Beasiswa

Akhirnya Kaum LGBT di Azab Oleh Allah

Kaum LBGT di Azab Oleh Allah
 LGBT  atau yang kita kenal dengan Lesbian, Biseksual, Homoseksusl, Transgender. Saat ini menjadi pembicaraan hangat berbagai kalangan setelah mereka berani muncul ke permukaan. Ditambah dengan dukungan mentri agama dan putusan MK soal LGBT dan Kumpul kebo. 

Kelompok makhluk ini, secara terang-terangan dan sedikit demi sedikit, mereka terus menyebarkan penyakit mereka melalui lobi-lobi politik dan sosial demi mendapatkan hak yang sama. Pegiat LBGT dengan berbagai cara mencari pembenaran atas penyakit yang mereka derita, dengan mengatakan bahwa LBGT bukanlah penyakit tetapi merupakan hak asasi manusia yang harus diperjuangkan sebagaimana hak-hak perempuan.

Lalu, bagaimana cara Allah Swt. Mengazab kaum LGBT ini? Silahkan simak kisah kaum Nabi Luth dibawah ini.

Sikap keras yang ditunjukkan penduduk Sodom tidak mematahkan semangat Nabi Luth untuk berdakwah. Selain menyerukan agar mereka menggauli istri-istri mereka dan tidak lagi berhubungan dengan sesama jenis, Nabi Luth juga mengajak kaumnya untuk meninggalkan kebiasaan mereka merampok  dan berbuat kemungkaran Menghadapi kaum semacam itu, Nabi Luth tidak menyerukan ajaran tauhid seperti ajakan nabi-nabi lainnya. Ini menunjukkan bahwa homoseksual merupakan penyimpangan yang sangat buruk yang harus diluruskan bersama dengan pelurusan akidah mereka. Tapi seruan Nabi Luth itu tidak digubris sama sekali oleh kaumnya. Mereka menganggap perbuatan yang mereka lakukan selama ini adalah sesuatu yang biasa dan normal.

Tidak seorangpun dari kaumnya yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus masygul dengan perbuatan keji tersebut. Penentangan mereka terhadap Nabi Luth pun semakin menjadi-jadi. Apalagi dalam menjalankan dakwahnya ini Nabi Luth tidak mendapat dukungan dari istrinya yang bergabung dengan para penentang Luth dan ikut mencela dakwah Nabi Luth. Sampai akhirnya, Penduduk negri itu menantang Nabi Luth untuk mendatangkan azab yang ia sampaikan, mereka berkata “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

Melihat pengingkaran mereka yang dari hari ke hari semakin menjadi-jadi, serta mendengar kedurhakaan mereka terhadap Allah, hilanglah harapan Nabi Luth atas kaumnya. Dia pun bertawakkal kepada Allah dan meminta keselamatan atas azab yang kelak menimpa mereka. Allah swt. Lalu mengutus malaikan Jibril, Israfil, dan Mikail untuk menyampaikan kabar keada Nabi Luth perihal azab yang akan ditimpakan kepada kaumnya dalam waktu dekat.

Malaikat pun berkata pada Ibrahim ketika Ibrahim berdialog dengan mereka,

 يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَإِنَّهُمْ آَتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ

“Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.” (QS. Huud: 76).
Maksudnya, walau Nabi Ibrahim berdo’a dan berjidal (berdebat) tetap saja azab akan turun menimpa kaum Luth. (Al-Muktashar fii At-Tafsir, hlm. 230) [dikutip dari rumaysho.com]

Ketika utusan malaikat tersebut mendatangi Nabi Luth ‘alaihis salam dan saat itu ia berada di rumahnya,
وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Huud: 77).

Dijelaskan dalam kitab tafsir bahwa malaikat tersebut datang dalam bentuk seorang pemuda yang sangat tampan dan sempurna. Itulah yang membuat Luth khawatir pada kaumnya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 403)

Luth takut karena ia tahu keadaan kaumnya yang masih hobi melakukan hubungan dengan sesama jenis.
وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ
Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS. Huud: 78)

Kaum Luth ternyata tetap datang menghampiri tamu Nabi Luth dengan tergesa-gesa. Karena memang mereka punya kesukaan yang jelek sejak dahulu, yaitu sama sekali tak suka dengan perempuan. Luth lantas mencegah kaumnya dengan mengatakan bahwa ini wanita dari kaum Luth, nikahilah mereka. Wanita-wanita itu lebih baik (lebih suci) daripada melakukan tindakan fahisyah (homoseksual). Mereka pun takut dari siksa Allah. (Al-Muktashar fii At-Tafsir, hlm. 230)

Mujahid berkata, “Yang dikatakan Nabi Luth bukanlah puteri-puterinya, namun yang dimaksud adalah para wanita dari kaumnya. Karena setiap Nabi adalah bapak dari umatnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 462). 

Allah menyatakan pula dalam ayat lainnya,

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6).

 Luth pun menyatakan, jangan buat ia malu karena tindakan kaumnya pada tamunya. Beliau katakan bahwa bukankah di tengah-tengah kaumnya masih mungkin ada orang yang lurus yang melarang dari tindakan keji (homoseksual). (Al-Muktashar fii At-Tafsir, hlm. 230)

Ternyata jawaban kaumnya:

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ
Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” (QS. Huud: 79).

Nabi Luth berkata:

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آَوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ
Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolak kalian) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga (qabilah) yang kuat (tentu aku lakukan).” (QS. Huud: 80). Maksudnya, Nabi Luth berangan-angan andai saja ia punya kekuatan untuk menghalangi kaumnya atau memiliki keluarga (qabilah) untuk menghalangi kaumnya agar tidak mengganggu tamunya dengan tindakan fahisyah (homo). (Al-Muktashar fii At-Tafsir, hlm. 230)

Surat Hud  Ayat 82 secara jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Luth.

فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Lut itu yang atas ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi,”. (Qs. Hud : 82)

Oleh karena itu, LGBT  perlu diwaspadai, bukan dibiarkan  dibela seperti yang dilakukan oleh sekelompok orang saaat ini. Jangan biarkan Negara yang kita cintai ini seperti zamannya Nabi Luth, jangan sampai bangsa yang kita cintai di azab oleh Allah Swt lantaran kaum LGBT.