Beasiswa

Makalah Aspek Ilmu Fiqih Hukum Islam

Makalah Studi Islam
Aspek Ilmu Fiqih Hukum Islam
Aspek Ilmu Fiqih


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT yang telah memberikan kenikamatan kepada kita semua yaitu nikamat islam dan iman.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah Agama Islam.

Makalah tentang Aspek Ilmu Fiqih Hukum Islam yang  kami sajikan berdasarkan berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Studi Islam. Makalah ini berisi tentang perihal tentang ilmu agama atau fiqih yang mengacu pada pembelajaran Studi Islam.

Makalah ini sebagai tugas dalam menempuh pendidikan. Sebagai bahan sarana dalam proses mencari ilmu. Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam merampungkan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca sekalian dan dapat jadi bahan rujukan untuk semua kalangan.


DAFTAR ISI
Halaman Judul          
Kata Pengantar         
Daftar Isi       
BAB I          PENDAHULUAN          
                    Latar Belakang 
                    Rumusan Masalah        
                    Tujuan   
BAB II        PEMBAHASAN  
                   
Pengertian dan fungsi fiqih, ushul fiqih, qawaid fiqihiyah   
                   
Persamaan dan perbedaan fiqih, ushul fiqih, qawaid fiqihiyah       
                   
Macam-macam mazhab dalam fiqih
         Ruang lingkup fiqih islam
BAB III       PENUTUP         
                    Kesimpulan       
                    Saran     
Daftar Pustaka       



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hukum islam adalah titah Allah SWT yang berkaitan dengan aktivitas para mukallaf, baik berbentuk perintah (suruhan dan larangan), pilihan, maupun ketetapan. Hukum islam tersebut digali dari dalil-dalilnya yang terperinci, yaitu al-quran, sunnah, dan lain-lain yang diratifikasikan kepada kedua sumber asasi tersebut.

Hukum islam atau yang sering kita sebut fiqih ini memiliki kaitan dengan berbagai urusan kita dalam kehidupan. Mulai dari urusan ibadah, urusan muamalah, urusan perekonomian, urusan jinayah, hingga urusan pertahanan Negara dan peperangan.

Adanya fiqih yang mengatur dalam berbagai aspek kehidupan manusia itu menunjukan bahwa fiqih memiliki keterlibatan dan kepedulian yang luar biasa terhadap kehidupan manusia, yakni dengan cara memberikan status hukum pada semua aspek kehidupan tersebut, sehingga menjadi jelas bagi mereka, dan mendapatkan kepastian untuk melakukannya atau meninggalkannya.

Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan fiqih, ushul fiqih, qawaid fiqihiyah dan syari’ah
  2. Bagaimana latar belakang lahirnya fiqih dalam islam
  3. Apa saja mazhab dalam fiqih islam
  4. Bagaimana corak pemikiran setiap mazhab dalam fiqih islam
  5. Jelaskan ruang lingkup fiqih islam

Tujuan Manfaat Makalah
Memenuhi tugas mata kuliah Studi Islam. Memperdalam wawasan dalam masalah ilmu fiqih. Mengetahui macam-macam mazhab dan corak pemikirannya. Mengetahu macam-macam hukum islam

BAB II
PEMBAHASAN

1.  Pengertian dan fungsi fiqih

Fiqih menurut bahasa berasala dari kata faqiha, yafqohu, fiqihan yang artinya mengerti atau faham.

Fiqih ( hukum islam ) ialah sekelompok dengan Syari’ah ─yaitu ilmu yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang diambil dari nash al-qur’an dan al-sunah. Bila ada nash dari Al-quran atau al-sunah yang berhubungan dengan amal perbuatan tersebut, atau yang diambil dari sumber-sumber lain, bila tidak ada nash dari Al-quran atau Al-sunah, maka dibentuklah suatu ilmu yang disebut dengan Ilmu Fiqih.  Dengan demikian Ilmu fiqih adalah sekelompok hukum tentang amal perbuatan manusia yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci. [1]

Yang dimaksud dengan amal perbuatan manusia ini ialah segala perbuatan orang yang mukallaf (dewasa) yang berhubungan dengan bidang ibadat, muamalat, kepidanaan dan sebagainya; bukan yang berhubungan dengan akidah ( kepercayaan). Sebab ilmu ini termasuk ke dalam ilmu kalam. Adapun yang dimaksud dengan dalil-dalil yang terperinci ialah satuan-satuan dalil yang masing-masing menunjukan kepada suatu hukum tertentu. [2]

Adapun yang mengatakan bahawa ilmu fiqih adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum Syari’ah yang bersifat praktis yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci.[3]


Dengan fungsi yang begitu panjang pengertiannya, maka fiqih sering disebut pula sebagai ilmu al-hal (ilmu yang berkaitan dengan tingkah laku manusia) dalam berbagai aspek kehidupan. [4]

2.      Pengertian Ushul Fiqih

Ushul Fiqih adalah ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah atau bahasan-bahasan sebagai metodologi untuk memahami atau memperoleh hukum-hukum Syari’ah yang bersifat praktis dari dalil-dalil yang rinci. Pokok bahasan dalam ilmu ini adalah dalil-dalil Syara’ secara garis besar yang didalamnya terkandung hukum-hukum secara garis besar pula. Dalam bahasa non-Arab, Ushul Fiqih ini sering diterjemahkan dengan teori hukum (Legal theory), karena memang di dalamnya mengandung teori-teori hukum Syari’ah. Sehingga Ushul fiqih ini merupakan bagian terbesar dari filsafat ilmu hukum islam (Syari’ah).

3.      Pengertian Qawa’id Fiqihiyah

Selain ilmu Usul fiqih sebagai metodologi utama dalam memahami dan mendalami hukum Syari’ah (Islam), ada pula metodologi pelengkap yang berfungsi untuk mempermudah dalam pemahaman dan pendalaman hukum islam ini, yakni Qawa’id Fiqihiyah, yang merupakan generalisasi dari hukum-hukum fiqih yang ada, yang berarti ia disusun melalui metode induktif dan karenanya ia sangat bervariasi sesuai dengan hukum fiqih yang memang bervariasi menurut pendapat para Fuqaha’. 

4.      Pengertian Syari’ah

Pengertian syari’ah ini sebenranya mengalami perkembangan, kalau semula ia dipahami sebagai segala peraturan yang datang dari Allah, baik berupa hukum aqidah, hukum-hukum yang bersifat praktis maupun hukum yang bersifat akhlak.

Persamaan dan perbedaannya dengan ushul fiqih, qawaid fiqihiyah dan syari’ah

1.      Perbedaan anatara ilmu fiqih dan ilmu Ushul Fiqih

Perbedaan anatara ilmu fiqih dan ilmu ushhul fiqih ini diantaranya adalah; kalau ilmu fiqih itu membicarakan tentang dalil dan hukum yang bersifat rinci (juz’i), maka Ilmu ushul fiqih membicarakan tentang dalil atau ketentuan yang bersifat garis besar (kulli) yang berfungsi sebagai metodologi dalam memahami dalil-dalil rinci itu. Dalil kulli ini misalnya tentang amr (kata yang berbentuk kata perintah), nahy (kata yang berbentuk larangan), ‘amm(kata yang menunjukan arti umum), khash (kata yang menunjukan arti khusus).

Demikian pula tujuan mempelajari ilmu fiqih adalah mempraktikan hukum-hukum Syari’ah pada perbuatan dan ucapan manusia, maka tujuan mempelajari ilmu ushul fiqih adalah mempraktekkan kaidah-kaidah dan teori-teori terhadap dalil-dalil rinci untuk mengungkapkan hukum-hukum Syari’ah yang terdapat dalam dalil tersebut.

2.      Perbedaan dan persamaan anatara Ushul fiqih dan Qawa’id fiqihiyah

a.       Ushul fiqih merupakan ketentuan umum sebagai metodologi istinhath al-ahkam (memahami hukum-hukum yang terkandung di dalam dalil-dalil yang rinci), maka Qawa’id fiqihiyah merupakan hukum kebanyakan (aghlabiyah) untuk memudahkan dalam memahami masalah-masalah fiqih.

b.      Ilmu Ushul fiqih ini muncul tidak lama setelah munculnya ilmu fiqih (bahkan secara ide lebih dahulu dari pada fiqih), maka Qawa’id fiqihiyah muncul secara belakangan baik menurut fakta maupun ide karena ilmu ini memang merupakan generalisasi dari hukum-hukum fiqih pada rincian masalah-masalah fiqih (kasus hukum) yang ada.

c.       Terdafat persamaan antara Ushul fiqih dan Qawa’id fiqihiyah, yakni keduanya merupakan kaidah-kaidah umum yang mencakup bagian-bagiannya. Hanya saja kalau ushul fiqih itu mencakup dalil-dalil rinci (tafshili), maka Qawa’id fiqihiyah itu mencakup hukum-hukum fiqih pada rincian masalah-masalah fiqih yang ada (juz’i). 

3.      Perbedaan antara fiqih dan syari’ah

Bedanya dengan fiqih ialah, kalau syari’ah itu merupakan hukum yang terdafat dalam Al-quran dan Hadist, maka fiqih merupakan hasil pemahaman dan interpretasi mujtahid terhadap peristiwa yang hukumnya tidak ditemukan di dalam keduanya. Kedua istilah ini dalam bahasa non-Arabnya disebut sebagai “hukum islam” atauIslamic law.

Latar belakang lahirnya fiqih dalam Islam

Fiqih atau ilmu fiqih muncul pada periode Tabi’ al-Tabi’in abad kedua Hijriyah, dengan munculnya para mujtahid di berbagai kota, serta terbukanya pembahasan dan perdebatan tentang hokum-hukum Syari’ah. Munculnya beberapa ulama-ulama mujtahidin ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni: 
(1) perkembangan islam ke berbagai wilayah dengan latar belakang nilai-nilai dan kebiasaan masing-masing yang beraneka ragam mengharuskan adanya pedoman yang bersandarkan hokum-hukum Syari’ah, 
(2) kemudahan untuk merujuk kepada sumber-sumber dasar Syari’ah, 
(3) semangat kaum muslimin untuk berpegang kepada ajaran-ajaran agama, 
(4) adanya iklim yang menunjang, bersamaaan dengan perkembangan filsafat islam dan ilmu-ilmu lainnya, 
(5) perhatian para khalifah terhadap fiqih dan terhadap fuqaha, 
(6) adanya kebebasan berpendapat dibidang ilmiah, tanpa adanya keharusan untuk mengikuti pendapat atau mazhab tertentu, meskipun masih dibatasi selam tidak melawan atau mengikuti penguasa.

Macam-macam mazhab dalam fiqih islam dan corak pemikirannya

Mazhab yang dikenal sampai sekarang ini ada empat mazhab yaitu mazhab Hanafi, mazhab Maliki dan mazhab Syafi’i. mazhab yang satu lagi lebih dikenal dengan mazhab Hambali yang didirikan oleh Ahmad Ibn Hambali.[5]

Abu Hanifah Al-Nu’man Ibn Sabit berasal dari keturunan Persia dan lahir di Kufah pada tahun 700 M. pemikirannnya menggunakan Mazhab Hanafi. Mazhab Hanafi adalah mazhab yang resmi dipakai oleh kerajaan Usmani dan di zaman Bani Abbas banyak dianut di Irak. Sekarang penganut mazhab ini banyak terdapat di Turki Suria, Afganistan, Turkistan dan India. Beberapa Negara masih menggunakan mazhab ini sebagai mazhab resmi seperti Suria, Lebanon, dan Mesir.

Dalam pemikiran mazhab Hanafi ini sangat berhati-hati betul. Ia hanya memakai sunah yang benar-benar diyakininya sunah yang orisional dan bukan sunah buatan.

Malik Ibn Anas lahir di Medinah pada tahun 713 M. dan berasal dari Yaman. Diberitahukan bahwa ia tidak pernah meninggalkan kota ini kecuali untuk melaksanakan ibadah haji ke mekah. Ia meninggal pada tahun 795 M. dan ia juga penganut mazhab Maliki. Mazhab Maliki banyak dianut di Hejaz, Marokko, Tunis, Tripoli, mesir selatan, sudan, Bahrain dan Kuwait, yaitu di dunia Islam sebelah barat dan kurang di dunia islam sebelah timur.

Dalam pemikirannya hukum maliki banyak berpegang pada sunah Nabi dan sunah sahabat. Dalam hala adanya perbedaan anatara sunnah, ia berpegang pada tradisi yang berlaku dimasyarakat Medinah, karena ia berpendapat bahwa tradisi ini berasal dari sahabat, dan tradisi sahabat lebih kuat untuk dipakai sumber hukum.

Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’I lahir di Ghazza pada tahun 767 M. ia berasal dari suku bangsa Quraisy. Ia adalah penganut mazhab Syafi’i yang berpegang pada lima sumber, al-quran, sunah Nabi, ijma’ atau konsensus, pendapat sebagian sahabat yang tidak diketahui adanya perselisihan mereka didalamnya, pendapat yang didalamnya terdapat perselisihan dan qias atau analogi.

Mazhab ini banyak dianut di daerah pedesaan Mesir, palestina, Suria, Lebanon, Irak, Hejaz, India, Indonesia, dan juga di Persia dan Yaman.

Ahmad Ibn Hambali lahir di Bagdad pada tahun 780 M. dan berasal dari keturunan Arab. Ia adalah penganut mazhab Hambali. Mazhab ini dianut di Irak, Suria, Palestina, dan Arab. Di arab, mazhab ini adalah mazhab resmi dari Negara.

Dalam pemikirannya menggunakan lima sumber, al-quran, sunnah, pendapat sahabat yang diketahui tidak mendapat tantangan dari sahabat lain, pendapat seorang atau pendapat sahabat, dengan syarat sesuai dengan al-quran serta sunnah, hadis mursal, dan qias tetapi hanya dalam keadaan terpaksa.

Ruang lingkup fiqih islam

Ilmu fiqih secara konvensional terdiri dari urusan ibadah (seperti shalat, zakat, puasa, ibadah haji). urusan muamalah (seperti perkawinan, dan hal-hal yang berkaitan dengan hibah dan warisan). urusan perekonomian, urusan jinayah (seperti tindakan pidana dan hukumnya).  Hingga urusan pertahanan Negara dan peperangan.

Orang yang pertama kali merumuskan Ushul fiqih dan membukukannya adalah Muhammad Ibn Idris al-syafi’I (150-204 H atau 767-820 M) dengan kitabnya yang berjudul al-Risalah.[6]


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Hukum islam adalah titah Allah SWT yang berkaitan dengan aktivitas para mukallaf,baik berbentuk perintah (suruhan dan larangan), pilihan, maupun ketetapan. Hukum islam tersebut digali dari dalil-dalilnya yang terperinci, yaitu al-quran, sunnah, dan lain-lain yang diratifikasikan kepada kedua sumber asasi tersebut.

Ilmu fiqih merupakan ilmu agama islam yang pertama kali terumuskan secara sistematis, yakni pada abad ke-2 H. ilmu-ilmu lain seperti ‘ulum al-quran dan ulum al-hadistyang memang memiliki hubungan sangat erat dengan ilmu fiqih baru yang terumuskan secara sistematis setelah adanya kritik dari fuqaha terhadap mufassirin dan muhaddisin tentang inkonsistensi metodologi mereka dalam memahami al-quran dan hadis. Sementara itu, ilmu kalam yang pada masa pertumbuhannya mengalami kontroversi dengan ilmu fiqih, baru disusun secara sistematis pada abad ke-4 H.


DAFTAR PUSTAKA

Mukhtar Yahya dan Fathurrahman, Dasar-dasar pembinaan Hukum Islam, ( Bandung: AlMa’arif, 1986), cet. Ke-10, hlm 15
Abuddin Nata, Metedologi Studi Islam, ( jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), cet.7.
Abuddin Nata, Masail Al-fiqihiyah, (jakarta: Keencana, 2006), cet. 2.
Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif,(Jakarta: Kencana, 2011), Cet. 1.
Harun Nasution, islam ditinjau dari berbagai aspeknya, (Jakarta: UI-pers, 1985), cet. 2012.

_________________________________
[1] Mukhtar Yahya dan Fathurrahman, Dasar-dasar pembinaan Hukum Islam, ( Bandung: AlMa’arif, 1986), cet. Ke-10, hlm 15.
[2] Abuddin Nata, Metedologi Studi Islam, ( jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), cet.7. hlm 21.
[3] Abuddin Nata, Masail Al-fiqihiyah, (jakarta: Keencana, 2006), cet. 2. Hlm 21
[4] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif,(Jakarta: Kencana, 2011), Cet. 1. Hlm 24
[5] Harun Nasution, islam ditinjau dari berbagai aspeknya, (Jakarta: UI-pers, 1985), cet. 2012. Hlm 9
[6] Abbudin Nata, Masail al-fiqihiyah, hlm 35