Perkembangan Qira'at Sab'ah Di Indonesia


sejarah qiraat indonesia
Pengertian Qira’at Sab’ah adalah cara membaca Al-Qur’an dengan menggunakan ragam bacaan yang mempunyai nilai sanad mutawatir yang dinisbatkan kepada Imam Qiraat Tujuh (Qiraat Sab’ah). Dikatakan qiro’at sab'ah karena ada tujuh imam qiro’at yang terkenal masyhur yang masing-masing memiliki langgam bacaan tersendiri.

Tiap imam qiro’at memiliki dua orang murid yang bertindak sebagai perawi. tiap perawi tersebut juga memiliki perbedaan dalam cara membaca qur’an.  Contoh perbedaan qiraat yang sering kita jumpai adalah imaalah dalam Al Qur'an. Pada beberapa lafal Alquran, sebagian mengucapkan vokal ‘e’ sebagai ganti dari ‘a‘.

Bagaimana dengan Perkembangan Qira'at Sab'ah Di Indonesia? Di Indonesia tidak di ketahui secara persis kapan qira’at sab’ah mulai masuk ke Indonesia. Akan tetapi ada sebagian yang berpendapat bahwa qira’at sab’ah masuk ke Indonesia baru pada sekitar awal abad kedua puluh Hijriyah, yaitu setelah banyaknya pelajar indonesia yang mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Ssbagaimana kita ketahui, saat ini banyak pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan agamanya di timur tengah.

Terdapat sejarah yang menjelaskan, bahwa ulama yang memprakasai masuknya ilmu Qiraat di Indonesia salah satunya adalah Syaikh Muhammad Munawir bin Abdullah Rasyid dari Krapyak Yogyakarta. Syaikh Munawir mempelajari ilmu qiraat dari Hijaz. Kemudian sepulangnya dari sana beliau mendistribusikan ilmu qira’at ini kepada murid-muridnya. Salah satu muridnya yaitu Syaikh Arwani Amin dari Kudus, yang kemudian menyusun buku tentang qiraat sab’ah yaitu “Faid al-Barâkât fî Sab’i Qirâ’ât”. Buku ini telah masyhur di kalangan pesantren-pesantren Indonesia yang mempelajari Qira’at Sab’ah.

Kemudian para periode berikutnya muncul Institut pendidikan di Jakarta. PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an) dan IIQ (Institut Ilmu Al-Qur’an) yang khusus mengajarkan ‘Ulumul Qur’an, termasuk di dalamnya ilmu Qira’at. Sehingga  Ilmu Qira’at semakin masyhur di Indonesia setelah komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya tanggal 2 Maret 1983 memutuskan bahwa:

1. Qiraat Sab’ah adalah sebagian ilmu dari ‘Ulumul Qur’an yang wajib di kembangkan dan di pertahankan eksistensinya.

2. Pembacaan Qira’at Tujuh di lalukan pada tempat-tempat yang wajar oleh pembaca yang berijazah (yang telah talaqqi dan musyâfahah dari ahli qira’at).

Pada periode ini telah muncul juga buku tentang ilmu qira’at dalam bahasa Indonesia, yaitu “KAIDAH QIRAAT TUJUH” yang di tulis pada tahun 1992 oleh salah satu dosen IIQ dan PTIQ, yaitu DR. H. Ahmad Fathoni. Kitab ini sangat membantu memudahkan masyarakat Indonesia yang kurang menguasai bahasa Arab dalam belajar ilmu qira’at.

Menteri Agama Indonesia Prof.Dr. Said Aqil Al Munawwar membuat satu kebijakan yang baik dan strategis untuk memasyarakatkan ilmu qira’at dengan mengeluarkan SK yang mengikut sertakan cabang Qira’at dalam MTQ dan STQ di Indonesia. Maka Perkembangan Qira'at Sab'ah Di Indonesia STQN 2002 di Mataram cabang ini sudah mulai di lombakan. Dan terus berjalan sampai sekarang.


Daftat Pustaka

Dirujuk dari tulisan Makalah : DR. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, MA, “Qira’ah Sab’ah di Indonesia”, Maret 2002.


EmoticonEmoticon