Al Qur’an Raksasa Ada Di Museum keraton sumenep

Al Qur’an Raksasa
Di Museum keraton sumenep terdapat Al qur'an Besar Tulisan Tangan. Museum Keraton Sumenep merupakan tempat penyimpanan benda pusaka peninggalan para raja yang pernah memimpin daerah yang berada di wilayah ujung timur pulau garam Madura. Para pengunjung bisa melihat benda-benda bersejarah, seperti Kereta Kencana dan Senjata Perang prajurit Keraton Kabupaten Sumenep.

Keraton Sumenep sendiri dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762. Arsiteknya adalah Liaw Piau Ngo dari China yang memadukan gaya arsitektur Islam, Eropa, China, dan Jawa. Bangunannya terdiri dari bangunan induk keraton, taman sare, dan ladang museum. Disetiap ruangan terpajang berbagai benda yang menjadi saksi kekuasaan dan keberadaan Museum Keraton. Di museum ini Anda juga tersisa pemandian putri Keraton Sumenep.

Al Qur’an Raksasa Ada Di Museum keraton sumenep
Dari sekian benda yanag bersejarah ini ada yang paling menarik, Al-Quran Raksasa yang memiliki berat 500 kilogram dan panjang 4 meter serta lebar 3 meter. Al Quran itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung museum yang datang dari berbagai daerah. Tentu mereka mengharapkan berkah, bagi mereka yang beragama Islam

Al-Quran tersebut saat ini tersimpan dengan rapi di gedung Museum Keraton Sumenep. Tepatnya di gedung Museum III, Pendapa Agung Keraton Sumenep di Kelurahan Pajagalan. Berbagai kisah seputar penulisan mushaf Al-Quran karya Sultan Abdurrahman berkembang di kalangan pengunjung.

Al-Qur’an besar tersebut terbuat dari kertas Panoraga dan sampulnya terbuat dari Kulit Kerbau, di dalam museum, Al-Quran ini menjadi koleksi berharga. Konon ditulis tangan oleh Sultan Abdurahman, yang memerintah Keraton Sumenep sejak 1812-1854 M. Sang Raja yang menguasai 10 bahasa ini mampu menyelesaikan penulisan Al-Quran ini dalam waktu satu hari satu malam. 

Al-Quran ini memiliki berat mencapai 500 kg, dan dalam keadaan dibuka, memiliki ukuran 4x3 meter. Konon, proses penulisan pembuatan Al-Quran raksasa ini berlangsung singkat. Bahkan nalar pun dibuat susah mencernanya. selesai hanya dalam waktu satu hari satu malam.Dalam cerita tutur para sesepuh Keraton yang notabene merupakan keturunan Sultan Abdurrahman, disebutkan bahwa hampir tiap malam sang Raja menulis kitab, termasuk Al-Quran 30 juz tersebut. Ketika menulisnya, ia  tidak menyediakan obor atau penerang lainnya.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner