banner

Toleransi Hari Natal Dalam Islam

toleransi
Masih ingatkah kita dengan Buya Hamka, beliau memilih meninggalkan jabatan sebagai Ketua MUI ketika didesak pemerintah utk mengucapkan "Selamat Natal"

Ya, kelihatannya memang sebatas kata-kata. Hanya sebuah ungkapan yang tidak berpengaruh apa-apa. Padahal, ini adalah soal keyakinan, tentang aqidah, tentang kepercayaan pada agama islam. Entah, apa ruginya jika mereka tidak mendapat ucapan selamat natal.

Islam memang mengajarkan sikap toleransi. Toleransi itu membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi itu tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam.

Toleransi dalam islam dikenal dengan tasamuh yang artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hal. 702, cet. 14). Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009).

Dalam masalah muamalah, Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah berbisnis dengan non-Muslim secara adil dan jujur, selama bukan jual-beli barang haram. An-Nawawi mengatakan, “Kaum Muslimin bersepakat bolehnya bermuamalah (jual beli, sewa, dll.) dengan non Muslim.” (Syarh Nawawi Shahih Muslim, 10/218).

Rasulullah juga menjenguk tetangga non Muslim yang sakit (HR. Bukhari no. 2363 & Muslim no. 2244). Rasul juga bersikap dan berbuat baik kepada non Muslim.

Rasul Shallallhu ‘alaihi Wassallam bersabda:

“Barangsiapa yang menyakiti kafir Dzimmi, maka aku berperkara dengannya, dan barangsiapa berperkara denganku, maka aku akan memperkarakannya pada hari kiamat.” ( Al-Jâmi’ ash-Shagîr, no. 8270).

Seorang Orientalis Inggris, TW Arnold berkata: “The treatment of their Christian subjects by the Ottoman emperors -at least for two centuries after their conquest of Greece- exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe…”

(Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…) (The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, 1896, hal. 134).

Toleransi Islam ini tidak bermakna menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam.

Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadîr berkata: Abd ibn Humaid, Ibn al-Mundzir dan Ibn Mardawaih mengeluarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas bahwa orang Quraisy pernah meminta kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassallam, “Andai engkau menerima tuhan-tuhan kami, niscaya kami menyembah tuhanmu.”

Menjawab itu, Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan firman Nya, surat al-Kafirun, hingga ayat terakhir: “… Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.” (QS. al-Kafirun [109]: 6).

Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim dan ath-Thabrani juga mengeluarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas, bahwa orang Quraisy pernah melobi Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassallam sambil menawarkan tahta, harta dan wanita. Agar Rasul berhenti menyebutkan tuhan-tuhan mereka dengan keburukan.

Mereka pun menawarkan diri untuk menyembah Tuhan Muhammad dan gantian menyembah tuhan mereka. Sebagai jawabannya, Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan surat al-Kafirun. (asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz 5/685).

Dengan demikian, umat Islam haram terlibat dalam peribadatan terhadap pemeluk agama lain. Umat Islam juga haram merayakan hari raya agama lain, apapun bentuknya, karena termasuk bagian dari aktivitas keagamaan dan identik dengan peribadatan.

Untuk bertoleransi dan menghormati. Kita cukup tidak melarang disaat mereka mau beribadah, tidak mengganggu ketika mau perayaan, tidak merusak dikala melakukan kebaktian. Sebab, toleransi tdk harus ikut-ikutan.

Mungkin sekarang mengucapkan selamat natal untuk toleransi. Tahun depan mengikuti kebaktian untuk toleransi. Tahun depannya lagi ikut beribadah untuk toleransi. Terakhir, meninggalkan agamanya untuk toleransi. Wallahu A'lam