Pengertian Dan Sejarah LGBT

Sejarah LGBT Pengertian LGBT

LGBT merupakan singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Yang mempunyai arti
  • Lesbian : Orientasi seksual seorang perempuan yang hanya mempunyai hasrat sesama perempuan.
  • Gay : Orientasi seksual seorang pria yang hanya mempunyai hasrat sesama pria
  • Bisex : Sebuah orientasi sexsual seorang Pria/Wanita yang menyukai dua jenis kelamin baik Pria/Wanita
  • Transgender : Sebuah Orientasi seksual seorang Pria/Wanita dengan mengidentifikasi dirinya menyerupai Pria/Wanita
Baca juga : Azab Tuhan Bagi Kaum LGBT

Istilah LGBT ini muncul sekitar  tahun 1990-an dan menggantikan frasa "komunitas gay". Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya.

Dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender. Kadang-kadang istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender. Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT), dianggap sebuah masalah yang tidak asing kita dengar. Pengertian LGBT sendiri bermacam-macam.  Menurut Wikipedia , Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan.

Gay adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk orang homoseksual atau sifat-sifat homoseksual. Sedikit berbeda dengan bisexual, biseksual (bisexual) adalah individu yang dapat menikmati hubungan emosional dan seksual dengan orang dari kedua jenis kelamin baik pria ataupun wanita

Transgender merupakan ketidaksamaan identitas gender seseorang terhadap jenis kelamin yang ditunjuk kepada dirinya. Seseorang yang transgender dapat mengidentifikasi dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, biseksual maupun aseksual.

SEJARAH LGBT

Sejarah LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di Mulai dari Era Revolusi Perancis pada 1791 ketika sekularisme mulai mendapat tempat sementara peran agama terutama gereja tidak lagi relevan dalam sosial, politik dan ekonomi hingga jatuhnya pemerintahan Turki Uthmaniyyah, masyarakat Barat yang pada awalnya berada dalam zaman kegelapan mulai membebaskan diri dari ikatan beragama. Tindakan ini telah melahirkan satu masyarakat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang menjadikan kehendak manusia tanpa batasan (humanisme) sebagai tuhan sampai munculnya golongan yang mulai berani memperjuangkan orientasi seks songsang berdalilkan kebebasan berkendak dan hak asasi manusia. Mulai dari sinilah penyakit moral ini mulai tersebar ke seluruh dunia yang mana negara-negara Islam turut sama menjadi sasarannya.

Di Negara Barat seperti Inggris, belakangan ini banyak berita tentang tuntutan-tuntutan kaum LBGT. Jumlah mereka semakin bertambah, bukan sekadar pengamalnya tetapi juga mereka yang bersimpati. Mereka mendukung gerakan menuntut hak homoseksual ini tampaknya menjadi satu syarat untuk seseorang itu diakui sebagai pejuang hak asasi. Golongan yang bersimpati melihat di sudut ruang kebebasan individu yang patut diakui. Perdana Menteri Inggris David Cameron antara pendukung hak menikah kaum gay di Inggris. Walaupun belakangan ini ada bantahan, tetapi pendirian asal Cameron adalah untuk melegalkan pernikahan kaum ini dari segi hukum.

Di Athena, perlakuan seks sesama gender sulit dikesan, karena mereka menjalani kehidupan bebas, yaitu bebas memilih pasangan lawan jenis. Mereka mementingkan prinsip kebebasan tanpa paksaan. Melalui kombinasi dua perspektif itulah, kemudian homoseksual dilihat sebagai perlakuan seks sesame gender dengan syarat dilakukan bukan dalam paksaan. Prinsip ini berkembang hingga hari ini, dan dijadikan dasar mendesak hukum negara agar melegalkan pernikahan sejenis.

Selama beberapa tahun, beberapa universitas di Amerika Serikat memulai pengkuliahan dalam bidang budaya gay dan lesbian, sedang Universitas Harvard memulainya sebagai jurusan sosiologi dan psikologi pada akhir 1990-an. Kondisi itu akhirnya memaksa negara Barat melakukan penelitian ulang mengenai posisi hukum sehingga mengizinkan pernikahan sejenis secara luas pada pertengahan 2011. Bahkan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, dalam wawancaranya dengan televisi ABC News, menyatakan dukungannya kepada pernikahan sesama jenis. Menurut Obama, pasangan sesama jenis harus bias menikah. "Pada titik tertentu, saya menyimpulkan bahwa secara pribadi sangat penting untuk saya menegaskan bahwa saya pikir pasangan sesama jenis harus bisa bersatu dalam perkawinan," kata Obama.Lanjutnya, "Saya mendukung persamaan yang lebih lebar untuk komunitas LGBT. Saya sempat ragu karena saya merasa pernikahan sipil akan lebih baik".

Berita yang cukup mengejutkan. Di balik liberalisasi dan kebebasan,  agaknya ajaran Islam pun sudah mulai dicemari oleh keinginan suatu kaum. Seorang pria homoseksual Perancis-Aljazair berencana untuk membuka „masjid untuk gay‟ di Perancis dan berharap dapat melakukan akad nikah bagi pernikahan sesama jenis yang beragama Islam. Mohammed Ludovic Lütfi Zahed, seorang Muslim Aljazair yang tinggal di Paris menikah dengan pasangan gay-nya, berharap dapat membuka mesjid untuk golongan gay.[6] Hal ini menunjukkan bahwa, golongan ini semakin berani menampilkan diri mereka tanpa rasa malu dan bersalah.

Rujukan :  ( [wikipedia], http://karyaorbitaku.wordpress.com  [LGBT: Hak Asasi Individu atau Penyakit Moral] http://www.utusan.com.my  [Program Ikut Telunjuk Nafsu] )


EmoticonEmoticon