Sejarah Masuknya Agama Islam Di Sumenep
Sejarah Masuknya Agama Islam Di Sumenep

Sejarah Masuknya Agama Islam Di Sumenep

sejarah islamisasi sumenep

Sejarah masuknya agama islam di Sumenep, tentu tidak terlepas dari sejarah masuknya islam di Madura. Pada sekitar tahun 1330-an yaitu pada awal pemerintahan Pangeran Joharsari, telah datang seorang mubaliq Islam ke Sumenep. Menurut cerita Babad Sumenep, mubaliq Islam tersebut disebut dengan nama Rato Pandita. 

Pada pemerintahan Pangeran Joharsari yang memerintah Sumenep antara tahun 1319-1331 M, sudah memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam, Pangeran Joharsari merubah gelar menjadi Panembahan. Hal ini dilakukannya sebagai awal karena dirinya sebagai raja yang pertama kali memeluk Islam untuk contoh bagi rakyat Sumenep kala itu. Walaupun kebijakan itu diberikan kepada rakyatnya untuk bebas memeluk agama lainnya yang diyakininya.(Akhmad:2010:6-8).

Bandar perdagangan di Sumenep Seperti halnya daerah-daerah lain di Nusantara, pulau Madura yang secara geografis terletak di dekat atau berhadapan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur yaitu pelabuhan Tuban, Gresik dan Surabaya tidak terlepas dari usaha penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh para Wali di Pulau Jawa. Sunan Giri atau Raden Paku, murid dari Sunan Ampel, telah berhasil mengislamkan Madura, Lombok, Makasar dan Ternate.

Akan tetapi jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam dari Gujarat yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan Kalianget atau Sumenep.Sebagaimana dikatakan di atas bahwa salah satu penghambat pelaksanaan hubungan perdagangan adalah tidak adanya tempat transaksi yang tetap.

Selain dari Bangsa Persia ataupun Bangsa Gujarat, perdagangan di Sumenep juga dibawa oleh orang Cina, ini dibuktikan dengan adanya Klenteng Tri Dharma yang berada di dekat Pelabuha Kalianget. Klenteng ini satu-satunya klenteng yang berada di Kota Sumenep bahkan satu-satunya klenteng beraliran tridharma di Pulau Madura. Klenteng Pao Xian Lian Kong Sumenep dibangun kira-kira 190 tahun lalu, menurut pengurus Klenteng, Klenteng ini dibangun oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan dan ditemukan bukti tentang adanya tulisan di Kimsin atau rupang Makco Thian Siang Sing Bo dalam kompleks tersebut. Kimsin dewi pelindung para pelaut itu dibawa langsung oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan ke Sumenep (Naidra, 2012).

Diceritakan bahwa di suatu daerah di dekat desa Parsanga di Sumenep datang seorang penyiar agama Islam. Ia memberikan pelajar agama Islam kepada rakyat Sumenep. Apabila seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun agama Islam, maka ia dimandikan dengan air yang dicampuri bermacam-macam bunga yang baunya harum, hal semacam ini disebut “e dudus”, tempat tersebut diberi nama desa Padusan masuk kota Sumenep dan Guru yang mengajar tersebut diberi nama “Sunan Padusan”. Beliau keturunan dari Arab, ayahnya bernama Usman Haji, anak dari raja Pandita, saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat Sumenep sangat senang mempelajari agama Islam, sehingga mempengaruhi rajanya yaitu Pangeran Joko Tole (Surodiningrat III) masuk agama Islam (Rusmaniyah, 2008).

Proses Islamisasi di Sumenep Bukan suatu hal yang berlebihan apabila seseorang mengatakan bahwa Islamisasi Madura berjalan sukses sehingga berhasil dan kini tak seorang pun penduduk Madura yang bukan Muslim. Kalau pun ada yang bukan Muslim, maka bisa dipastikan mereka itu pendatang baru. Namun, sejak kapan dan bagaimana semua itu bermula, amat sukar dirajut dengan sempurna. Ibarat benang kusut, sejarah proses Islamisasi Madura ini belum dan tidak terdokumentasi dengan rapi.

Menunrut cerita yang berkembnag di masyarakat Sumenep, bahwa penyebar agama Islam di Sumenep adalah Sayyid Ahmad Baidhawi atau di kenal dengan pangeran Katandur. Ia bersyiar pada masa pemerintahan pangeran Lor dan pangeran Wetan atau sekitar tahun 1550-an. Kuburannya berada di desa Bangkal sebelah timur kota Sumenep dan dikenal dengan Asta Sabu. Sebelum itu sekitar tahun 1440-an ada ulama penyebar agama Islam yang bernama Raden Bendara Dwiryapadha dan dikenal dengan nama sunan Paddusan. Namun lebih awal dari masa itu, yakni pada masa pemerintahan Panembahan Joharsari pada tahun 1330-an.

Cerita panjang yang lain tentang Islam di sumenep tertulis dalam Sejarah Dalem, yang kemungkinan dikutip dari silsilah raja Jawa-Madura yang lebih tua. Dalam cerita tersebut muncul adipati Kanduruwan yang konon masih putera Raja Demak, yang menjadi pegawai Ratu Mas Kumambang, ratu Putri ( Prabu Kenya ) di Japan ( Majapahit ). Atas perintah tuan putrinya, adipati Kamduruwan menyerang Sumenep. Pertempuran berlangsung seru di wilayah Lenteng Sumenep. Dalam pertempuran itu adipati Sumenep yang bernama Arya Winabaya gugur di medan tersebut, dan setelah meniggal di sebut pangeran Siding Puri [H.J. Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, (Jakarta: Grafitipress 1986) ]. Kuburan Pangeran Siding Puri pun sudah dalam bentuk kuburan Islam.

Sayyid Ali Murtadla atau Suanan Lembayung Fadal juga dikenal dengan sebutan ratu pandito bertempat di pulau Sepudi, pedukuhannya dinamakan Asta Nyamplong, karena disekitar tempat tersebut bnayak ditumbuhi pohon Nyamplung ( Callophylum ) beliau dikenal juga sebagai penyebar agama Islam di Sumenep yang di 6 Sejarah Sumenep, disusun oleh Tim Penulis Sejarah Sumenep dalam makalah disampaikan pada seminar buku Penulisan Sejarah Sumenep yang diselelnggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep pada hari Rabu, 10 Desember 2003 bertempat di Pendopo Agung Sumenep selaraskan dengan penyebaran agama Islam oleh Wali Songo di pulau Jawa. Karena beliau adalah adik dari Sunan Ampel yang menmpunyai nama asli Raden Rahmat.8

Daftar Pustaka

  • Di rangkum dari tulisan : Sejarah kalianget sebagai kota tua
  • Tim Penulis Sejarah Sumenep. 2003. Sejarah Sumenep. Makalah disajikan dalam Seminar Buku Penulisan Sejarah Sumenep