Melihat Keindahan Masjid Agung (Jami’) Sumenep

Masjid Agung (Jami’) Sumenep
Profil  Masjdi Agung Sumenep

Orang-orang menyebutnya masjid agung, ada yang menyebut masjid jamik, sebuah masjid yang berada di Sumenep Madura, yang sejarahnya masih melekat sampai sekarang, memberikan kesan dihati banyak orang. Masjid yang satu ini, juga merupakan menjadi salah satu icon penanda Kota Sumenep. Dengan gaya klasiknya, dapat memikat hati orang. Tahun 1787, baru selesai dibangun. Namun sampai sekarang pembangunan dan perbaikan terus berjalan. Kapasitas bisa menampung 2000 lebih jamaah.

Lokasi masjid agung ini, beralamat di Jl. Manikam No.184, Bangselok, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Anda tidak perlu bingung untuk mencari dan bisa sampai disana. Karena posisinya tepat berada ditengah-tengah Kota Sumenep, sejajar dengan Taman Adipura / Taman Bunga. Sebagaimana kita ketahui, dimana ada masjid jami’ didepannya selalau ada taman.

Bangunan Yang Unik. 

Sebagai salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid Jamik Sumenep saat ini telah menjadi salah satu landmark di Pulau Madura.  Dibangun Pada pemerintahan Panembahan Somala, Penguasa Negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan Kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango.

Menurut catatan sejarah Sumenep, Pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai  pada 1787 Masehi. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan pendukung Karaton yang lokasinya tidak terlalu jauh. yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga Karaton dan Masyarakat, masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun oleh keluarga keraton, di mana sebelumnya kompleks masjid berada tepat di belakang keraton yang lebih dikenal dengan nama Masjid laju yang dibangun oleh Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI.

Bagaimana dengan bangunan yang sekarang? Seiring perkembangan zaman, tak lepas juga dengan kebutuhan masyarakat, dan juga untuk Kemajuan Kota Sumenep. Masjid agung mengalami perubahan meskipun tidak terlalu mencolok, meskipun mengalami perubhan akan tetapi tetap tidak menghilangkan nilai-nilai bangunan masjid agung sebelumnya. Seperti pembuatan parkir, pengubahan cat gedung dan sebagainya.

Bangunan masjid ini memadukan gaya arsitektur Arab, Persia, Eropa, Jawa, India, dan China. Hal ini melambangkan beragamnya etnis yang tinggal di Madura. Bentuknya yang unik dibalut warna cat putih dan kuning keemasan membuat tampilan masjid ini sangat fotogenik. Belakangan, masjid ini menjadi kian populer. Foto-fotonya banyak diunggah ke media sosial Instagram. Tak heran mengapa masjid ini begitu menjadi sorotan.

Atap  Masjid Agung Sumenep

Pada pintu gerbang pintu masuk utama masjid agung  bercorak atau bernuansa kebudayaan Tiongkok. Karena Secara garis besar banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Madura, Bangunan utama masjid secara keseluruhan terpengaruh budaya Jawa pada bagian atapnya dan budaya Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid, sedangkan interior masjid lebih cenderung bernuansa kebudayaan Tiongkok pada bagian mihrab.

Masjid ini juga dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya terpengaruh kebudayaan Portugis, minaretnya mempunyai tinggi 50 meter terdapat di sebelah barat masjid, dibangun pada pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma. Di kanan dan kiri pagar utama yang masif juga terdapat bangunan berbentuk kubah. Pada Masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Aria Prabuwinata pagar utama yang cenderung masif dan tertutup, di mana semula dimaksudkan untuk menjaga ketenangan jema'ah dalam menjalankan ibadah diubah total berganti pagar besi.

Masjid agung sumenep dari atas
Gerbang Masjid Agung Sumenep

Masjid jamik dan sekelilingnya memakai pagar tembok dengan pintu gerbang berbentuk gapura. Pintu Masjid Jamik berbentuk gapura asal kata dari bahasa arab "ghafura" yang artinya tempat pengampunan". Gapura ini syarat akan ornamen yang mempunyai banyak filosofi sebagai salah satu harapan dari sang Panembahan kepada rakyatnya ketika menjalankan ibadah.

Di atas gapura ada ornamen berbentuk dua lubang tanpa penutup, keduanya diibaratkan dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu di atasnya juga terdapat ornamen segilima memanjang ketaatas, diibaratkan sebagai manusia yang sedang duduk dengan rapi menghadap arah kiblat dan dipisahkan oleh sebuah pintu masuk keluar masjid, yang mengisyaratkan bahwa apabila masuk atau keluar masjid harus memakai tatakrama dan harus meliha jangan sampai memisahkan kedua orang jema'ah yang sedang duduk bersama dan ketika imam masjid keluar menuju mimbar janganlah berjalan melangkahi leher seseorang.

Dikanan kiri gapura juga terdapat dua pintu berbentuk lengkung, keduanya mengibaratkan sebagai kedua telinga manusia. dimaksudkan agar para jema'ah masjid ketika dikumandangkannya adzan, bacaan alquran, ataupun disampaikannya khotbah haraplah bersikap bijak untuk tidak berbicara dan mendengarkannya dengan saksama. Disekeliling gapura juga terdapat ornamen rantai, hal ini dimaksudkan agar kaum muslim haruslah menjaga ikatan ukuwah islamiyah agar tidak bercerai berai.

Artikel Lain : Keramat Asta Sayyid Yusuf

Masjid Agung (Jami’) Sumenep
 (Bangunan Bagian Dalam Masjid Agung Sumenep)

Masjid Agung (Jami’) Sumenep
(Pintu Dalam Masjid)

Mihrab Masjid Agung (Jami’) Sumenep
 (Mihrab/Tempat Imam)

Bedug Masjid Agung (Jami’) Sumenep
 (Bedug)

Daftar Pustaka :
•Dinas Pariwisata dan kebudayaan kabupaten Sumenep.
•Wikipedia


EmoticonEmoticon