Kisah Yahya bin Yahya An Naisaburi
Kisah Yahya bin Yahya An Naisaburi

Kisah Yahya bin Yahya An Naisaburi

kisah muslim
Siapakah Yahya bin Yahya An-Naisaburi? Beliau merupakan salah satu guru Imam Muslim, yang hadits-haditsnya sering kita baca dan menjadi rujukan umat islam.

Yahya bin Yahya An-Naisaburi mempunyai kisah yang menarik, tentang bagaimana menciptakan sebuah keluarga yang bahagia dengan menikahi wanita atau perempuan karena agamanya.

Yahya bin Yahya An-Naisaburi mengatakan, bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu Uyainah lantas berkata: “Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah (maksunya istrinya sendiri). Aku adalah orang yang hina di hadapannya”.

Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?”.

“Benar, wahai Abu Muhammad”, tegas Yahya bin Yahya An-Naisaburi

Kemudian Ibnu Uyainah berkata,

مَنْ ذَهَبَ إِلىَ العِزِّ اُبْتُلِيَ بِالذَّلِّ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى الماَلِ اُبْتُلِيَ بِالفَقْرِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلىَ الدِّيْنِ يَجْمَعُ اللهُ لَهُ العِزَّ وَالماَلَ مَعَ الدِّيْنِ

“Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama”.

Kemudian beliau mulai bercerita,

“Kami adalah empat laki-laki bersaudara, Muhammad, Imron, Ibrahim dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak yang paling sulung sedangkan Imron adalah bungsu. Sedangkan aku adalah tengah-tengah.

Ketika Muhammad hendak menikah, dia berorientasi pada kehormatan. Dia menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada dirinya. Pada akhirnya dia jadi orang yang hina.

Sedangkan Imron ketika menikah berorientasi pada harta. Karenanya dia menikah dengan perempuan yang hartanya lebih banyak dibandingkan dirinya. Ternyata, pada akhirnya dia menjadi orang miskin. Keluarga istrinya merebut semua harta yang dia miliki tanpa menyisakan untuknya sedikitpun.

Maka aku penasaran, ingin menyelidiki sebab terjadinya dua hal ini. Tak disangka suatu hari Ma’mar bin Rasyid datang. Lantas bermusyawarah dengannya.

Kuceritakan kepadanya kasus yang dialami oleh kedua saudaraku. Ma’mar lantas menyampaikan hadits dari Yahya bin Ja’dah dan hadits Aisyah.

Hadits dari Yahya bin ja’dah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan hadits dari Aisyah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biaya pernikahannya” (HR Ahmad no 25162, menurut Syeikh Syu’aib al Arnauth, sanadnya lemah).

Oleh karena itu kuputuskan untuk menikah karena faktor agama dan agar beban lebih ringan karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di luar dugaan Allah kumpulkan untukku kehormatan dan harta di samping agama.[Tahdzib al Kamal, 11/194-195]

Kisah Yahya bin Yahya An-Naisaburi ini, menjadi pelajaran bagi kita. Bahwa, janganlah menikahi wanita karena hartanya, kecantikannya, nashabnya. Tapi nikahilah wanita karena agamanya.

Jangan mencintai perempuan karena cantiknya. Karena suatu saat kecantikan akan hilang. Jangan mencintai laki-laki karena tampannya. Karena ketampanan akan segera luntur.

Jangan saling mencintai hanya karena hartanya, sebab kekayaan itu tak bisa bertahana lama. Mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cintailah seseorang karena agamanya, karena ia adalah aset untuk akhirat selamanya.