Memahami Asbabun Nuzul Sebab-Sebab Turunnya Al-Qur'an

Asbabun Nuzul Al Quran
Dalam Asbabun nuzul, mayoritas ulama mengemukakan kaidah patokan dalam memahami ayat adalah redaksinya yang bersifat umum, bukan khusus terhadap pelaku kasus yang menjadi sebab turunnya. Sedangkan sebagian dari ulama,mereka mengemukakan kaidah patokan dalam memahami ayat adalah kasus yang menjadi sebab turunnya, bukan redaksinya yang bersifat umum.

Bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat al-Qur’an mengenai peristiwa itu, seperti kisah turunnya surat al-Lahab. Bila Rasulullah SAW ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat al-Qur’an menerangkan hukumnya.

Hal itu seperti ketika Khaulah binti Tsa’labah dikenakan Zihar oleh suaminya, Aus bin Tsamit, hingga Khaulah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hukumnya, maka turun lah QS al-Mujadalah ayat 3. Seperti Itulah sebab-sebab turunnya Al Qur'an.

Sekian banyak ayat Al Quran, maka harus dipahami dalam konteks sebab nuzul-nya. Hal ini berarti bahwa arti sebab dalam rumusan di atas walaupun tidak dipahami dalam arti kausalitas, sebagaimana yang diinginkan oleh mereka yang berpaham bahwa Al-Qur'an qadim tetapi paling tidak ia menggambarkan bahwa ayat yang turun itu berinteraksi dengan kenyataan yang ada dan dengan demikian dapat dikatakan bahwa kenyataan tersebut mendahului keberadaan ayat yang turun di bumi itu.

Setiap asbabun nuzul pasti mencakup: peristiwa, pelaku, dan waktu. Tidak mungkin benak akan mampu menggambarkan adanya suatu peristiwa yang tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu dan tanpa pelaku. selama ini pandangan menyangkut asbabun nuzul dan pemahaman ayat sering kali hanya menekankan kepada peristiwanya dan mengabaikan "waktu" terjadinya serta pelakunya.

Penganut paham al-'ibrah bi khushush al-sabab, menekankan perlunya analogi untuk menarik makna dari ayat-ayat yang memiliki latar belakang asbabun nuzul itu, tetapi dengan catatan apabila qiyas tersebut memenuhi syarat-syaratnya.

Analogi yang dilakukan tidak terbatas oleh analogi yang dipengaruhi oleh logika formal yang selama ini banyak mempengaruhi para fuqaha' . Tetapi, analogi Yang lebih luas dari itu, yang meletakkan di pelupuk mata al-mashalih al-mursalah dan yang mengantar kepada kemudahan pemahaman agama, sebagaimana halnya pada masa Rasul dan para sahabat.

Qiyas berdasarkan rumusan Imam Al-Syafi'i, yaitu Ilhaq far'i bi ashl li ittihad al-'illah, yang pada hakikatnya tidak merupakan upaya untuk mengantisipasi masa depan, tetapi sekadar membahas fakta yang ada untuk diberi jawaban agama terhadapnya dengan membandingkan fakta itu dengan apa yang pernah ada.

Dengan demikian, pemahaman asbabun nuzul dapat diperluas sehingga mencakup kondisi sosial pada masa turunnya Al-Qur'an dan pemahamannya pun dapat dikembangkan melalui kaidah yang pernah dicetuskan oleh ulama terdahulu, dengan mengembangkan pengertian qiyas.

(Rujukan :M. Quraish Shihab. Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Mizan, 1999.)


EmoticonEmoticon