Contoh-Contoh Azbabun Nuzul Dalam Ayat Al Quran

Asbabun nuzul
Asbabun nuzul merupakan ilmu yang mempunyai peran penting terhadap penafsiran Al Quran. Ketika seorang ulama ingin menafsirkan ayat-ayat Al Quran, maka ia dituntut untuk mengetahui sebab-sebab turunnya suatu ayat, tentang bagaimana latar belakang suatu ayat diturunkan. 

Beberapa contoh Asbabun Nuzul ayat Al Qur'an dibawah ini, menunjukkan bagaimana suatu ayat Al Quran mempunyai maksud dan tujuan.

Asbabun nuzul Al Qur'an Surat At-Taubah

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلۡكُفَّارِ وَلۡيَجِدُواْ فِيكُمۡ غِلۡظَةٗۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ 

 “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS.At-Taubah : 123)

Abu Ja’far berkata : Allah SWT berfirman kepada orang yang beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, “wahai orang-orang yang membenarkan Allah SWT dan Rasulnya, perangilah wali-walimu yang kafir dan tidak berada jauh darimu,” atau dia berkata, “Mulailah perangi orang-orang terdekat dan terdekat denganmu, jangan perangi yang jauh darimu,”

Yang diajak bicara pada saat itu adalah bangsa Roma, karena mereka tinggal di negeri Syam, dan Syam lebih dekat dengan Madinah daripada Irak, tetapi setelah Allah Swt memerdekakan negeri-negeri bagi umat muslim, maka kewajiban berperang telah tetap atas umat mukmin untuk memerangi wali mereka yang menjadi musuh bagi mereka, selama saudara seakidah mereka yang jauh tidak diusik oleh musuh mereka yang kafir, tetapi jika saudara seakidah mereka diusik dan diganggu kehormatannya, maka umat muslim yang lain wajib menolong dan membebaskan mereka, karena muslim yang satu dengan muslim yang lain merupakan penolong. (buku tafsir At-Thabari karya Abu Ja’far Muhammad Bin Jarir Ath-Thabari, penerjemah Anshari Taslim dkk.)

Contoh Asbabun nuzul QS. Al-Ahzab Ayat 1-3

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا  
"Wahai nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,"

وَّاتَّبِعْ مَا يُوْحٰٓى اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا  
"dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan,"

وَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ   ۗ  وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا
"dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 3)

Imam Ibnu Jarir At-Thabari telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Ad-Dahak dan dari Ibnu Abbas RA. Ibnu Abbas RA. Telah menceritakan, bahwa sesungguhnya penduduk mekah, antara lain Al-Walid Ibnu Mughira dan Syaibah Ibnu Rabi’ah mengimbau kepada Nabi SAW. Agar mencabut kembali perkataan-perkataan (seruan dakwahnya). Untuk itu, mereka bersedia memberikan imbalan kepadanya yaitu memberikan setengah dari harta mereka. Dan orang-orang munafik dan yahudi di Madinah menakut-nakutinya supaya menghentikan seruan itu. Apabila tidak, maka mereka akan membunuhnya, kemudian turunlah ayat-ayat ini. (buku terjemah tafsir al-maraghi, Ahmad Musthafa Al-Maraghi)

Asbabun nuzul Al Qur'an Surat al-Kaafiruun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ 

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿

"Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”(al-Kaafiruun: 1-6)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi Muhammad saw dengan menawarkan harta kekayaan agar beliau menjadi orang yang paling kaya di kota Mekah.

Mereka juga menawarkan  kepada beliau untuk menikahi wanita mana saja yang beliau kehendaki. Upaya tersebut mereka sampaikan kepda beliau seraya berkata: “INilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat engkau jangan memaki-maki tuhan-tuhan kami dan menjelek-jelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun.” Nabi Muhammad saw menjawab: “Aku akan menunggu wahyu dari Rabb-ku.” Surat ini turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir itu.

Dan turun pula surat az-Zummar ayat 64 64. Katakanlah: “Maka Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq yang bersumber dari Wahb dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Juraij bahwa kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi sumber: asbabunnuzul KHQ.Shaleh dkk

Asbabun nuzul Al Qur'an Surat al-Kautsar Ayat 1-3

اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ 
"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak."
Allah SWT berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  
"Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)."

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
"Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)."

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dll, dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ka’b bin al-Asyraf (tokoh yahudi) datang ke Mekah, kaum Quraisy berkata kepadanya; “Tuan adalah pemimpin orang Madinah. Bagaimana pendapat tuan tentang  si pura-pura sabar yang diasingkan oleh kaumnya, yang menganggap dirinya lebih mulia dari kami, padahal kami adalah penyambut orang-orang yang melaksanakan haji, pemberi minumnya, serta penjaga Ka’bah ?” Ka’b berkata: “Kalian lebih mulia daripada dia.” Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar ayat 3) yang membantah ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah di dalam KItab al-Mushannaf dari Ibnul Mundzir, yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika Nabi Muhammad saw diberi wahyu, kaum Quraisy berkata: “Terputuslah hubungan Muhammad dengan kita.” Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar ayat 3) sebagai bantahan terhadap ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-suddi. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Kitab ad-dalaa-il, yang bersumber dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa yang meninggal itu ialah Qasim. Bahwa kaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki itu berarti putus keturunan. Ketika putra Rasulullah saw meninggal, al-‘Ashi bin Wa-il mengatakan bahwa keturunan Muhammad saw telah terputus. Maka surat al-Kautsar ayat 3 ini turun sebagai bantahan terhadap ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat 3 ini turun berkenaan dengan al-‘Ashi bin Wa-il yang berkata, “Aku membenci Muhammad.” Maka ayat ini turun  sebagai penegasan bahwa orang yang membenci Rasulullah akan terputus segala kebaikannya.

Diriwayatkan oleh Aththabarani dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Ayyub bahwa ketika Ibrahim, putra Rasulullah saw wafat, orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang murtad itu (Muhammad) telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan surat al-Kautsar ayat 1-3 ini yang membantah ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ayat ini (ayat 2) turun pada peristiwa Hudaibiyah, ketika Jibril datang kepada rasulullah memerintahkan kurban dan shalat. Rasulullah segera berdiri seraya menyampaikan khotbah Idul Fitri-mungkin juga khotbah idul Adha (rawi ragu, apakah peristiwa di dalam hadits itu terjadi pada bulan Ramadhan atau pada bulan Zulkaidah) kemudian sholat dua rakaat. Sesudah itu beliau menuju ke tempat kurban, lalu memotong hewan kurban.

Menurut as-Suyuthi, riwayat ini sangat gharib. Matan hadits ini meragukan, karena menyebutkan sholat id didahului khotbah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syamr bin ‘Athiyyah bahwa ‘Uqbah bin Abi Mu’aith berkata: “Tidak ada seorang pun anak laki-laki Nabi Muhammad saw yang hidup hingga keturunannya terputus.” Ayat ke 3 ini turun sebagai bantahan terhadap ucapan itu.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah saw wafat, kaum Quraisy berkata, “Serkarang Muhammad menjadi abtar (terputus keturunannya).” Hal ini menyebabkan Nabi Muhammad saw bersedih hati. Maka turunlah ayat ini (al-Kautsar 1-3) sebagai penghibur baginya. [Sumber: asbabunnuzul, KHQ.Shaleh dkk]

Asbabun nuzul Al Qur'an Surat Al-Ma'un

Menurut mayoritas ulama’, surat ini termasuk ke dalam surah Makkiyah. Sebagian menyatakan Madaniyah’ dan ada juga yang berpendapat bahwa ayat pertama sampai ayat ketiga turun di Mekah dan sisanya turun di Madinah.

 Pendapat lain juga mengatakan bahwa awal surat ini turun di Mekah, sebelum nabi berhijrah. Sedangkan akhirnya yang berbicara tentang riya’ dalam shalatnya turun di Mekah.Yang berpendapat surat ini Makkiyah, menyatakan ia adalah wahyu yang ke-17 yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Ia turun sesudah ayat At-Takatsur dan sebelum surah Al-Kafirun. 

Adapun sebab turunnya ayat ini terdapat dalam riwayat yang di kemukakan bahwa ada orang yang di perselisihkan, apakah Abu Sufyan atau Abu jahal, Al-ash Ibn Walid atau selain dari mereka. Konon setiap minggu mereka menyembelih unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang meminta sedikit daging yang telah disembelih itu. Namun, ia tidak memberinya bahkan menghardik dan mengusir anak yatim tersebut. Maka turunlah ayat pertama sampai ketiga dari surat Al-Ma’un. 

Sedang menurut sebuah riwayat yang dituturkan dari sahabat Ibnu Abbas ra yang melatari turunnya wahyu Allah Al Quran surat Al-Maun ayat keempat sampai terakhir ini adalah sebagai berikut. 

Bahwa pada zaman Rasullah dulu ada sekelompok kaum munafik yang rajin ibadah, dalam hal ini mengerjakan sholat. Namun patut disayangkan bahwa setiap mereka sholat itu tidak diniatkan karena Allah, melainkan karena ingin dilihat oleh orang lain. Ketika ada orang yang melihat mereka sholat maka mereka akan sholat dengan khusyuknya tetapi jika tidak ada orang yang melihatnya maka mereka sholat dengan seenaknya bahkan mereka tidak mengerjakannya. 

Apa yang dikerjakan selalu ingin mendapatkan pujian dari orang lain atau dengan kata lain disebut riya. Selain itu kaum munafik ini enggan untuk memberikan barang-barang berguna yang dimikinya kepada orang yang membutuhkannya dengan kata lain kaum munafik ini enggan untuk megeluarkan zakat. Allah tidak menyukai kaum seperti ini. Oleh karena itu, Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril, sebagai ancaman kepada kaum munafik tersebut dan menggolongkan mereka kedalam orang-orang yang mendustakan agama Allah. 

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An Nisa: 142.


EmoticonEmoticon