Makalah Tentang perceraian (Kasus Hukum Perdata )

TUGAS MAKALAH KASUS-KASUS HUKUM PERDATA
Pengantar Ilmu hukum dan Tata Hukum Indonesia 
Tentang perceraian
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa, berkat nikmat serta pertolongan-NYA kami dapat menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah Pengantar Ilmu Hukum dan tata Hukum Indonesia dengan tema Kasus-kasus Hukum Perdata.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tertuju kepada Rasulullah SAW, manusia teladan bagi seluruh makhluk yang telah berhasil membawa kita dari dunia jahiliyah menuju dunia intelektual.

Akhirnya, kami menyadar bahwa masih adanya kekurangan dalam makalah kami bahkan kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki. Untuk itu kami mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun terhadap hasil penulisan ini agar penulisan makalah ini dapat berguna bagi agama, bangsa dan negara.



DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................................  
Daftar Isi.................................................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN......................................................................................................    
      A.   Latar Belakang Masalah.................................................................................................    
     B.   Rumusan Masalah..........................................................................................................    
     C.   Tujuan penulisan.............................................................................................................    
BAB II : KAJIAN PUSTAKA..................................................................................................    
BAB III : PEMBAHASAN.......................................................................................................    
      A.   Pengertian  Perkawinan dan Perceraian Menurut UU No. 1 tahun 1974.............    
      B.   Faktor-faktor yang menyebabkan Anang-Krisdayanti bercerai...............................    
      C.   Dampak dari perceraian Anang-Krisdayanti...............................................................    
BAB IV : PENUTUP............................................................................................................... 
      A.   Kesimpulan....................................................................................................................... 
      B.   Kritik dan Saran................................................................................................................ 
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................... 


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman dan gaya hidup yang semakin glamor, ternyata juga membawa terhadap membumingnya perceraian dikalangan masyarakat, apalagi dikalangan selebriti yang merupakan sorotan media dalam setiap aktivitasnya. Gaya hidup seperti ini yang sudah menjadi lumrah dikalangan masyarakat. Padahal pernikahan adalah suatu i’tikad sakral yang menyatukan dua keluarga untuk terciptanya keluarga baru yang kekal bahagia.
Dengan hal ini, kami mengangkat topik kisah perceraian Anang Hermansyah dengan Krisdayanti yang merupakan diva pop Indonesia. Kisah peerceraian ini menimbulkan isu bahwa penyebab terjadinya gugatan cerai dari Anang terhadap Krisdayanti dikarenakan beredarnya kabar perselingkuhan Krisdayanti dengan seorang pengusaha kaya asal Timor Leste. Yang menjadi menarik dari perceraian ini, setelah Anang-Krisdayanti resmi bercerai ternyata krisdayanti menikah dengan pengusaha tersebut dan sampai sekarang sudah dikaruniai keturunan.
Sehubungan dengan masalah rumah tangga Anang-Krisdayanti ini, kami akan mencoba menganalisa berdasarkan UU No. 1 tahun 1974, undang-undang tentang perkawinan.
B.   Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian perkawinan dan perceraian menurut UU No. 1 tahun 1974?
2.    Faktor apa yang menyebabkan Anang-Krisdayanti bercerai?
3.    Apakah dampak dari perceraian tersebut bagi anak-anak mereka?
C.   Tujuan penulisan
1.    Menjelaskan pengertian perkawinan dan perceraian menurut UU No. 1 tahun 1974.
2.    Memaparkan faktor penyebab Anang-Krisdayanti bercerai.
3.    Mendeskripsikan dampak-dampak dalam perceraian tersebut bagi anak-anak mereka.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.   Penngertian Hukum perdata
Hukum Acara Perdata disebut juga dengan Hukum Perdata Formil. Menurut Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H dalam bukunya yang berjudul Hukum Acara Perdata di Indonesia Hukum Acara Perdata adalah serangkaian peraturan-peraturan yang memuat bagaimana orang harus bertindak terhadap dan di muka pengadilan dan bagaimana cara pengadilan itu harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan Hukum perdata[1]
Perkawinan merupakan suatu perikatan antara seorang lelaki dengan seorang wanita yang diakui secara sah oleh perungang-undangan negara yang bertujuan untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Unsur-unsur dalam perkawinan ada tiga, yaitu, sebagai berikut:
1.    Sebuah perkawinan supaya menjadi sah harus diakui oleh undang-undang dan hal itu jika dilakukan sesuai dengan tata cara undang-undang.
2.    Perkawinan dalam KUH Perdata berasaskan monogami (pasal 27 KUH Perdata) dan poligami dianggap bertentangan dengan KUH Perdata.
3.    Perkawinan pada asasnya berlangsung kekal dan abadi[2].

Akibat dari suatu perkawinan antara lain sebagai berikut :
1.    Hak dan kewajiban suami-istri yang menyangkut hal pribadi suami-istri
Menurut  pasal 103 UU KUH Perdata adalah kewajiban suami-istri untuk saling setia, tolong-menolong, dan saling membantu. Pasal 106 UU KUH Perdata mengandung asas bahwa suami-istri harus tinggal dalam satu rumah. Suami harus menerima istri dikediamannya sedangkan istri wajib mengikuti suaminya dimana suaminya bertempat tinggal.
2.    Hak dan kewajiban suami-istri yang menyangkut kekuasaan marital suami.
Suami adalah kepala rumah tangga dalam keluarga (pasal 195 UU KUH Perdata) yang memiliki kekuasaan tertentu. Suami menentukan tempat tinggal bagi istri, mengurus kekayaan dan membantu istri dalam melakukan perbuatan hukum[3].

Perceraian merupakan putusnya sebuah perkawinan. Saat suami-istri sudah tidak mau lagi melanjutkan perkawinan. Mereka dapat mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Suami-istri tersebut dapat membicarakan kembali mengenai harta benda mereka yang telah didapatkan selama menikah serta cara pengasuhan anak-anak mereka (jika dikaruniai keturunan). Masalah tersebut dapat diselesaikan di pengadilan.
Sebuah perkawinan dikatakan terputus bilamana : 1). Karena kematian, 2). Karena ketidakhadiran suami atau istri selama sepuluh tahun, 3). Karena putusan hakimsetelah adanya perpisahan meja dan ranjang dan pembukuan pernyataan bubarnya perkawinan dalam putusan catatan sipil[4].
Undang-undang menganggap sebuah perceraian merupakan suatu hal yang terpaksa dikarenakan pasangan suami-istri sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk hidup bersama. Hal ini disimpulkan dalam undang-undang sebagai berikut :
  1.    Pasal 208 KUH Perdata melarang perceraian atas dasar kesepakatan suami-istri. Hal ini dipertimbangkan untuk mencegah mudahnya memutuskan perkawinan dengan perceraian.
  2.    Perceraian hanya dapat dituntut berdasarkan alasan-alasan secara limitatif yang diatur dalam undang-undang (pasal 209 KUH Perdata).
  3.    Untuk menuntut perceraian harus minta ijin dari pengadilan dan hakim harus berusaha mendamaikan suami-istri tersebut.

B.    Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian[5], yakni sebagai berikut :
   1.    Ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
   2.    Krisis moral dan akhlak.
   3.    Perzinaan.
   4.    Pernikahan tanpa cinta.
   5.    Melukai berat atau menganiaya yang dilakukan oleh salah seorang satu diantara suami-istri tersebut terhadap salah satunya, yang demikian dapat menyebabkan adanya luka-luka yang membahayakan[6].

Akan tetapi sebuah perceraian dapat dikatakan gugur apabila diantara suami-istri terjadi perdamaian, salah satu diantara suami-istri meninggal dunia sebelum persidangan dan sebelum adanya putusan bercerai dari pihak pengadilan[7]. Hal ini sesuai dengan pasal 38 behwa putusnya perkawinan karena : 1). Kematian, 2). Perceraian dan 3). Atas putusan pengadilan[8].

C.   Akibat dari putusnya perkawinan karena perceraian
Sebuah perceraian yang dilakukan oleh suami-istri ternyata menimbulkan suatu akibat,  hal ini tertera dalam pasal 41 UU No. 1 tahun 1974 yaitu sebagai berikut:
1.    Suami atau istri tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak. Jika ada perselisihan dalam penguasaan anak-anak maka pengadilan memberi putusannya.
2.    Suami atau bapak yang bertanggung jawab penuh atas semua biaya pemeliharaan anak dan pendidikan anak. Jika bapak ternyata tidak mampu untuk menanggung hal itu maka pengadilan dapat menentukan bahwa ibu juga ikt andil dalam hal itu.
3.    Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan atau menentukan suatu kewajiban bagi bekas istri.

D.   Dampak-dampak dari perceraian
Menurut Prof. R. Subekti. S.H mengatakan bahwa dampak dari adanya perceraian harus diatur secara yuridis, karena dianggap bahwa dampak dari perceraian tersebut tidak hanya berakibat bagi bekas suami maupun bekas istri akan tetapi juga dapat merusak tata sosial masyarakat. Menurutnya dampak-dampak perceraian sebagai berikut:
1.    Meningkatkan jumlah pelacuran.
2.    Meningkatkan usaha kriminalitas.
3.    Kenakalan remaja yang disebabkan kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya yang telah bercerai[9].
BAB III
PEMBAHASAN
A.   Pengertian  Perkawinan dan Perceraian Menurut UU No. 1 tahun 1974
Dalam pasal 1 UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan menjelaskan bahwa Perkawinan merupakan suatu perikatan antara seorang lelaki dengan seorang wanita yang diakui secara sah oleh perungang-undangan negara yang bertujuan untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia berdasarkan ketuhanan yang maha Esa.
Sedangkan Perceraian merupakan putusnya sebuah perkawinan. Saat suami-istri sudah tidak mau lagi melanjutkan perkawinan. Mereka dapat mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Suami-istri tersebut dapat membicarakan kembali mengenai harta benda mereka yang telah didapatkan selama menikah serta cara pengasuhan anak-anak mereka (jika dikaruniai keturunan). Masalah tersebut dapat diselesaikan di pengadilan.
Sebuah perkawinan dikatakan terputus (perceraian) bilamana : 1). Karena kematian, 2). Karena ketidakhadiran suami atau istri selama sepuluh tahun, 3). Karena putusan hakim setelah adanya perpisahan meja dan ranjang dan pembukuan pernyataan bubarnya perkawinan dalam putusan catatan sipil.
B.   Faktor-faktor yang menyebabkan Anang-Krisdayanti bercerai

Pasangan Anang-Krisdayanti merupakan pasangan yang sudah cukup lama menjalin hubungan, dalam pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak. Namun beredar kabar bahwa Krisdayanti telah beberapa kali selingkuh dengan pria lain tetapi Anang masih bisa mentolerirnya. Pada saat perselingkuhan yang kelima inilah Anang telah hilang kesabarannya sehingga menggugat cerai Krisdayanti. Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh salah seorang ulama asal Jember KH. Machmud Nahrowi “tidak hanya kali ini Krisdayanti selingkuh, kalau tidak salah perselingkuhan kali ini sudah yang kelima kalinya”[10].
Dikabarkan perselingkuhan yang pertama Krisdayanti dengan seorang gitaris, selanjutnya dengan tiga lelaki lain, dan yang saat inilah dengan seorang pengusaha kaya asal Timor Leste. Mengenai perihal tersebut, Krisdayanti menanggapi dengan tidak memberikan komentar kepada media karena tidak mau mengganggu kesucian bulan Ramadhan. Hal ini diungkapkan saat jumpa pers mengenai keretakan rumah tangganya dengan Anang Hermansyah, namun Krisdayanti menolak bicara saat diminta klarifikasi mengenai perselingkuhannya dengan pengusaha kaya tersebut.
Akhirnya dengan adanya pernyataan dari seorang ulama tersebut yang juga merupakan warga Jember, Anang menjadi semakin hilang kesabarannya sehingga melayangkan gugatan cerai ke pengadilan. Surat gugatan tersebut harus sesuai dengan formulasi gugatan dan permohonan. Menurut pasal 118 HIR/RIB (reglemen Indonesia yang diperbarui) surat gugatan harus memuat tiga hal[11], sebagai berikut:
1.    Identitas para pihak, seperti nama lengkap, gelar, julukan, umur, agama dan sebagainya yang berkaitan dengan identits diri dan statusnya sebagai pengguagat/tergugat.
2.    Posita/position (fakta-fakta atau hubungan hukum yang terjadi antara kedua belah pihak. Dari posita inilah si penggugat melayangkan gugatannya. Tanpa adanya posita maka gugatan tidak dapat diterima karena termasuk kabur (obscuur libel).
3.    Petita/isi gugatan. Petita dapat bersifat alternatif, dalam arti hanya ada satu gugatan dan ada pula yang bersifat kumulatif yaitu penggugat mengajukan gugatan lebih dari satu gugatan.
Dari permasalahan yang dialami oleh Anang Hermansyah ini, Posita dari gugatannya yaitu dikarenakan perselingkuhan yang telah dilakukan oleh mantan istrinya Krisdayanti selama lima kali. Yang sangat membuat Anang tidak sabar lagi atas tingkah laku istrinya saat perselingkuhanya denga Raul Lemos tersebut yang sekarang sudah menjadi suami dari mantan istrinya itu.
Di dalam Undang-undang Hukum Perdata gugatan dengan permohonan itu berbeda, perkara gugatan ada suatu sengketa yang harus diselesaikan dan diputus oleh pengadilan. Dalam gugatan terdapat seseorang yang lebih merasa bahwa haknya telah dilanggar akan tetapi orang yang dirasa melanggar haknya tidak mau secara sukarela melakukan sesuatu yang diminta. Untuk menentukan siapa yang benar dan yang berhak diperlukan adanya suatu putusan hakim. Sedangkan pekara yang disebut permohonan tidak ada sengketa[12]
Berdasarkan tinjauan yuridis[13] dari kasus ini, Undang-undang yang digunakan pada kasus perceraian, sebagai berikut:
a.    UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, yang mengatur tentangperceraian secara garis besar.
b.    Kompilasi Islam bagi pasangan yang beragama Islam.
c.    PP. No. 9 tahun 1975 tentang tata cara pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang pengadilan mana yang berwenang dalam proses cerai.
d.    UU No. 23 tahun 1974, pengahapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bagi seseorang yang mengalami kekerasan/aniaya dalam rumah tangga.
Menurut tinjauan yuridis diatas, surat gugatan yang dibuat oleh Anang Hermansyah terhadap Krisdayanti diajukan ke pengadilan agama, karena mereka merupakan pasangan yang beragama islam. Konstribusi hukum Islam dalam pembangunan hukum nasional: pertama, UU No. 1 tahun 1974. Pada pasal 2 ditulis bahwa perkawinan dikatakan sah apabila dilakukan berdasarkan hukum agama masing-masing. Sementara pada pasal 63 menyatakan bahwa yang dimaksud pengadilan agama dalam undang-undang adalah peradilan agama bagi mereka yang beragama Islam. Kedua, Kompilasi hukum Islam (KHI) meski tidak berbentuk undang-undang, melainkan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991. Kompilasi ini membantu para hakim dalam memutuskan perkara terutama di Peradilan Agama[14].
C.   Dampak dari perceraian Anang-Krisdayanti
Akibat-akibat perceraian menurut Undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 dapat dibedakan menjadi 3 unsur, yaitu: akibat terhadap suami istri; akibat terhadap harta kekayaan; dan akibat terhadap anak.
Pasangan ini memiliki dua orang anak yaitu Auriel dan Azriel, kehidupan rumah tangga ini berlangsung cukup lama. Yang pasti setelah keduanya memilih untuk berpisah kasih sayang dan perhatian terhadap kedua buah hati mereka tidak sama seperti sedia kala saat mereka masih tinggal bersama. Baik dari pendidikan, kesehatan dan semacamnya. Kedua pasangan ini tidak terlalu memikirkan siapa yang berhak atas hak asuh anak-anak mereka.
Berdasarkan pasal 41 UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, mengenai hak asuh anak keduanya berhak atas pemeliharaan kepada anak, namun yang berkewajiban atas seluruh biaya yang diperlukan oleh anak-anak mereka adalah bapak, jika si bapak tidak mampu terhadap pembiayaan itu maka pengadilan akan memberikan kewajiban bagi isi ibu bahwa juga ikut andil dalam penangguangan biaya yang diperlukan anak[15].
Sehubungan dengan ini, kedua anak mereka tinggal bersama Anang yang merupakan bapak yang sah karena Anang masih mampu menanggung semua kebutuhan buah hatinya. Akan tetapi Anang tidak membatasi pertemuan antara buah hatinya dengan mantan istrinya yang merupakan ibu dari anak mereka meskipun hak asuh anak jatuh ke tangan Anang Hermansyah. Tetapi pada awal pasca perceraiannya Anang memang masih tidak membolehkan Krisdayanti untuk bertemu dengan anak-anaknya, hal itu disebabkan anak-anak masih terlalu sakit hati kepada ibunya ditakutkan ketika anak-anak bertemu dengan krisdayanti anak-anak justru marah kepada ibunya, Anang tidak mau perseteruan anak dengan ibunya semakin berlarut-larut.
Setelah resmi bercerai, maka Anang meminta kepada Krisdayanti untuk juga ikut melunasi cicilan ruko yang merupakan harta warisan bagi kedua anaknya, namun Krisdayanti tidak mau karena ruko milik anaknya itu ditempati oleh Anang dengan Istrinya Ashanty. Hal ini dipicu karena setelah perceraiannya karier Anang-Ashanty lebih bagus daripada karier Krisdayanti.
Pada dasarnya pewarisan merupakan proses berpindahnya harta peninggalan dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Akan tetapi proses ini tidak dapat terjadi jika unsur-unsurnya tidak lengkap[16]. Terdapat tiga unsur warisan, yaitu:
1.    Orang yang meninggalkan warisan : Erflater
2.    Harta warisan : Erfenis
3.    Ahli waris : Erfgenaam
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa Anang merupakan Erflater (orang yang memberikan warisan meskipun dalam hal ini Anang masih hidup, dan Ruko tersebut adalah Erfenis (harta warisan) berupa bangunan dan Aurel dan Azriel merupakan Erfgenaam (ahli waris) yang merupakan keturunan yang sah dari pernikahan Anang dan Krisdayanti.
Menjadi orang tua tunggal bagi Anang tidaklah mudah, karena selain harus mencari uang bagi kedua anaknya juga harus memperhatikan pendidikan mereka. Hal ini dikatakan Anang ketika ternyata prestasi anak-anaknya menurun pasca perceraiannya dengan Krisdayanti. Demi kenyamanan anak-anaknya Anang mencoba menemani belajar anak-anaknya meski dalam keadaan lelah[17]. Tidak hanya itu yang dilakukan Anang demi prestasi kedua anaknya di sekolah, ia juga memberi instruksi kepada guru-guru di sekolah tempat kedua anaknya belajar untuk lebih memberi perhatian lebih kepada kedua anaknya.
Namun saat ini, Anang tidak perlu lagi mengkhawatirkan akan kurangnya perhatian ibu bagi anak-anaknya, karena Anang telah menikahi pasangan duetnya Ashanty yang akan mengganti peran Krisdayanti sebagai ibu. Meskipun terpaut usia yang cukup jauh tidak menjadi alasan bagi Ashanty untuk bisa memposisikannya sebagai ibu bagi Auriel dan Azriel, walaupun pada kenyataannya Ashanty belum juga dikaruniai momongan setelah dikabarkan tiga kali mengalami keguguran.

BAB IV
PENUTUP
A.   KESIMPULAN


Menurut pasal 1 UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan menjelaskan bahwa Perkawinan merupakan suatu perikatan antara seorang lelaki dengan seorang wanita yang diakui secara sah oleh perungang-undangan negara yang bertujuan untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia berdasarkan ketuhanan yang maha Esa. 

Hak dan kewajiban suami-istri yang menyangkut hal pribadi suami-istri Menurut  pasal 103 UU KUH Perdata adalah kewajiban suami-istri untuk saling setia, tolong-menolong, dan saling membantu. Pasal 106 UU KUH Perdata mengandung asas bahwa suami-istri harus tinggal dalam satu rumah. Suami harus menerima istri dikediamannya sedangkan istri wajib mengikuti suaminya dimana suaminya bertempat tinggal. 



B.   KRITIK DAN SARAN

Untuk itu kami mengharap kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun terhadap penulisan ini agar bisa dijadikan referensi di kemudian hari.



DAFTAR PUSTAKA
 Mardani. Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah. JAKARTA: SINAR GRAFIKA. 2009
Sudarsono. Hukum Waris dan Sistem Bilateral. JAKARTA : RINEKA CIPTA. 1994.
Sutantio, Retnowulan dan Oeripkartawinata, Iskandar. Hukum Acara Perdata dalam teori dan praktek. BANDUNG : MANDAR MAJU. 1997
Syahrani, Riduan. BukuMateri Dasar Hukum Acara Perdata. BANDUNG : CITRA ADITYA BAKTI. 2013.
Sitohang. Ikhtisar Kitab UU Hukum Perdata Indonesia. JAKARTA :PT KUDAMAS ASIA.
http://id.wikipedia.org/wiki/Perceraian
http://indohukum.blogspot.com/2011/04/pembahasan-kasus-perceraian-krisdayanti.html
http://syaichuhamid.blogspot.com/2012/10/putusnya-perkawinan-karena-perceraian.html
http://us.m.life.viva.co.id/news/read/101777-akibat_cerai_prestasi_anak_anang_menurun


[1] H. Riduan Syahrani, S.H. BukuMateri Dasar Hukum Acara Perdata. BANDUNG : CITRA ADITYA BAKTI. 2013. Hal1-2
[2] http://syaichuhamid.blogspot.com/2012/10/putusnya-perkawinan-karena-perceraian.html
[3] Ibid.
[4] Drs. HAJ.JSG.Sitohang. S.H. Ikhtisar Kitab UU Hukum Perdata Indonesia. JAKARTA :PT KUDAMAS ASIA. Hal 74
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Perceraian
[6] Drs. HAJ.JSG. Sitohang. Ikhtisar Kitab UU Hukum Perdata Indonesia. JAKARTA : PT. KUDAMAS INTRA ASIA. Hal 78
[7] Ibid. Hal 80-89
[8] http://indohukum.blogspot.com/2011/04/pembahasan-kasus-perceraian-krisdayanti.html
[9] http://syaichuhamid.blogspot.com/2012/10/putusnya-perkawinan-karena-perceraian.html
[10] http://indohukum.blogspot.com/2011/04/pembahasan-kasus-perceraian-krisdayanti.html
[11] Dr. Mardani. Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah. JAKARTA: SINAR GRAFIKA. Hal 81-82
[12] Ny. Retnowulan sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata. Hukum Acara Perdata dalam teori dan praktek. BANDUNG : MANDAR MAJU. 1997. Hal.10
[13] http://indohukum.blogspot.com/2011/04/pembahasan-kasus-perceraian-krisdayanti.html
[14] Dr. Mardani. Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah Syariah. JAKARTA: SINAR GRAFIKA. Hal 4-5
[15] http://indohukum.blogspot.com/2011/04/pembahasan-kasus-perceraian-krisdayanti.html
[16] Drs. Sudarsono, S.H. Hukum Waris dan Sistem Bilateral. JAKARTA : RINEKA CIPTA. 1994. Hal 15 


EmoticonEmoticon