Sejarah Singkat Masjid Agung Sumenep
Sejarah Singkat Masjid Agung Sumenep

Sejarah Singkat Masjid Agung Sumenep

Masjid Agung (Jami’) Sumenep

Masjid Agung Sumenep merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Madura. Tepatnya di Kabupaten Sumenep, Jalan Trunojoyo No.354, Bangselok. Seperti pada umumnya, dimana ada masjid jamik, disitulah di depannya ada taman. Tak luput juga dengan masjid Masjid Agung Sumenep, yang saling berhadapan dengan taman adipura alias taman bunga. Yang sekarang sudah tinggal kenangannaya para pkl yang sudah di relokasi.

Bagaimana dengan bangunan yang sekarang? Seiring perkembangan zaman, tak lepas juga dengan kebutuhan masyarakat, dan juga untuk Kemajuan Kota Sumenep. Masjid agung mengalami perubahan meskipun tidak terlalu mencolok, meskipun mengalami perubhan akan tetapi tetap tidak menghilangkan nilai-nilai bangunan masjid agung sebelumnya. Seperti pembuatan parkir, pengubahan cat gedung dan sebagainya.

Orang-orang menyebutnya masjid agung, ada yang menyebut masjid jamik, sebuah masjid yang berada di Sumenep Madura, yang sejarahnya masih melekat sampai sekarang, memberikan kesan dihati banyak orang. Masjid yang satu ini, juga merupakan menjadi salah satu icon penanda Kota Sumenep. Dengan gaya klasiknya, dapat memikat hati orang. Tahun 1787, baru selesai dibangun. Namun sampai sekarang pembangunan dan perbaikan terus berjalan. Kapasitas bisa menampung 2000 lebih jamaah.

Bangunan masjid ini memadukan gaya arsitektur Arab, Persia, Eropa, Jawa, India, dan China. Hal ini melambangkan beragamnya etnis yang tinggal di Madura. Bentuknya yang unik dibalut warna cat putih dan kuning keemasan membuat tampilan masjid ini sangat fotogenik. Belakangan, masjid ini menjadi kian populer. Foto-fotonya banyak diunggah ke media sosial Instagram. Tak heran mengapa masjid ini begitu menjadi sorotan.


Masjid agung sumenep dari atas

Masjid yang bercorak warna kuning dan putih ini (Masjid Agung) dibangun atas perintah Panembahan Sumolo setelah Masjid Laju yang relatif kecil tidak mampu lagi menampung jamaahnya yang kian bertambah. Sampai saat ini, kapasitas masjid agung memuat kurang lebih 2000 jamaah. Masjid Agung Sumenep ini merupakan salah satu masjid yang kaya akan budaya. Dirancang oleh arsitek keturunan Cina bernama Lauw Piango dan merupakan hasil gotong royong masyarakat sekitar. Masjid jamik ini dipengaruhi  berbagai  kebudayaan dalam desainnya. Budaya-budaya tersebut yakni Cina, Arab-Persia, Eropa, dan Jawa. Keberagaman budaya yang ada di masjid tersebut dilatarbelakangi oleh masyarakat sekitar keraton yang pluralis dari berbagai etnis.

Masjid jamik Panembahan Somala merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Dibangun Pada pemerintahan Panembahan Somala, Penguasa Negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan Kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango. Pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi.

Masjid Agung (Jami’) Sumenep
 (Bangunan Bagian Dalam Masjid Agung Sumenep)

Secara garis besar, Arsitektur bangunan masjid banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Madura, salah satunya pada pintu gerbang pintu masuk utama masjid yang corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan Tiongkok. Bangunan utama masjid secara keseluruhan terpengaruh budaya Jawa pada bagian atapnya dan budaya Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid, interior masjid lebih cenderung bernuansa kebudayaan Tiongkok pada bagian mihrab.
Masjid agung Sumenep juga dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya terpengaruh kebudayaan Portugis, minaretnya mempunyai tinggi 50 meter terdapat di sebelah barat masjid, dibangun pada pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma. Di kanan dan kiri pagar utama yang masif juga terdapat bangunan berbentuk kubah. Pada Masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Aria Prabuwinata pagar utama yang cenderung masif dan tertutup.

Masjid Agung (Jami’) Sumenep
(Pintu Dalam Masjid)

Ukiran di pintu utama masjid ini dipengaruhi budaya China, dengan penggunaan warna warna cerah. Disamping pintu depan mesjid sumenep terdapat jam duduk ukuran besar bermerk Jonghans, di atas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan jawa. Di dalam mesjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang mengartikan rukun solat. Bagian luar terdapat 20 pilar. Dan 2 tempat khotbah, di atas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.

Mihrab Masjid Agung (Jami’) Sumenep
 (Mihrab/Tempat Imam)

Masjid jamik dan sekelilingnya memakai pagar tembok dengan pintu gerbang berbentuk gapura. yang mempunyai banyak filosofi sebagai salah satu harapan dari sang Panembahan kepada rakyatnya ketika menjalankan ibadah. Di atas terdapat ornamen berbentuk dua lubang tanpa penutup, keduanya diibaratkan dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu di atasnya juga terdapat ornamen segilima memanjang ketaatas, diibaratkan sebagai manusia yang sedang duduk dengan rapi menghadap arah kiblat dan dipisahkan oleh sebuah pintu masuk keluar masjid, yang mengisyaratkan bahwa apabila masuk atau keluar masjid harus memakai tatakrama dan harus meliha jangan sampai memisahkan kedua orang jema'ah yang sedang duduk bersama dan ketika imam masjid keluar menuju mimbar janganlah berjalan melangkahi leher seseorang.

Bedug Masjid Agung (Jami’) Sumenep
 (Bedug)

Dikanan kiri gapura terdapat dua pintu berbentuk lengkung, keduanya mengibaratkan sebagai kedua telinga manusia. dimaksudkan agar para jema'ah masjid ketika dikumandangkannya adzan, bacaan alquran, ataupun disampaikannya khotbah haraplah bersikap bijak untuk tidak berbicara dan mendengarkannya dengan saksama. Disekeliling gapura juga terdapat ornamen rantai, hal ini dimaksudkan agar kaum muslim haruslah menjaga ikatan ukuwah islamiyah agar tidak bercerai berai.

Panembahan Somala pada tahun 1806 M atau 19 tahun setelah bangunan Masjid selesai menulis sebuh prasasti, bertepatan dengan ditetapkannya Pangeran Abdurrachamn Tirtodiningrat putra Panembahan Somala sebagai Nadir Wakaf sebelum dia naik tahta menjadi Adipati Sumenep XXXII.
"Masjid ini adalah baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa Negeri/Karaton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya masjid ini adalah wakaf, tidak boleh diwarisi dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak".

Daftar Pustaka

Wikipedia : Masjid Agung Sumenep

Andromedha, F. dkk. (2016). Semiotika Arsitektur Masjid Jamik Sumenep-Madura. Journal

Huri, M. Sholeh Tamam. (2015). Percampuran Budaya pada Arsitektur Masjid Jamik Sumenep. Skripsi S1 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

KS, Tugiyono. Kutoyo, S. & Evy, R. (2001). Peninggalan Situs dan Bangunan Bercorak Islam di Indonesia. Jakarta: PT.Mutiara Sumber Widya.


M.H., Moh. Isyam. (1991). Masjid Keraton Sumenep-Madura (Study Cultural). Skripsi S1 IAIN Sunan Ampel.
Admin
Karena belajar adalah kewajiban, menulis untuk mengabadikan, menyebarkan merupakan kebaikan.