Cara Mengetahui Asbabun Nuzul Suatu Ayat Dalam Al Qur'an

Mengetahui Asbabun Nuzul
Bagaimana cara mengetahui azbabun nuzul suatu ayat dalam al quran?

Untuk mengetahui Sebab sebab turunnya ayat al quran, tidak boleh hanya dengan melalui akal atau pendapat atau istilahnya dikenal dengan Bi al-Ra’yi ((بالرأى, akan tetapi dengan riwayat yang sahih. Untuk itu, ulama Salaf dan ahli Tafsir begitu teliti dan sangat berhati-hati dalam perkara ini, di mana ulama mengetahui Asbab Nuzul dan perkara yang berkaitan dengan sebab penurunan al-Quran dengan melalui riwayat para Tabi’in dan para sahabat atau juga melalui riwayat yang secara sah berasal daripada Nabi. 

Seperti contoh untuk mengetahuinya, baca :  Asbabun nuzul suart al kafirun

Untuk mengetahui Asbabun Nuzul tidak bisa diketahui semata-mata dengan akal (rasio), mengetahuinya harus berdasarkan riwayat yang shahih dan didengar langsung dari orang-orang yang mengetahui turunnya Al-Qur'an, atau dari orang-orang yang memahami Asbabun Nuzul. Kenapa bisa demikian ? karena tidak setiap riwayat tentang “asbab al-Nuzul” yang dikemukakan oleh para sahabat dapat diterima begitu saja, tanpa pengecekan dan penelitian lebih cermat.  Hal ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan tentang “asbab al-Nuzul” suatu ayat merupakan pekerjaan yang sulit, sehingga menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang beberapa riwayat yang terkait dengannya.

Tidak boleh memperkatakan tentang sebab-sebab turun al-Qur’an melainkan dengan dasar riwayat dan mendengar dari orang-orang yang menyaksikan ayat itu diturunkan dengan mengetahui sebab-sebab serta membahas pengertiannya.

Sejalan dengan itu, al-Hakim menjelaskan dalam ilmu hadits bahwa apabila seorang sahabat yang menyaksikan masa wahyu dan al-Qur’an diturunkan, meriwayatkan tentang suatu ayat al-Qur’an bahwa ayat tersebut turun tentang suatu (kejadian). Ibnu al-Salah dan lainnya juga sejalan dengan pandangan ini.

Biasanya ulama menggunakan lafadz-lafadz yang tegas dalam penyampaiannya, seperti: “sebab turun ayat ini begini”, atau dikatakan dibelakang suatu riwayat “maka turunlah ayat ini”.

Contoh : “beberapa orang dari golongan Bani Tamim mengolok-olok Bilal, maka turunlah ayat Yaa aiyuhal ladzina amanu la yaskhar qouman”.

Al-Dahlawi mengidentifikasi sumber kesulitan dalam riwayat “asbab al-Nuzul”, yaitu:

(a) Adakalanya kalangan sahabat atau tabi‘in mengemukakan suatu kisah ketika menjelaskan suatu ayat. Tapi mereka tidak secara tegas menyatakan bahwa kisah itu merupakan “asbab al-Nuzul”. Padahal, setelah diteliti ternyata kisah itu merupakan sebab turunnya ayat tersebut;
(b) Adakalanya kalangan sahabat dan tabi‘in mengemukakan hukum suatu kasus dengan mengemukakan ayat tertentu, kemudian mereka menyatakan dengan kalimat: نزلت في كذا ...; seolah-olah mereka menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan penyebab turunnya ayat tersebut. Padahal, boleh jadi pernyataan itu sekedar istinbath hukum dari Nabi Saw tentang ayat yang dikemukakan tadi.

Oleh karena itu, para ulama seperti Imam al-Hakim al-Naysaburi, Ibn al-Shalah, dan ulama hadits lainnya menegaskan bahwa hadits yang menjadi sumber dalam riwayat “asbab al-Nuzul” harus merupakan hadits marfu‘, bersambung sanadnya, dan shahih dari sisi sanad maupun matan-nya.

Susunan atau bentuk redaksi dalam pengungkapan riwayat “asbab al-Nuzul”, secara garis besar ada tiga macam, yaitu:

1. Bentuk susunan redaksi yang disepakati oleh ulama menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” (al-muttafaq ‘ala al-i‘tidad bihi). Bentuk ini mengandung tiga unsur utama, yaitu: pertama, sahabat yang mengemukakan riwayat harus menyebutkan suatu kisah atau peristiwa yang yang menyebabkan turunnya ayat; Kedua, sahabat yang mengemukakan riwayat harus mengemukakan dengan redaksi yang jelas (bi al- lafzhi al-sharih) menunjukkan kepada pengertian “turunnya ayat”; dan Ketiga, sahabat yang mengemukakan riwayat harus mengemukakan riwayatnya dengan pola bahasa yang bersifat pasti, seperti ungkapan: “حدث كذا وكذا فنزلت آية كذا”, atau “حدث كذا وكذا فأنزل الله كذا”. 

Redaksi dalam bentuk tegas (sharih) dan pasti dalam pengungkapan “asbab al-Nuzul” ini dapat saja berupa: (a) redaksi yang tegas berbunyi: سبب نزول الآية كذا...; (b) adanya huruf fa’ (ف) yang bermakna al-sababiyah atau ta‘qibiyah yang masuk pada riwayat yang berkaitan dengan turunnya ayat, seperti: حدث هذا... فنزلت الآية... ; atau (c) adanya keterangan yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw ditanya tentang sesuatu kemudian diikuti dengan turunnya ayat sebagai jawabannya: سئل رسول الله عن كذا ... فنزلت الآية ...

2. Bentuk susunan redaksi yang masih diperselisihkan dikalangan ulama untuk menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” (al-mukhtalaf fi al-i‘tidad bihi wa ‘adamihi), karena redaksi pengungkapannya masih bersifat  muhtamilah (mengandung kemungkinan). Dalam bentuk ini, perawi tidak menginformasikan dengan gamblang adanya suatu kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat, namun hanya mengemukakan suatu riwayat dengan ungkapan: “إن الآية نزلت في إباحة كذا... أو في منع كذا...” , atau “نزلت هذه الآية في ...” , atau “نزلت الآية ...”.

Terdapat perbedaan pandangan ulama dalam memahami bentuk redaksi seperti ini, diantaranya adalah:

(a) Imam al-Bukhari dan Ibn al-Shalah memandang redaksi tersebut selaku riwayat yang menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” suatu ayat.

(b) Imam al-Zarkasyi dan al-Sayuthi menilai bahwa redaksi tersebut menunjukkan kepada penafsiran dan penjelasan yang terkait dengan ketentuan suatu hukum yang disinggung dalam pembahasan ayat (shigat tafsir wa istidlal bi al-ayat ‘ala al-hukmi), bukan sebagai riwayat yang menunjukkan kepada sebab turunnya ayat (shigat al-naql).

(c) Ibnu Taimiyah menilai bentuk redaksi tersebut mengandung dua kemungkinan, yaitu: pertama, sebagai riwayat yang menunjukkan kepada sebab turunnya ayat; dan kedua, sebagai keterangan tentang maksud ayat dan bukan sebagai riwayat tentang sebab turunnya. Ungkapan redaksi tersebut sama dengan pernyataan yang berbunyi: “عني بهذه الآية ...” (yang dimaksud dengan ayat ini adalah ...).

(d) Al-Qasimi menilai redaksi tersebut selaku pernyataan yang diungkapkan oleh para sahabat dan tabi‘in dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang apa yang dibenarkan oleh ayat. Dalam hal ini perlu dilakukan langkah ijtihad guna menentukan apakah riwayat tersebut sebagai “asbab al-Nuzul” ayat atau hanya sekedar penjelasan tentang kandungan suatu ayat.

(e) Al-Zarqani menilai bahwa bentuk redaksi seperti ini bukanlah serta merta secara pasti menunjukkan kepada riwayat sebab turunnya ayat, karena dapat saja menunjukkan kepada penjelasan tentang kandungan ayat. Dalam hal ini harus diteliti lebih cermat indikator (qarinah) yang menunjukkan ke salah satu dari kedua kemungkinan tersebut. Jika ada indikator yang menguatkan arah tunjukannya selaku riwayat sebab turunnya ayat, maka barulah dipahami bahwa redaksi itu menunjukkan kepada peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat.
3. Bentuk susunan redaksi yang disepakati oleh ulama tidak menunjukkan kepada “asbab al-Nuzul” (al-muttafaq ‘ala ’adami al-i‘tidad bihi). Bentuk susunan redaksi ini ada dua macam, yaitu:
Pertama, adakalanya si Perawi tidak mengungkapkan riwayat dengan redaksi yang jelas menunjukkan kepada pengertian “turun” (shigat al-Nuzul), namun mengemukakannya dengan redaksi lain, seperti lafaz qira’ah atau tilawah. Misalnya, si Perawi mengatakan: “حدث كذا فقرأ النبي صلى الله عليه وسلم ... أو فتلا النبي صلى الله عليه وسلم كذا ...”. Para ulama menilai bahwa pengungkapan “qira’ah” atau “tilawah” setelah penyebutan adanya suatu kejadian (al-haditsah) jelas menunjukkan bahwa suatu ayat pasti turun mengiringi kejadian atau peristiwa tersebut. Padahal dalam kenyataan berdasarkan ungkapan redaksi itu sendiri, jelas menunjukkan ayat yang dibaca oleh Nabi Saw sudah turun sebelum terjadinya peristiwa dimaksud. Atau bisa jadi pembacaan Nabi Saw akan ayat tersebut sebagai penjelasan penguat dari ayat yang turun lebih dahulu yang memiliki hubungan yang kuat dengan ayat yang dibacakan Nabi Saw ketika ada suatu kejadian. 

Kedua, adakalanya si Perawi mengungkapkan redaksi riwayatnya dengan pola bahasa yang tidak secara pasti menunjukkan kepada sebab turunnya ayat, namun mempergunakan pola bahasa yang mengandung “dugaan” atau “perkiraan” semata. Misalnya, si Perawi mengatakan: “حدث كذا فأحسب أن الآية نزلت فيه ...”, atau “حدث كذا فأظن أن هذه الآية نزلت فيه”, atau “ما أحسب أو ما أظن أن هذه الآية نزلت إلا في كذا ...”. Pola redaksi semacam ini menunjukkan bahwa si Perawi memahami suatu riwayat yang menunjukkan kepada sebab turunnya ayat hanya berdasarkan indikator berupa situasi dan kondisi konteks semata (qara’in al-ahwal) yang bersifat sangat spekulatif (dugaan). Dan hal itu jelas tidak menunjukkan kepada keterlibatan si Perawi dalam menyaksikan langsung peristiwa turunnya ayat (musyahadah) atau mendengarkan informasinya dari orang yang menyaksikan secara langsung tersebut (sima’i). 

Para ulama memberikan catatan bahwa redaksi seperti ini dapat diterima apabila ada riwayat lain yang menunjukkan hal yang sama, tapi dengan lafaz redaksi yang bersifat pasti (bukan dugaan dan persangkaan semata) sebagaimana dalam bentuk yang disepakati oleh para ulama untuk menunjukkan kepada sebab turunnya ayat.

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikel : Contoh Azbabun Nuzul Ayat Dalam Al Quran


EmoticonEmoticon