Melihat Kemiskinan Di Sumenep Dengan Keadaan Kaum Dhuafa


orang miskin
Sumemep dengan kekayaan alamnya, potensi wisatanya, sumber minyak buminya, serta potensi-potensi lainnya, atau bahkan masih banyak kekayaan alamnya yang belum ditemukan. Namun kota yang berada di ujung timur madura ini, menempati peringkat ke empat dalam kategori Kabupaten termiskin.

Sejak tahun 2013 hingga 2016, angka presentase kemiskinan di sumenep hanya turun 0.32%, Penduduk miskin di sumenep mencapai 216.140 jiwa (20.09%) dari populasi 1.041.915 jiwa. The soul of Madura, bangun desa nata kata, serta visitnya,  tak mampu mengatasi kemiskinan yang ada di Sumenep.

Kemiskinan bukan hanya dialami oleh orang pedesaan, di Kota juga masih banyak bertaburan kaum dhuafa dan fakir miskin. Tapi ingatlah, membantu orang miskin adalah tugas kita semua, yang namanya membantu tidak harus menunggu program pemerintah. Kapanpun dan dimanapun kita dapat saling membantu.

Kemiskinan masih menjadi persoalan yang akut di negeri ini. Program perlindungan sosial yang digelontorkan pemerintah cukup banyak. Mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan program lainnya. Semua program tersebut ditujukan kepada keluarga miskin. Hanya saja, banyak fakir miskin yang tidak bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah, lantaran tidak memiliki KK dan KTP ( tidak terdata ).

Lalu, bagaimana dengan keadaan dhuafa di Sumenep? Sebuta saja Kakek Sutabar asal Desa Taman Sare, salah satu dhuafa yang hidup dalam keterbatasan. Hidup sebatang kara dalam keadaan buta. Untuk sekdar makan saja, kakek yang sudah lupa umurnya itu menunggu belas kasihan dari tetangganya.

Disana juga ada pasangan suami istri Jumo (30) dan Alimah (42). Keluarga miskin yang tinggal di RT RW Dusun Tengat Desa Taman Sare Kecamatan Dungkek ini tidak pernah dapat bantuan perlindungan sosial. Keduanya dikarunia seorang anak Mohammad Novil. Selain mengurus anak yang sudah berusia 3 tahun juga harus mengurus ibunya, Saniyam (80) yang sudah rabun.

Mereka berempat hidup dirumah gedek ukuran 4×4 meter yang terbuat dari anyaman bambu. Saniyam terpaksa harus tidur di ranjang berdampingan dengan tungku, tempat memasak.

Nenek Jumahwa (50) Kec. Guluk-Guluk lumpuh sejak lahir, Orang tuanya yang biasa merawat Jumahwa meninggal sejak lama. tidak punya suami dan anak, praktis untuk makan, minum, mandi dan sebagainya dibantu oleh tetangga dan saudaranya yg masih hidup.

kesehariannya mulai dari masak, mandi nyuci dll butuh pertolongan orang lain, kalo ada tetangga atau saudaranya datang menyuapkan makanan baru dia bisa makan.
Hanya berbaring yang dia bisa, dudukpun tak kuasa.

Warninda, 77, warga Dusun Ares Tengah. Perempuan berusia lanjut itu sudah lama ditinggal suaminya. Ia tidak memiliki anak sehingga hidupnya hanya sebatang kara.

Kehidupan mereka sangat memprihainkan. Rumah yang menjadi pelindung dari hujan dan matahari terbuat dari bambu berukuran sekitar 4 x 4 meter. Tempat tidur, dapur, dan ruang tamu menyatu. Meski tercatat sebagai warga miskin, dia tidak pernah mendapatkan bantuan.

Beralih ke Nyi Mu'a, Pondok Daya Kec. Batu Putih. Hidup sebatang kara, tidak punya keluarga, rumahnya di pinggir jalan, tapi luput dari perhatian pemerintah lantaran tidak punya KK KTP.

Makannya sehari-sehari Nasi Jagung yang sudah basi, penglihatan sudah mulai tidak berfungsi, pendengaran sudah hilang.Ia tidak bisa memasak sendiri, mau berjalan saja tidak bisa. Kesehariannya hanya menunggu pertolongan dari tetangganya.

Kaum dhuafa di atas hanyalah sebagian kecil dari daftar kemiskinan di Sumenep yang diambil data para relawan KSB, tentunya masih banyak diluar sana yang perlu bantuan kita semua, hususnya pihak pemerintah Sumenep itu sendiri.


EmoticonEmoticon