Makalah Iman Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan

MAKALAH TENTANG IMAN DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN
Makalah Iman Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan

KATA PENGANTAR
Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT yang telah memberikan kenikamatan kepada kita semua yaitu nikamat islam dan iman.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah Agama Islam.

makalah tentang iman yang  kami sajikan berdasarkan berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

           Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Mercu Buana. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  saya  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  saya  di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

DAFTAR ISI


Halaman Judul.................................................................................................
Kata Pengantar................................................................................................
Daftar Isi............................................................................................................
BAB I          PENDAHULUAN.........................................................................
                    1.1. Latar Belakang......................................................................
                    1.2. Rumusan Masalah..............................................................
                    1.3. Tujuan....................................................................................
BAB II        PEMBAHASAN.............................................................................
                    2.1. Pengertian Pendidikan Karakter.......................................
                    2.2. Contoh Program Pendidikan Karakter.............................
                    2.3. Peran Pendidikan Karakter................................................
BAB III       PENUTUP......................................................................................
                    3.1. Kesimpulan...........................................................................
Daftar Pustaka..................................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Iman atau percaya kepada Tuhan merupakan fitrah manusia sebagai makhluk yang diciptakan,karena ia tak mampu hadir tanpa ada yang menghadirkan.Petunjuk akal telah menyatakan kewujudan Allah,karena seluruh makhluk yang ada ini,termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian,sudah tentu ada pencipta yang menciptakannya. Yang artinya,tidak ada suatu hasil penciptaan tanpa Pencipta .”Apabila anda ditanya,dengan apa anda mengenala Rabb anda?Maka jawablah,dengan ayat-ayat dan makhluk-makhluk-Nya.Diantara ayat-ayat-Nya adalah malam,siang,matahai dan bulan.Diantara makhluk-makhluk-Nya adalah tujuh langit dan tujuh bumi beserta siapa saja yang berada didalamnya serta apa saja yang berada diantara keduanya

Dasar iman orang-orang islam adalah ada enam iman yang harus selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan harus diyakini. Sesungguhnya, bagaimanapun besar kekuatan yang ada di jagat raya ini, ia dapat ditundukkan oleh satu kekuatan sepele yang diiringi oleh kemauan yang kuat, yang dilandasi oleh pengusaan terhadap seba-sebab penaklukan dan pengendalian terhadap kekuatan penghambat. Inilah yang dinamakan hukum alam kontinu.
Suatu akidah yang bersih lagi hak, jika telah melekat dengan mantap pada seseorang, pastilah membuat segala perilaku kehidupannya menjadi istiqamah. Dan, jika aqidah yang bersih lagi hak telah menaungi suatu masyarakat, maka akan tegaklah masyarakat tadi dan sanggup mencapai kesempurnaan puncak kemanusiaan.


1.2. Rumusan Masalah
Apakah pengertian iman?
Apa saja rukun Iman?
Bagaimana pengaruh iman terhadap kehidupan?

1.3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah dan untuk menambah dan membuka wawasan bagi mahasiswa terkait tentang keimanan. Serta dengan makalah ini juga dapat dijadikan rujukan sebagai bahan dalam membuat sebuah karya tuilis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertin Iman
Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat".  Kata Iman berasal dari bahasa arab yaitu  “امن “ yang artinya aman,damai,tentram.Dalam pengertian lain adalah : Keyakinan,kepercayaan.M Hasbi Ash-Shiddiqi dalam bukunya “Sejarah dan Pengantar I Tauhid / Kalam”,Aqidah Atau Iman  menurut bahasa adalah : sesuatu yang dipegang teguh dan terhujam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih padanya[

Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang". Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama selainnya.Dengan demikian definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.
“Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka yang sudah ada.” QS. Al Fath [48] : 4

Imam Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan amal.” Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.

Iman ialah mempercayai dengan sepenuh hati Allah (Tuhan) sebagai Pencipta dari segala yang ada dialam semesta ini,dengan mencakup syarat – syarat beriman kepada allah swt sebagai Tuhan yang dilandasi oleh dalil naqli ataupun aqli.Hal-hal yang mengungkap tentang mempercayai allah sebagai tuhan dapat ditemukan didalam landasan naqli (ayat tertulis) ataupun landasan aqli (dengan menggunakan akal/rasionalitas).Ketika kepercayaan kepada Allah tidaklah mantap,maka kepercayaan yang lain tidaklah mantap pula.Oleh karena itu,Allah dan rasul-Nya memerintahkan kepada manusia untuk memantapkan kepercayaan kepada Allah.


2.2. Rukun Iman

A.   Iman kepada Allah SWT

Tauhid atau keesaan Allah memainkan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Tauhid memjadi pemancar kabaikan di dunia dan keselamatan di akhirat. Kadar keselamatan di akhirat berbanding lurus dengan kadar keyakinan dalam tauhid. Begitu pula halnya dengan keridhaan Allah di dunia dan di akhirat. Dunia adalah tempat pengujian dan akhirat adalah tempat pembalasan.

Ada lima tingkatan  dalam Tauhid, pertama, Tauhid dalam zat, yaitu Allah adalah satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan, tidak ada sesuatu pun ang serupa dengan-Nya. Kedua, Tauhid dalam sifat, bahwa Allah adalah maha sempurna dan maha tinggi. Meskipun Allah menyandang berbagai macam sifat, kuantitas berbagai sifat itu muncul melalui pemahaman akal bukan melalui pengungkapan Zat dan realitas eksternal. Sifat itu adalah” esensi yang berdiri sendiri”. Ketiga,Tauhid dalam perbuatan, yaitu seorang mukmin hendaknya meyakini bahwa Allah telah menciptakansegala sesuatu, segenap aturan, dan berbagai karakteristiknya masing-masing. Keempat, Tauhid dalam ibadah yaitu ibadah yang hanya diperuntukkan kepada Allah SWT. Kelima,Tauhid dalam kekuasaan hokum, yaitu pembuatan segala jenis hokum yang bertentangan dengan hokum-hukum Allah adalah dosa. Namun, pembuatan rincian hukum-hukum mengenai berbagai aturan yang telah dijelaskan oleh syariat secara global adalah hak manusia.

B.   Iman kepada malaikat
Banyak riwayat shahih menunjukkan bahwa orang-orang mukmin yang muttaqin dapat berjumpa dengan malaikat dalam keadaan tertentu. diantara riwayat shahih yang menegaskan hal tersebut adalah kisah Handhalah bin Rabi’i RA diriwayatkan pada suatu hari Handhalah mnejelaskan kepada rsulullah bahwa ia lupa pelajaran apa yang didengarnya dari majlis Rasulullah. Ketika itu Rasul menjelaskan tentang surga dan neraka,karena sepulang kerumah,ia bercanda dan bercengkrama bersama keluarganya,Handhalah mengira bahwa yang demikian itu termsuk munafiq. Lalu,bersabdalah Rasulullah,” hai Handhalah! Sekiranya engkau senantiasa dalam keadaan sepertisaat berada dalam majlisku, maka engkau akan dihormati oleh malaikat di tempat tidurmu dan di jalan yang kamu lalui.akan tetapi,wahai Handhalah, sesekali begini, dan sesekali yang lain (beliau mengucapkannya 3 kali)”(HR.Muslim dan Tirmidzi).

Hakekat malaikat dan sifat-sifatnya

1.      Malaikat diciptakan dari cahaya
2.      Malaikat kadang-kadang bersama kita,tetapi kita tidak menyadarinya.sering terjadi malaikat datang dan duduk brsama dalam majlis Rasulullah,sedaang orang dalm majlis itu tidak mengetahuinya.dikisahkan dalam sebuah hadis dari Abi Salamah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim bahwa Aisyah r.a. berkata, “sesungguhnya Rasulullah bersabda, ‘Wahai, Aisyah, inilah Jibril a.s. telah datang dan mengucapkan salam kepadamu’ Aisyah menjawab,’semoga keselamatan dan rahmat Allah senantiasa diberikan kepadanya. Dia melihat-(ku) sedang aku tidak melihatnya.’’’ (Muttafaq ‘alaiIh)
3.      Malaikat dapat mengubah-ubah wujud dan bentuk badannya.Berwujud manusia yang tidak dikenal. Berwujud manusia yang dikenal
4.      Memiliki kemampuan dengan seizin-Nya untuk melakukan perbuatan yang menyalahi kebiasaan mereka, juga melakukan pekerjaan yang melebihi kelebihannya.
5.      Sifat malaikat adalah patuh,taat kepada Allah.
6.      Para malaikat senantiasa bertaqarub kepada Allah dan memuliakan-Nya.
7.      Para malaikat tidak menikah dan tidak pula mempunyai keturunan.
8.      Malaikat dijadikan Allah sebagai penyampai wahyu kepada para nabi Allah yang berupa syariat, atau melakukan peran lain yang diperintahkan.
9.      Para malaikat dapat naik dan turun antara langit dan bumi tanpa terpengaruh oleh daya tarik dan tanpa terhalang oleh apapun
10.  Para malaikat sangat takut kepada Allah sekalipun mereka tidak melakukan maksiat dan mereka senangtiasa menjalankan ibadah
11.  Para malaikat diciptakan sebelum penciptaan manusia
12.  Para malaikat memiliki sayap

C.   Iman kepada para Nabi dan Rasul

Iman kepada Allah swt tidak terlpas dari iman kepada rasul-rasul Nya,sebab merupakan bagian dari iman kepada Allah membenarkan semua bentuk dukungan Rabbani.tidak mungkin wahyu datang dari-Nya kecuali disampaikan kepada para rasul-Nya, sebagai penyampai syariat dan agama-Nya dengan benar,

Makna Nubuwah,risalah,Nabi dan rasul
                        an-nubuwah dalam bahasa Arab diambil dari akar kata An-naba yang maknanya ‘berita’ atau (alkabar), atau diambil dari akar kata an-nabwah ‘sesuatu yang tinggi dari permukaan bumi‘, jika sesuatu itu meninggi, maka dikatakan “naba-a asy-syaiu”.
Adapun menurut istilah syari’at, an-nubuwwah adalah penunjuk ataunpemilihan Allah terhadap salah seorang dari hambaNya dengan memberinya wahyu. Makna ini sangat relevan dan cocok dengan makna dari segi bahasa. Dengan redaksi lain, definisi nabi adalah ‘hamba (manusia) yang dipilih Allah dan diberiNya wahyu’.

Ar-Risalah didalam bahasa Arab bermakna ‘pengarahan dengan perintah tertentu’. Dengan demikiaan, seorang berarti ‘orang yang mengikuti berita yang diperintahkan kepadanya’ atau menjalankan apa yang diperintahkan pengutusnya.
Adapun definisi menurutt syari’at adalah ‘beban (taklif)  berupa syari’atNya yang Allah letakan kepada para nabiNya untuk disampaikan kepada umat manusia’. Dengan redaksi lain, nabi adalah orang atau hamba  yang dibebani syari’at Allah untuk disampaikan kepada umat manusia.

Dari penjelasan dan penuturan nash-nash Al-Qur’an mengenai nabi dan rosul tersebut, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

1.Kenabiaan dan kerasulan merupakan anugrah dan hasil pemilihan oleh Allah SWT secara murni. Ia tidak dapat dirih oleh siapa pun melalui kerja keras, belajar, atau melakukan penelitiaan. Inilah makna hakiki bagi pemilihanNya.
2.Terdapat perbedaan sifat antara kenabiaan dan kerasulan. Hal ini dapat dipahami berdasarkan nash-nash dari firmanNya “Dan , ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Musa didalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.” (Maryam; 51)
3. Pemilihan nabi terjadi lebih dahulu daripada pemilihan risalah.
4.Allah menetapkan kenabian terhadap sebagian utusan-Nya dan tidak membebani mereka dengan kewajiban bertabligh.dengan demikian,dapat kita nyatakan bahwa mereka itu adalah Nabi, bukan Rasul.dalam hubungan ini,tugas Nabi yang tidak diperintahkan untuk bertabligh adalah memberi fatwa sesuai dengan syariat rasul terdahulu.hal demikian dapat kita lihat dengan jelas di dalam Alquran.disana ditegaskan bahwa jabatan mereka adalah nabi dan tidak diperintahkan untuk bertabligh.

D.   Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Al kitab, secara bahasa adalah bentuk dari ka-ta-ba, sama halnya denagn al-katbu yang berarti mengumpulkan/menyatukan kulit yang sudah dimasak dengan cara menjahitnya, menyusun satu huruf dengan lainnya (menyusun kalimat). Al kitab menurut syar’i adalah firman-firman Allah, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya guna disampaikan kepada manusia.
a.       Kebutuhan manusia akan kitab samawi
1.      Agar kitab yang diturunkan Allahkepada Rasul-Nya menjadi rujukan bagi umatnya sepanjang zaman
2.      Agar kitab tersebut dijadikan hakim pemberi keputusan yang adil pada setiap perkara
3.      Agar kitab tersebut dijadikan penjaga akidah, dan syariat
4.      Agar kitab berperan penjaga risalah dan dakwah rasul.
b.      Kitab-kitab samawi yang wajib diimani
1.      Al qur’an
2.      Shahifah Ibrahim
3.      Taurat
4.      Zabur
5.      Injil.

E.   Iman kepada hari akhir

Alquran turun dengan menunjukkan berbagai realitas yang terungkap 14 abad kemudian. Dalam banyak surat, alquran menyebutkan bahwa bintang di angkasa mempunyai awa dan akhir. Semua bintang diciptakan dan akan mati. Alquran membatasi cara kematian bintang itu dalam bentuk jatuh dan padam. Allah berfirman dalam QS. At takwir ayat 1-2” Apabila matahari digulung, apabila bintang-bintang berjatuhan”

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah jauh tersesat” (QS. An nisa’ : 136)

Nama-nama hari akhir dan maknanya
1.Yaumul-Ba’ats, hari kebangkitan
2.Yaumul-Khuruj, hari keluar
3.Yaumul-Qiyaamah, hari kiamat
4.Yaumul-Din, hari penadilan
5. Yaumul-Fashl, hari pemisahan
6.Yaumul-Hasyr, hari dikumpulkan
7.Yaumul-Jam, hari dikumpulkan
8.Yaumul-Hisab, hari perhitungan
9.Yaumul-Waiid, hari ancaman
10.Yaumul-Hasrah, hari kerugian
11.Yaumul-Khulud, hari yang kekal

Sebelas nama di atas dikaitkan dengan kaya yaum yang merupakan kata keterangan yang menunjukkan waktu, ada nama yang lain yang dikaitkan dengan ad-dar yang merupakan kata keterangan tempat, yaitu;
1.Dar al-Aakhirah, kampung kiamat
2.Dar al-Qaraar, tempat tinggal abadi
3.Dar al-Khulud, tempat kabadian.


F.    Beriman Kepada Qadha dan Qadar

Kata “al-qadhaa-u” mempunyai makna menyempurnakan suatu perkara melaksanakan dan menyelesaikan, baik perkara itu berupa ucapan, amalan,dan kehendak. Menuru Imam Abu Hasan al-Asyari, qadha ialah iaradah Allah yang bersifat azali yang berkaitan dengansegala sesuatu sesuai kehendakNya, menurut bahasa qadha yaitu menyempurnakan sesuatu, melaksanakan, dan menyelesaikan. Al qadar yaitu penciptaan Allah akan sesuatu dengan kadar ukuran yang tertentu denagan qadha.

Menurut Al Maturidiyah (pengikut Abul Manshur al Maturidi, ulama pakar ilmu tauhid), al qadha yaitu penciptaan yang mengacu pada pembentukan, al qadar yaitu penakaran atau penentuan, yakni menjadikan sesuatu denagn iradah pada kadar yang telah ditentukan sebelum keberadaannya.

Hakikat takdir Ilahi
1.      Sebagai ujian
2.      Sarana pendidikan dan pengajaran
3.      Pembalasan yang disegerakan
4.      Tanggung jawab manusia terhadap perbuatannya.

2.3. Pengaruh Iman terhadap kehidupan
           
Menurut Al-qur’an, iman bukan semata-mata suatu keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan iman itu sebenarnya menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan. Al-qur’an dengan tegas memegang taguh pengertian seperti ini, karena menurut Al-qur’an walaupun setan dan malaikat itu sama-sama adanya, namun beriman kepada malaikat acap kali disebut sebagai bagian dari rukun iman, sedang terhadap setan orang diharuskan mengafirinya.
Hal ini misalnya terlihat pada ayat:


لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وللَّهَِ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


“Tidak ada paksaan untuk (memasuki ) agama (islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

 Jadi manusia yang bertaqwa harus bisa meraih dan menyeimbangkan antara iman dan islam. Karena diantara keduanya terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. Iman lebih menekankan kepada segi keyakinan dalam hati, sedangkan islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal.

Salah satu pengaruh Iman kepada Allah, adalah menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat, kerena ketika di dalam hatinya memiliki benteng dan pondasi yang kuat (iman) maka tidak ada satupun yang dapat menyingkirkannya, baik itu dari godaan setan ataupun pengaruh hawa nafsu. Nabi Saw. bersabda: “Tidak berzina orang yang beriman itu, tidak mencuri orang yang beriman itu, dan tidak minum-minuman keras bagi orang yang minum sedang  dalam keadaan beriman”.(HR. Bukhari dan Muslim). Selain menjauhkan diri dari perbuatan ma’siat, masih banyak pengaruh-pengaruh lain, diantaranya adalah :

Menghiasi diri orang yang beriman dengan budi pekerti yang baik, jauh dari kehidupan dan hal-hal yang tidak berguna. Sebagaimana Allah berfirman “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Karni berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah rnasyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122)

Menjadi sumber ketenangan dan kedamaian bagi setiap orang, kerana ia sejalan dengan fitrah dan seiring dengan tabiatnya. Menjadi sumber kebahagiaan bagi masyarakat, kerana ia mengukuhkan ikatan-ikatan masyarakat, merapatkan tali kekeluargaan dan membersihkan perasaan-perasaan dari sifat-sifat tercela. Sebagaimana firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Sucinya hati dan kejernihan jiwa dari persangkaan-persangkaan, khurafat dan takhayul. Dengan begitu ia akan jernih dan bersih sesuai fitrahnya, keadaannya akan meningkat dengan karamah yang ada padanya. Maka setiap rasa tunduk dan khusyu’ di dalamnya untuk menyatukan arah kepada Penciptanya, yang memiliki karunia atas dirinya dan atas seluruh makhluk, serta menjamin kepentingan mereka semua. Bilamana ia merasakan pada dirinya keutuhan penciptaan dan tenjaminnya rezeki maka sirnalah (lenyaplah) ikatan-ikatan takhayul, takut dan harapannya dari makhluk lain, baik para pembesar manusia maupun bayangan menakutkan yang diciptakan oleh daya khayal yang disangka ada pada benda-benda langit (planet dan binatang), pepohonan, bebatuan dan sejenisnya, atau kuburan dari ahli kubur yang dikeramatkan. Maka dengan iman itu ia akan bergantung kepada Allah, Tuhan Yang Maha haq, dan akan berpaling dari yang selain-Nya. Maka bersatulah manusia dalam ketergantungan (ta’alluq) dan tujuan (hadaf), serta hilanglah dorongan-dorongan untuk bersaing dan berselisih.

Menampakkan kemuliaan (izzah) dan kekebalan (mana’ah). Orang yang beriman percaya bahwa dunia adalah mazra’atul akhirah (ladang untuk akhirat), seperti dalam firman Allah, “Dan dirikanlah solat dan tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 110) “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8). Dan ia mengimani bahwa apa yang ditakdirkan luput darinya, tidak akan mengenainya, dan apa yang ditakdirkan menimpanya pasti mengenainya. Dengan itu, terhapuslah dari dalam hatinya terhadap perihal kekhuwatiran dari segala macam rasa takut. Maka dia tidak akan rela kehinaan dan kerendahan untuk dirinya, ia tidak akan tinggal diam atas kekalahan dan penindasan.

Dari sini kita mengetahui dengan jelas bagaimana tugas-tugas berat dan agung mampu ditempuh melalui tangan Rasulullah dan juga tangan-tangan para sahabatnya. Sesungguhnya kekuatan bumi semuanya tidak mampu menghadang di depan orang yang hatinya dipenuhi oleh pancaran iman, amalnya didasarkan pada pengawasan Allah dan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhirnya. Kita juga memahami bagaimana para rasul dan para nabi di mana mereka sendirian menghadapi kaum dan umatnya yang bersatu, mereka tidak mempedulikan jumlah manusia dan kekuatannya. Dalam Sejarah Nabi Ibrahim dan Hud terdapat sikap yang dapat menjelaskan dan menampakkan kekuatan iman yang sebenarnya.

Berhias dengan akhlak mulia. Sesungguhnya iman seseorang kepada suatu kehidupan sesudah kehidupan duniawi ini dan di sana akan dibalas segala perbuatan akan membuat dia merasa bahawa hidupnya mempunyai tujuan dan makna yang tinggi; suatu perkara yang dapat mendorongnya untuk berbuat baik, berbudi luhur dan berhias dengan keutamaan, menjauhi kejahatan dan melepas pakaian kehinaan. Dengan begini akan terwujudlah peribadi yang utama dan masyarakat yang mulia serta negara yang makmur.

Bersemangat, giat serta rajin bekerja. Sesungguhnya orang yang beriman kepada qadha’ Allah dan qadar-Nya, mengetahui kaitan antara sebab dan akibat, mengerti nilai amal, kedudukan dan keutamaannya, ia akan mengetahui bahawa di antara taufik Allah bagi manusia adalah petunjuk-Nya untuk mengupayakan sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepada tujuan. Dan dia tidak akan berputus-asa apabila ada sesuatu yang tidak dia capai, sebagaimana dia tidak akan lupa diri dan sombong apabila berhasil meraih keuntungan dunia, sebagai wujud dan iman kepada firman Allah s.w.t., “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan din.” (Al-Hadid: 22-23

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan

Iman ialah mempercayai dengan sepenuh hati Allah (Tuhan) sebagai Pencipta dari segala yang ada dialam semesta ini

Iman ada enam macam :iman kepada Allah.Iman kepada malaikat. iman kepada para Nabi dan Rasul. Iman Kepada Kitab-kitab Allah. Iman kepada hari akhir. Iman kepada hari akhir

Menurut Al-qur’an, iman bukan semata-mata suatu keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan iman itu sebenarnya menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan

Salah satu pengaruh Iman kepada Allah, adalah menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat


DAFTAR PUSTAKA

Drs.Syahminan Zaini,Kuliah Aqidah Islam,(Surabaya:Al-Ikhlas,1983

Syaikh Muhammad Ibn Shalih Al-Utsmaini,Syarah Tsalatsatul Ushul,(Riyadh:Darul Tsarya,1997) cet.III

Drs.Syahminan Zaini,Kuliah Aqidah Islam,(Surabaya:Al-Ikhlas,1983)

Ahmad Bahjat,Mengenal Allah,pustaka hidayah,Bandung;1986


Abdurrahman Habanakah,pokok-pokok aqidah islam,Gema Insani,Jakarta;1986,
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner