Penyebab Sumenep Rawan Banjir

banjir sumenep
Dimana ada hujan, disitu ada banjir. Ya, kata itu sangat cocok dengan kondisi sumenep saat ini. Setiap hujan turun, banjirpun tak dapat dibendung. Slogan sumenep spektakuler, seakan hilang begitu saja bersamaan dengan datangnya banjir. Tak heran, ada yang memotret gambar banjir di Sumenep dengan gaya memancing.

4 hal yang menyebabkan kota Sumenep banjir, meski air langsung menghilang setelah beberapa jam kemudian karena harus antri namun dibeberapa derah bisa berhari-hari terendam air.

1. Alih fungsi lahan yang diubah tanpa memperhatikan Amdal. Daerah kolor, batuan dan marengan merupakan daerah resapan Lahan daerah resapan yang sudah diubah tanpa memperhatikan amdal yang terlebih di lingkungan perkotaan. Daerah pertanian ataupun rawa yang dapat membantu untuk mencegah atau mengurangi banjir, namun dipakai untuk membangun perumahan, pertokoan atau bangunan lainnya sehingga daerah resapan air menghilang dan akan mudah beresiko terjadinya banjir.

2. Salah sistem kelola tata ruang. Sungai pandian, sungai marengan, sungai patrean merupakan jalur arteri pelimpahan air. Bila jalur jalur sekunder yang menghubungkan 3 sungai tersebut tidak tertata dengan baik akan menyebabkan banjir. 

Penataan tata ruang dan zonasi yang tidak berorientasi lingkungan dan Penataan saluran drainasi yang tumpang tindih dan elevasi saluran air. Sementara air yang datang ke wilayah tersebut jumlahnya akan lebih banyak dari daerah lainnya atau daerah tersebut tidak mampu menerima limpahan air dari daerah lain. Ditambah lagi belum adanya titik bosem dan kolam detensi di sumenep yang mampu menahan sementara air hujan.

3. Tanah yang sudah tidak dapat menyerap air. Pesatnya pembangunan di daerah kolor, batuan, marengan dan parsanga. Tanah yang sudah tidak dapat untuk menyerap air dapat dikarenakan beberapa faktor selain tanah yg jenuh air dan salah satunya karena daerah tersebut sudah jarang ditemukan lahan terbuka hijau ataupun lahan kosong. Sehingga air tidak terserap ke dalam tanah melainkan langsung masuk ke sungai, selokan, atau saluran air yang lainnya. 

Air yang ada dalam jumlah banyak apabila sudah tidak dapat tertampung oleh saluran air tersebut dapat menggenang hingga menyebabkan banjir.

4. Air hujan dan air limbah harus dikembalikan ketanah bukan secepatnya di buang ke laut. Mindset kita selama ini adalah bagaimana caranya membuang air limbah dan air hujan seceoat mungkin disalurkan ke selokan, kali, sungai dan berakhir di laut. 

Kalau hal itu kita lakukan terus menerus maka sumber daya air di dalam tanah cepat terkuras habis. Akibatnya banjir di musim penghujan, kekeringan di musim kemarau dan instrusi laut/masuknya air laut ke daratan. Banjir, disebabkan oleh air yang tidak meresap ke tanah karena terlalu banyak melimpas ke selokan, sungai dan sistem drainase yang tak mampu menampung air hujan.


Mindset kita selama ini adalah bagaimana caranya membuang air limbah dan air hujan seceoat mungkin disalurkan ke selokan, kali, sungai dan berakhir di laut. Kalau hal itu kita lakukan terus menerus maka sumber daya air di dalam tanah cepat terkuras habis. Akibatnya banjir di musim penghujan, kekeringan di musim kemarau dan instrusi laut/masuknya air laut ke daratan.

Pola pikir tersebut yang kita pakai selama ini harus dirubah. Harusnya air limbah rumah tangga dan air hujan wajib dikembalikan ke tanah.

Mengatasi banjir di kota Sumenep dg Zero Delta Q Policy. Zero Delta Q Policy tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. 

Dalam penjelasan PP itu, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kebijakan prinsip Zero Delta Q adalah keharusan agar tiap bangunan tidak boleh mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase kota atau sistem aliran sungai.

Artinya setiap rumah dan bangunan non hunian harus menyelesaikan sendiri masalah air limbahnya secara mandiri, dg membuat resapan dan biopori.

Dalam penataan ruang kota juga perlu didesain banyak RTH yg berbentuk Rain Garden dan Bioswale yg berfungsi untuk menyerap air limbah dari jalan dan saluran kota.

Pola pikir masyarakat bahwa air limbah harus secepat mungkin dibuang ke laut harus segera dirubah.  Air limbah adalah sumber daya penting, yang harus secepatnya dikembalikan ke dalam tanah. bayangkan bila air tanah terus menerus diambil, limbahnya dan air hujan di buang ke laut. 

Dalam beberapa tahun saja air tanah akan habis, efeknya kekeringan di musim kemarau, banjir dimusim hujan dan instrusi laut/Masuknya air laut ke daratan. Di Sumenep harus segera di lakukan hal ini, demi masa depan kota sumenep yang lebih baik. 

Artikel :Ferry Saputra
Editor : Aden Zaied Al Farobi


EmoticonEmoticon