Indahnya Indonesia Tanpa Pacaran

Indahnya Indonesia Tanpa Pacaran
Terinspirasi dari sebuah gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, sebuah gerakan yang menyerukan agar anak muda tidak pacaran. Saya tergerak untuk menulis ini, sebagai dukungan untuk mereka yang telah berjuang, menyelamatkan generasi anak-anak Indonesia.

Ya, Indonesia akan indah tanpa pacaran, Indonesia akan indah tanpa berdua-duan dengan yang tidak halal, Indonesia akan indah tanpa mereka yang bertiga dengan syaithan.

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734.)

Pacaran itu indah katanya, senang perasaannya, bahagia rasanya. Bisa berduaan, bisa berpegangan tangan, bisa saling membantu dsb. Itulah alasan orang-orang ahli pakar berpacaran sebagai dalih nikmatnya berpacaran.

Bukankah selama ini, kita sering mendengar dan membaca berita. Membunuh karena pacar,  bunuh diri karena pacar, hamil diluar nikah karena pacar, sesama teman saling adu jotos karena pacar, memutuskan persahabatan karena pacar, berbohong karena pacar, mencuri dan merampok karena pacar lantaran dompet tipis tak punya uang.

Bagaimana pacaran bisa dikatakan indah, sementara dalam pacaran itu tak lepas dari saling memandang, padahal Nabi junjungan kita bersabda :

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)

Yang namanya pacaran, tidak akan lepas dari yang namanya berdua-duaan. Bagaimana anda bisa merasa bahagia padahal “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)

Semula diawali dengan pandangan mata. Lalu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Kemudian berdua-duan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina.

1 komentar so far


EmoticonEmoticon