banner

Hukum Idgham Dalam Kaidah I'lal

idgham
Dalam kaidah i'lal ilmu shorof, terdapat istilah idgham atau memasukkan dalam merubah kata. Seperti lafadz مَدًّا yang lafadz asalnya adalah dua huruf "DAL" karena sama maka di idghamkan (dimasukkan) 

Hukum atau ketentuan idgham adalah sebagai berikut :       

1.  Wajib diidghamkan apabila :

a. Dalam dua huruf yang satu jenis dalam satu alimat baik adanya dua huruf tersebut berharokat semua seperti contoh مَرَّ dan يَمُرُّ berasal dari  lafad  مَرَرَ dan يَمْرُرُ  atau adanya huruf yang pertama sukun dan huruf yang kedua berharokat seperti contoh مَدًّا  berasal dari lafad مَدْدًا 

Jika adanya huruf yang pertama itu sukun maka boleh di idgomkan pada huruf yang kedua dengan tanpa perubahan seperti contoh عَضًّا berasal dari lafad  عَضْضًا , ketika adanya huruf yang pertama itu berharokat maka harokat tersebut di buang kemudian diidgomkan hal ini ketika adanya huruf  yang jatuh sebelumnya berharokat atau di dahului huruf mad seperti contoh رَدَّ  dan رَادٍّ  berasal dari lafad رَدَدَ  dan رَادِدٌ  jika adanya huruf  yang jatuh sebelumnya berharokat sukun maka harokat huruf pertama harus di pindah pada huruf sebelumnya seperti contoh يَمُدُّ  berasal dari lafad يَمْدُدُ .

b. Dalam dua macam lafad yang saling berdampingan {ketika adanya akhir lafad yang pertama berharokat sukun} dan adanya dua lafad tersebut seperti satu kalimat seperti contoh  سَكَتُّ سَكَنَّا اُكْتُبْ بِا لْقَلَمْ قُلْ لَهُ 

Hanya saja jika adanya lafad yang kedua berupa domir maka wajib idgom secara lafad dan tulisan, jika lafad yang kedua tidak berupa domir maka wajib idgom secara lafad bukan dalam tulisan.

2.   Boleh diidghamkan:  

a. Ketika adanya huruf yang pertama berharokat dan huruf yang kedua sukun {dengan sukun yang baru dikarenakan jazem atau semisalnya}seperti contoh  لَمْ يَمُدَّ dengan idgom,maka boleh di ucapkanلَمْ يَمْدُدْ  dan اُمْدُدْ  tanpa idgom. Pembacaan dengan tanpa idgom itu lebih baik dari pada dengan idgom seperti contoh dalam ayat Al-qur’an يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِئُ وَلوْلَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ dan وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوْ بِهِمْ 

Adanya harokat huruf yang kedua dari dua macam huruf yang di idgomkan dalam fi’il mudori’ yang di jazemkan dan fi’il amar, yang kedua fi’il tersebut tidak bersambung dengan  wawu jama’,alif tatsniah dan ya’ muannats mukhotobah. itu tidak ikut pada harokat fa’ fi’ilnya.

Huruf akhir dari lafadz yang fa’ kalimatnya dibaca domah boleh dibaca fathah, domah dan kasroh seperti contoh لَمْ يَمُدَّ  لَمْ يَمُدِّ  dan  لَمْ يَمُدُّ 

Huruf akhir dari lafad yang fa’ kalimatnya di baca fathah boleh di baca fathah dan kasroh seperti contoh لَمْ يَعَضَّ dan  لَمْ يَعَضِّ

Huruf akhir dari lafad yang fa’ kalimatnya di baca kasroh boleh di baca fathah dan kasroh seperti contoh لَمْ يَفِرَّ dan  لَمْ يَفِرِّ. Maka i’rob jazem fi’il mudori’ nya itu dengan sukun yang dikira-kirakan pada akhir kalimat.

b. Adanya a’in dan lam kalimat berupa huruf ya’ yang lazim dan ya’ yang kedua berharokat seperti contoh عَيِيَ  dan حَيِيَ maka menjadi lafad  عَيَّ  dan  حَيَّ .

c. Ketika dalam permulaan fi’il madhi terdapat dua ta’ seperti contoh  تَتَابَعَ dan تَتَبَّعَ  maka boleh idghom dengan menambahkan hamzah wasol pada  permulaannya karena untuk mencegah awal kalimat dibaca sukun seperti contoh  إِتَّابَعَ dan  إِتَّبَّعَ.

d. Adanya dua huruf yang sama,berharokat dalam dua kalimat seperti contoh  جَعَلَ لِي dan  وَكَتَبَ بِالْقَلَمْ . maka boleh idghom dengan mensukunkan huruf yang pertama seperti contoh  جَعَلْ لِي dan  كَتَبْ بِالْقَلَمْ  boleh idghom dalam lafad bukan tulisan

3.  Larangan idgham:

a. Dua huruf yang sama yang terdapat pada awal kalimat seperti contoh دَدَنٍ  dan  تَتَرٍ 

b. Kalimat isim yang mengikuti wazan فُعَلٍ  فُعُلٍ - فَعَلٍ dan  فِعَلٍ seperti contoh  جُدَدٍ  سُرُرٍ طَلَلٍ  dan  حِلَلٍ .

c. Adanya dua huruf yang sama merupakan huruf tambahan untuk ilkhaq baik adanya huruf tambahan itu merupakan salah satu dari dua huruf yang sama seperti contoh جَلْبَبَ atau bukan seperti contoh هَيْلَلَ.

d. Adanya huruf yang pertama dari dua huruf yang sama itu sudah diidghomkan seperti contoh  شَدَّدَ  dan مُشَدِّدٌ .

e.  Adanya dua huruf yang sama mengikuti wazan  أَفْعِلْ  seperti contoh أحْبِبْ بِهِ.

f.  Salah satu dari dua huruf yang sama tersebut berharokat sukun akan tetapi bukan merupakan sukun yang asli. sukun yang disebabkan karena bertemu dengan dhomir mutakharrik makhal rofa’ seperti contoh  مَدَدْتُ dan مَدَدْنَا.

g.  Huruf yang pertama pada fi’il mudhori’ berupa dua huruf ta’ yang sama seperti contoh تَتَوَقَّفُ lafad tersebut boleh dibaca ringan dengan membuang salah satu ta’ nya.contoh تَوَقَّفُ.