Logika dalam bingkai sejarah

sejarah logika
Kata Pengantar
 
Dalam mempelajari logika, kita jangan menjadikan logika sebagai be all and end all, yakni membuat logika menjadi segalanya dan tujuan terakhir. Karena kebenaran dalam logika bukanlah kebenaran absolut. Oleh karena itu jadikanlah logika dengan istilah Logika est omnia et nihil, artinya logika itu mengajarkan segala sesuatunya yang diperlukan untuk mencapai kebenaran, tetapi logika bukan apa – apa, belu apa – apa, yaitu belum mengajarkan kebenaran materi pemikiran.

 Betapa logika dan hasil logika secara eksplisit dipakai serta diakui sebagai senjata dan alat ampuh dalam menanggulangi pemikiran – pemikiran dan kesimpulan – kesimpulan yan tidak sah, dalam menyelesaikan berbagai macam masalah yang ada khususnya dalam ilmu pengetahuan. Sebab tidak ada ilmu yang dapat mengabaikan logika. Logika bahkan de facto merupakan pintu gerbang dari segala ilmu pengetahuan.

Maka dari itu, kita perlu pelajari Logika mulai dari pengertian, sejarah perkembangannya serta tokoh – tokoh yang merintis lahirnya logika.

Logika dalam bingkai sejarah
 Istilah logika berasal dari bahasa latin yaitu logos yang berarti perkataan. Secara epistimologi, logika merupakan segala sesuatu yang dengan akal dan dapat diterima oleh akal. Dengan kata lain perkataan yang masuk akal. Logika itu sangat penting dalam perjalanan hidup manusia, hal ini berkaitan dengan kemampuan manusia dalam bernalar.

Dalam sejarah Logika, menurut berbagai pendapat mengatakan bahwa Zeno dari Citium (334-262 SM) merupakan orang  pertama kali yang menggunakan istilah Logika. Akan tetapi mengenai persoalan - persoalan mengenai Logika dikaji oleh para Filsuf  Mazhab Elea, yang inti dari kajian mereka adalah masalah identitas dan perlawanan asas dalam realitas[1]. Tetapi kaum sophislah yang membuat pikiran manusia sebagai titik api pemikiran secara eksplisit. Gorgias (483 – 399 SM) dari Lionti (Sicilia) mempersoalkan masalah pikiran dan bahasa, masalah penggunaan bahasa dalam aktivitas berpikir.

Zeno membagi ajarannya pada tiga bagian. Pertama, Fisika yang dilukiskan sebagai lading dan pohon – pohonnya. Kedua, Logika sebagai pagarnya dan Ketiga, etika sebagai buahnya. Ajaran ini merupakan ajaran Dialektika yang dikemukakan oleh Permenides, yang menyatakan bahwa “yang ada” ada dan “yang tidak ada” tidak ada[2].

Perkembangan Logika di Yunani dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor politik, maksudnya adalah kiprah dari kaum sophis sebagai perintis Logika Ilmiah yang mendekatkan hubungan antara politik dengan logos (rasio) pada sidang politik yunani kuno. Hal ini terbukti pada keputusan – keputusannya didasarkan pada diskusi, perdebatan dan dialektika. Selain faktor pilitik juga faktor mental manusianya, yaitu berupa keterbukaan sikap dan kesamaan derajat[3].

Selain Zeno dari Citium itu, ada beberapa tokoh yang juga merupakan perintis lahirnya Logika. Yaitu seperti Socrates (470-399 SM) dan Plato (427-347SM). Socrates lahir di Athena yang merupakan generasi pertama dari tiga tokoh besar ahli filsafat   dan merupakan guru daripada Plato, pemikiran Socrates yang paling penting terdapar pada tata cara dalam berfilsafat dengan mengejar definisi absolutitas satu permasalan melalui satu dialektika. Pengejaran pengetahuan yang hakiki melalui penalaran dialektis manjadi pembuka jalan bagi filsuf – filsuf selanjutnya.
Socrates dengan metode Socratesnya, yaitu ironi dan maieutika tekhne, de facto mengembangkan metode induktif. Dalam metode ini contoh dengan peristiwa konkret dikumpulkan untuk kemudian dicari ciri umumnya[4].

Setelah Socrates, muncul Plato (428-347 SM). Plato ini mengumumkan metode Socrates sehingga menjadi teori ide, yakni teori Dinge an sich versi Plato. Menurutnya, ide merupakan bentuk mulajadi atau model yang bersifat umum dan sempurna yang disebut dengan protopyta, sedangkan benda – benda individual duniawi hanyalah bentuk tiruan yang tidak sempurna, yang disebut dengan ecpyta. Gagasan Plato ini ternyata memberikan banyak dasar terhadap perkembangan logika, lebih – lebih yang berkaitan dengan masalah ideogenesis dan masalah penggunaan bahasa dalam pemikiran[5].

Namun, Logika Ilmiah (natural, spontan, dengan naluri) baru dapat dikatakan terwujud berkat 6 kitab suci (karya) Aristoteles. Keenam kitab suci Aristoteles tersebut diberi nama to Organon (alat) yang merupakan puncak dari perkembangan logika yunani[6], yaitu :

1.      Categories (Categoriae), yang berisi tentang penjelasan – penjelasan dari pengertian;
2.      Topics (Topica), yang berisi tentang cara – cara berargumentasi;
3.      On Interpretation (de Interpretatione), yang berisi tentang putusan – putusan;
4.      Prior Analitics (Analitica Priora), yang berisi tentang silogisme;
5.      Posterior Analitics (Analitica Posteriora), yang berisi tentang pembuktian; dan
6.      De Sophisticis Elenchis, yang berisi tentang kekeliruan dan kesesatan berpikir.
Buku – buku inilah yang menjadi dasar Logika Tradisional. To organon  karya aristoteles hingga saat ini masih dijadikan rujukan polanya, yaitu pertama tentang idea, kedua tentang keputusan dan yang ketiga tentang proses pemikiran.
            Aristoteles adalah seorang filosof dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau, yang memprakarsai penyelidikan ihwal logika. Menurutnya, alam semesta tidaklah dikendalikan oleh serba kebetulan, atau oleh kehendak dewa yang terduga, melainkan tingkah laku dalam alam semesta ini tunduk pada hukum – hukum rasional[7].
Dibelahan timur, tepatnya di India juga terdapat Logika Nyaya yang disebut – sebut lahir dan perkembangan logika ini sejajar dengan Logika Aristoteles. Hal ini terbukti dengan kesamaan teori logika Nyaya yang juga sistem silogisme sebagaiman silogisme Aristoteles[8].
Cara berpikir silogisme tersebut tidak memiliki lawan sampai akhirnya ditantang , dijatuhkan dan menjadi ketinggalan zaman oleh dan karena dialektika, yaitu sebuah sistem besar kedua dalam ilmu berpikir. Dialektika merupakan hasil dari ilmu pengetahuan revolusioner selama seabad, yang dilakukan oleh kaum intelektual.
Berbeda dengan logika analitika (klasik), dialektika berawal dari proposisi – proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Ide dasar dialektika sudah dicetuskan Aristoteles dalam karyanya to organon. Ia menyebutkan sepuluh kategori yang membangun penalarannya, yaitu : substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, posisi, keadaan, aksi, dan keinginan, sebagaiman Heraclitus mengatakan “everything flows”.
Setelah Aristoteles, kemudian muridnya yang merupakan pemimpin Lyceum yaitu Theoprastus mengembangkan logika yang dikemukakan oleh Aristoteles, dan kaum Stoa mengembangkan teori logika dengan menggarap masalah – masalah bentuk argument disjungtif dan hipotesis serta beberapa segi masalah dalam bahasa. Kemudian Chrysippus (280-399 SM) yang merupakan puncaknya Logika karena telah berhasil mengembangkan logika menjadi pola – pola penalaran sistematis.
Kemudian muncul beberapa tokoh logika lainnya, diantaranya Galenus, Alexander Aphrodisiens dan juga Sextus Empiricus yang mengadakan sistematisasi logika dengan mengikuti cara – cara geometri yaitu metode alat ukur. Galenus ini juga termasuk yang berperan penting terhadap perkembangan lohgika karena tuntutannyayang ketat atas Aksiomatisasi logika. Tidak hanya itu, Galenus juga menghasilkan karya, yaitu salah satu kaya utamanya adalah “Logika Ordine Geometrico Demonstrata[9]”.
Setalah itu, logika mengalami zaman dekadensi logika. Selama ini logika berkembang karena menyertai perkembangan pengetahuan dan ilmu yang menyadari betapa berseluk – beluknya kegiatan berpikir yang setiap langkahnya harus dipertanggungjawabkan. Dan kini logika sudah menjadi ilmu yang dangkal sifatnya dan sederhana[10]
Dalam perkembangan sejarah lahirnya logika, Zeno dari Citium disebut sebagai tokoh pertama yang mencetuskan istilah logika. Namun akar daripada logika sudah ada pada pikiran dialektis para filsuf mazhab Elea. Socrates juga menorehkan hasil pemikirannya dalam sejarah logika dengan metodenya yaitu ironi dan maieutika, de facto mengembangkan metode induktif.
Pemikiran socrates ternyata dikembangkan oleh muridnya yaitu Plato. Plato mengatakan bahwa ide adalah mulajadi atau model yang bersifat umum dan sempurna (prototypa), sedangkan benda – benda duniawi hanya merupakan bentuk tiruan yang tidak sempurna (ectypa).
Aristoteles merupakan tokoh yang melahirkan Logika Ilmiah (natural, spontan, dengan naluri). Logika ilmiah terwujud berkat 6 kitab suci (karya) Aristoteles. Keenam kitab suci Aristoteles tersebut diberi nama to Organon (alat) yang merupakan puncak dari perkembangan logika yunani.
Sesudah Aristoteles, Theoprastus mengembangkan teori logika Aristoteles dan kaum stoa mengembangkan teori logika dengan menggarap masalah bentuk argumen disjungtif dan hipotesis serta beberapa segi masalah bahasa. Chrysippus yang merupakan pemimpin kaum stoa mengembangkan logika proposisi dan mengajukan bentuk – bentuk berpikir yang sistematis.
Galenus, Alexander Aphrodisiens, dan sextus Empiricus mengadakan sistematisasi logika. Galenus dikatakn sangat berpengaruh karena tuntutannya yang ketat atas aksiomatisasi logika.
Kemudian logika mengalami zaman dekadensi logika, dimana selama logika mengembang karena menyertai perkembangan pengetahuan dan ilmu yang menyadari betapa berseluk – beluknya kegiatan berpikir mesti dipertanggungjawabkan. Kini ilmu logika menjadi sangat dangkal dan sederhana sehingga dapat dikatakan bahwa logika pada waktu itu merosot.


[1] Ainurrahman Hidayat. Ilmu Logika. Pena Salsabila : SURABAYA. 2012, hal 9
        [2] Ibid, hal 9
[3] Umar Bukhory. Pengantar Ilmu Logika. AHIMSA press : PAMEKASAN. 2010, hal 9-10
[4]Poespoprojo. Logika Scientifika. Pustaka Grafika : BANDUNG. 2010 hal 41-42
[5]Ibid. Hal 42
[6]Drs. H. Mundiri. Logika. Rajawali press : Jakarta. 2012. Hal 3
[7] Ainurrahman Hidayat. Ilmu Logika. Pena Salsabila : SURABAYA. 2012, hal 10
[8]Umar Bukhory. Pengantar Ilmu Logika. Ahimsa press : PAMEKASAN. Hal 10.
[9] Poespoprodjo. Logika Scientifika. Pustaka Grafika : Bandung. 2010. Hal 43.
[10]Ibid. Hal 43.


EmoticonEmoticon