Hadits-Hadits (Dalil) Cemburu Dalam Islam

cemburu
Dalil Cemburu Dalam Islam. Ada kata-kata “Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia”. Kata cemburu yang mengusik hati, hingga akhirnya saya pun berselancar di dunia maya dan mencari dalil-dalil pendukung. Dan Masyaallah, ternyata Allah itu sangat pencemburu. Seperti hadits Rasulullah yang mengatakan

Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada riwayat lain juga menyebutkan: Seorang mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya daripada dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa tak adilnya kita selama ini. Kita palingkan hati kita untuk mengingat ciptaanNya bukan Dia. Tak jarang isi kepala kita hanya memikirkan seseorang, yang belum tentu memikirkan kita.

Tak jarang pula kita memikirkan dunia serta isinya yang membuat kita terlena. Bahkan disela-sela ibadah sholat kita yang membuat kita tak khusyuk benar-benar ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Padahal jelas, Allah sangat sayang kepada kita, dia yang berikan rasa cinta itu kepada kita. Memberikan rezeki sebagaimana yang kita minta, bahkan tak sekedar yang kita minta, Allah lebih memilihkan yang benar-benar kita butuhkan dan terbaik. Lupa kita dengan segala rahmat itu semua, sejak dari lahir sampai sekarang ini.

Lalu apa yang kita bisa lakukan? Menjaga hati. Mungkin menjaga hati ini bukan untuk mendapatkan seorang pasangan ataupun rizki semata. Tetapi lebih pada keridhaan Allah terhadap kita. Kita sadar bahwa Allah lah sang maha pembolak balik hati.

Terkadang iman kita di atas dan di bawah. Dengan menjaga hati kita untuk Allah, semoga iman kita berada diantaranya dan cenderung meningkat setiap waktu.

Hadits-hadits (Dalil) yang berhubungan dengan sikap cemburu

Hadits Abu Hurairah Radliyallohu ‘anhu :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan juga kepada hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Pergaulilah wanita kaum wanita dengan baik.” (HR. Bukhari)

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam juga bersabda;

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap isteriku.” (HR. Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits, Sahabat Anas bin Malik menceritakan; “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di rumah salah seorang istrinya, ” Anas berkata; “Menurutku adalah Aisyah.” Lalu Salah seorang istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan yang diantar oleh utusannya, namun istri yang bersama beliau membuang piring yang berada di tangan utusan sehingga pecah terbelah menjadi dua.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan:  غَارَتْ أُمُّكُمْ “(Ibu kalian sedang cemburu)” Lalu beliau menyatukan dua pecahan piring tersebut dan meletakkan makanannya di atasnya seraya bersabda: “Makanlah oleh kalian!” maka para sahabat pun memakannya. Sementara beliau tetap memegang piring yang pecah tersebut hingga mereka selesai memakan makanannya, lalu diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah piring yang lain, lalu beliau pun tinggalkan yang pecah.” (HR. Ahmad)

Ibnu Hajar Al-Atsqalani mengatakan, sabda nabi “ghaarat ummukum” (ibu kalian dilanda cemburu) menunjukkan sikap memaafkan yang ditunjukkan Nabi kepada perbuatan Aisyah. Dan ini juga menunjukkan tentang tidak bolehnya memberi hukuman kepada seorang istri yang sedang cemburu karena saat itu akalnya sedang tertutup oleh marah akibat cemburu.


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Aisyah juga menceritakan;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Ketika Rasulullah menyebut-nyebut kebaikan Khadijah, timbullah kecemburuan di hati Aisyah. Aisyah menceritakan, “Apabila Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengingat Khodijah, beliau selalu memujinya dengan pujian yang bagus. Maka pada suatu hari saya merasa cemburu hingga saya berkata kepada beliau; ‘Alangkah sering engkau mengingat wanita yang ujung bibirnya telah memerah, padahal Allah telah menggantikan untuk engkau yang lebih baik darinya. Serta merta Rasulullah bersabda: “Allah AzzaWaJalla tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya, dia adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia membenarkanku di saat manusia mendustakan diriku, dan ia juga menopangku dengan hartanya di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah AzzaWaJalla telah mengaruniakan anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri yang lain.” (HR. Ahmad)


EmoticonEmoticon