Ustadz Pelawak Akan Segera Ditertibkan Oleh Kemenag

hadits nabi tentang tertawa
Akhirnya, Kemenag akan membuat aturan baru terkait ustadz-ustadz komedian, yang selalu banyak guyon, yang selalu membuat jamaah tertawa dari pada merenungi dan meresapi isi penyampainnya. Mungkin selama ini kita tidak sadar, bahwa dengan lahirnya ustadz-ustadz komedian seperti abad ini, yang selalu membuat jamaah tertawa sampai berlebihan. Akan membuat jamaah lupa diri dan membuat hati menjadi mati.

Nabi Saw. Pun telah memberikan sinyal kepada kita melalui sabda/haditsnya tentang banyak tertawa:

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguh­nya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Abu Daud)

kemenag

Ustaz Kebanyakan Guyon saat Ceramah Bakal Ditertibkan

jpnn.com, BOGOR - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pihaknya sedang merancang aturan baru terkait keberadaan penceramah atau ustaz kebanyakan guyon ketimbang ilmu agama saat ceramah. Upaya penertiban ustaz akan dilakukan sebagai tindak lanjut dari keluhan masyarakat.

"Pemerintah (diminta, red) lebih proaktif untuk menata penceramah mubalig, dai, yang terkadang dalam ceramahnya itu mungkin lebih banyak guyonnya,” kata Lukman di Unit Pencetakan Al­quran (UPQ) Ciawi, Bogor, seperti dikutip dari Metropolitan.

Dalam laporan publik itu, kata Lukman, banyak yang menganggap ceramah bercampur guyon itu kurang pantas. Bahkan, tidak sedikit yang menyampaikan isi ceramah bukan pada forum majelis taklim atau forum keagamaan.

Karena itulah, kata Lukman, Kemenag akan menyusun kode etik bagi para penceramah. Dengan panduan ini maka akan menjadi prinsip yang dipegang seorang penceramah atau ustaz untuk menjaga integritas dakwah yang disampaikan. ”Agar dakwah Islam senantiasa tidak disampaikan oleh pihak yang bukan pada tempatnya. Ini akan kami terus rumuskan,” kata Lukman.

Namun rencana Menteri Agama itu pun menuai pro dan kontra. Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kabupaten Bogor KH Abdullah Nawawi mempertanyakan terkait rencana tersebut. Sebab, perlu dipikirkan juga jika ceramah serius tanpa guyonan, jemaah bisa tertidur mendengarkannya atau bosan.

“Tidak apa-apa mau seperti itu. Tapi pikirkan juga hal lainnya. Sepanjang guyonan tidak keluar etika agama dan menghina seseorang seharusnya tidak apa-apa,” katanya.

Menurutnya, masih banyak yang harus dibereskan selain merumuskan kode etik bagi para penceramah yang meng­gunakan metode guyonan. Yakni terkait mabuk-mabukan, kejahatan hingga tempat hiburan malam (THM) yang masih ada hingga kini. “Kalau disuruh serius bisa, guyon juga bisa. Tapi ingat, tidak boleh menghina tapi bina,” ucapnya. (rez/c/feb/run)

Di zaman sekarang ini, banyak yang bekerja sebagai pelawak, tetapi sedikit yang menjaga lisannya dari kedustaan. Begitu pula para muballigh,  tak sedikit yang berceramah dengan gaya guyonanan. Yang gemar membuat orang tertawa. Sudah sepantasnya isi ceramahnya jangan sampai mengada-ada dan bisa dipertanggungjawabkan.

 وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.
“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” (HR Abu Dawud no. 4990. Shahih Targhib wat-Tarhiib no. 2944.)

Ceramah dengan metode guyon memang perlu dilakukan sepanjang guyonan tidak keluar dari etika agama, agar jamaah yang mendengarkan tidak ngantuk, jenuh, bosan, dsb. Hanya saja jangan sampai berlebihan dan tidak ada kedusataan didalamnya.

Ingatlah, bahwa agama bukan permainan yang bisa dijadikan stand up komedian, untuk mengundang gelak tawa para pendengarnya. Sebagaimana kita saksikan selama ini ustadz-ustadz komedian di televisi maupun ditempat lainnya. Gelar ustadz hanya dijadikan label untuk kejar target cari omset. Semoga aturan baru Kemenag ini segera cepat diterapkan.


EmoticonEmoticon