qarib Al mujib, Semarang: Toha putra, t.t, hal. 3
[4] Prof. Dr. TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam, Jilid I, bulan Bintang, 1980, hal. 22
[5] Opcit, Syafi’i, hal. 19
[6]  Ibid, hal. 31
[7] Ibid, hal. 32
[8] Ibid, Hal. 36
[9] Ibid, Hal. 37
[10] Ibid, Hal 39
[11] Drs. H. A. Syafi’I Karim. Fiqih Ushul Fiqih. (Bandung: Pustaka Setia, 1997). Hlm.23
[12] Majalah al-Furqon Gresik, No. 161, Ed.2 Th. Ke-15_1436H