Sejarah Asta Tinggi Sumenep

asta tinggi sumenep
Asta Tinggi, sebuah pemakaman tempatnya para raja dan pembesar di Sumenep. Yang tak pernah sepi dari pengunjung, yang tak pernah kosong dari orang-orang yang berziarah. Tempatnya sangat menonjol dilihat dari bawah, lokasinnya berada didataran tinggi, lebih tinggi kalau dibandingkan dengan wilayah disekitar Sumenep. Maka ia diberi nama makam Asta Tinggi.

Asal usul nama dan sejarah Asta Tinggi.

Asta Tinggi secara etimologi adalah makam yang tinggi, berdasarkan dari makam yang berada di puncak bukit, makam Asta Tinggi merupakan makam para Raja namun juga makam dari para keluarga Raja. Memiliki nilai yang tinggi dan di keramatkan oleh masyarakat. 

Dilihat dari namanya, nama Asta Tinggi diambil dari lokasinya yang berada di kawasan yang tinggi. Dilihat dari sejarahnya, Asta Tinggi berarti makamnya para petinggi. Alias para raja dan keluarga para raja di Sumenep. Pada awalnya Asta Tinggi tidak memiliki pagar. Untuk menghormati Pangeran Anggadipa dan istrinya Pangeran Rama yang ketika itu menjabat sebagai adipati sumenep membangun pagar hanya dengan batu-batu yang disusun rapi.

Dalam bahasa Madura, Asta Tinggi disebut sebagai Asta Raja yang maknanya adalah makam para raja atau para Pembesar Kerajaan yang berupa makam. 

Asta Tinggi dibangun sekitar tahun 1750M. Kawasan Pemakaman Asta Tinggi rencana awalnya oleh Panembahan Somala dan dilanjutkan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II. Kawasan Pemakaman ini direncanakan awalnya oleh Panembahan Somala dan dilanjutkan pelaksanaanya oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II ( Wikipedia dan sumenep.go.id)

Dulu, Asta Tinggi dianggap mempunyai mitos dan mistis yang tinggi. Namun, seiring perkembangan zaman, kepercayaan itu sekarang sudah lenyap, karena sudah banyak orang yang tak mempercayai dan orang-orang mulai berbondong-bondong untuk berkunjung.

Makam pertama yang ada di Asta Tinggi adalah makam dari R.Mas Pangeran Anggadipa yang merupakan seorang adipati. Makam perempuan di samping beliau adalah makam dari istri beliau yang bernama R.Ayu Mas Ireng, R.Ayu Mas Ireng sendiri adalah putri dari Panembahan Lemah Duwur. 

Asta Tinggi sendiri memiliki dua bagian, bagian barat dan timur. bagian barat memiliki corak jawa. bagian timur sendiri lebih didominasi oleh corak Cina, Eropa, Arab dan Jawa.

Pembangunannya berlanjut dari masa pemerintahan Panembahan Notokusumo I Asirudin dan Sultan Abdur Rahman yang tidak lain dan tidak bukan adalah putranya, dan masih berlanjut lagi di masa pemerintahan Panembahan Moh.Saleh.
kubah asta tinggi sumenep

Makam-makam yang berada di Asta Tinggi

-Bangunan Barat

Kubah 1
R.Ayu Mas Ireng
Pangeran Anggadipa
Pangeran Wirosari atau Pangeran Seppo
Pangeran Rama
R. Ayu Artak (Istri Pangeran Panji Polang Jiwa)
Pangeran Panji Polang Jiwa (R. Kaskiyan)
Kubah 2
Ratu Ari
Pangeran Jimat (R. Ahmad)
R. Aria Wironegoro
Kubah 3
R. Bendara Moh. Saud
R. Ayu Dewi Rasmana
dan lain-lain

-Bangunan Timur

Kubah 1
Panembahan Notokusumo I Asiruddin
Sultan Abdur Rahman
Panembahan Moh. Saleh
dan lain-lain

Penjaganya pada jaman dahulu merupakan seorang prajurit kerajaan yang dibayar dengan tanah untuk dikelolanya sendiri. Jika penjaga tersebut sudah tidak efektif maka akan digantikan oleh keturunannya dalam menjaga Asta Tinggi ini terdapat 8 kelompok yang diketuai oleh “loloran” dan wakilnya disebut “Kabajen”. 

Pada saat ini penentuan penjaganya sudah diatur oleh pemerintah dan sudah terdapat juga sebuah yayasan yang bernama YAPASTI (Yayasan Penjaga Asta Tinggi) tujuan dari dibentuknya yayasan ini untuk meningkatkan kinerja penjaga Asta Tinggi yang professional dan berkualitas.

Silsilah Raja yang memimpin Sumenep:

Aria Banyak Wedi (Arya Wiraraja) Batuputih 1269-1292 Otak pendiri Ker. Majapahit

Ario Bangah (Wiraraja) Banasare 1292-1301

Ario Danurwendo (Lembu Sarenggono) Aeng Anyar 1301-1311

Ario Assrapati 1311-1319

Panembahan Joharsari Bluto 1319-1331

Panembahan Mandaraga (R. Piturut) Keles 1331-1339

P. Bukabu Wotoprojo Bukabu 1339-1348

P. Baragung Notoningrat Baragung 1348-1358

R. Agung Rawit (Secodiningrat I) Banasare 1358-1366

Tumenggung Gajah Pramono (Secodiningrat II) Banasare 1366-1386

Panembahan Blongi (Aryo Pulang Jiwo) Bolingi / Poday 1386-1399

Pangeran Adipoday (Ario Baribin) Nyamplong / Poday 1399-1415

Pangeran Jokotole (P. Secodiningrat III) Banasare 1415-1460 Pendiri Benteng Kalimo'ok melawan Orang-orang Bali Awang pendiri pintu Gerbang Ker. Majapahit,

R. Wigonando (P. Secodiningrat IV) Gapura 1460-1502

P. Siding Purih (P. Secodingrat V) Parsanga 1502-1559 Patoh Takundur

RT. Kanduruwan Karang Sabu 1559-1562

P. Wetan dan P Lor 1562-1567

R. Keduk (P. Keduk II) 1567-1574

R. Rajasa (P. Lor II) 1574-1589

R. Abdullah (P. Cokronegoro I) Karang Toroy 1589-1626

P. Anggadipa Karang Toroy 1626-1644
Tumenggung JaingPatih dari Sampang Karang Toroy 1644-1648

R. Bugan (Tumenggung Yudonegoro) Karang Toroy 1648-1672

P.T. Pulang Jiwo dan P. Sepuh Karang Toroy 1672-1678

P. Romo (P. Cokronegoro II) Karang Toroy 1678-1709

RT. Wiromenggolo (Purwonegoro) Karang Toroy 1709-1721

R. Ahmat alias P. Jimat (T. Aryo Cokronegoro III) Karang Toroy 1721-1744

R. Alza Alias P. Lolos Karang Toroy 1744-1749 Lolos dalam penyergapan K. Lesap

K. Lesap Karang Toroy 1749-1750 Pimpinan sementara diserahkan T. Tirtonegoro

R. Ayu Tirtonegoro R. Rasmana & Bindara Saod Pajagalan 1750-1762 Pemerintahan diserahkanpada suaminya

Panembahan Sumolo Asirudin Pajagalan 1762-1811 Pendiri Masjid Jamik

Sri Sultan Abdurrahman (Pakunataningrat I) Pajagalan 1811-1854 Kerajaan Sumenep

Panembahan Moh. Saleh (Notokusumo II) Pajagalan 1854-1879

P. Mangkudiningrat (P. Pakunataningrat II) Pajagalan 1879-1901

P. Ario Prataningkusumo Pajagalan 1901-1926

RP. Ario Prabuwinoto Pajagalan 1926-1929

R. Sri Yen oyen Karangpanasan 1929-1935

Pada pintu gerbang bagian utara Asta Tinggi, dibagian belakangnya ada bangunan berbentuk seperti “warana“ tertulis prasasti tulisan dan bahasa Arab dan Jawa kuno, yang terjemahannya antara lain sebagai berikut :

Adapun setelah memuji kepada ALLAH SWT atas karunia-Nya dan mengucap syukur atas segala limpahan rahmat-Nya, maka sesungguhnya bagi orang yang berpegang teguh kepada agama ALLAH yakni : Sultan Pakunataningrat, Raja di Negeri Sumenep, apa-apa yang diharapkan dari ayahnya Panembahan Natakusuma semoga ALLAH menyelimuti dengan rahmat-Nya dan semoga ALLAH memasukkan ke surga. Sultan Pakunataningrat telah melaksanakan wasiat beliau yang disimpan rapi hingga berakhir kekuasaan beliau dengan membuat sebuah bangunan Kubah baginya, dan agar ayahnya dikuburkan didalam Kubah tersebut. Bahwa beliau Rahmatullahi Ta’ala sebelum wafatnya, sungguh telah melihat Kubah itu, selama tiga tahun. Di waktu beliau melihatnya, merasa senang dan nampak dengan wajah yang berseri-seri, sepertinya beliau melihat dirinya sendiri berada pada hari kebangkitan dan hari kiamat. Dan Kubah mulai dibangun oleh Sultan Pakunataningrat pada tanggal 10 Rajab 1227 Hijriyah, sedang beliau wafat pada hari Senin Rabiul awal tahun 1230 Hijriyah dan disemayamkan ditengah-tengah Kubah itu. Ya ALLAH berikanlah tambahan rahmat-Mu kepadanya dan kumpulkanlah bersama kebaikan-kebaikannya ( Wassaabiku wassaabikun ulaikal muqarrabin fi jannatin na'iem ), ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya pekerjaan Kubah pada waktu itu belum selesai atau sempurna untuk memperbagus, termasuk juga pintu masuknya belum selesai. Kemudian Al Mu’tasimu billahi SWT bersungguh-sungguh menyempurnakan pekerjaan tersebut dengan pertolongan dari ALLAH, seperti ia perisai yang baik untuk menutupi dan yang berdiam diri. Penyelesaian akhir pekerjaan Kubah itu dan pekerjaan termasuk memperbagus dan memperluas, agar indah dan bagus dipandang pada tahun 1233 Hijriyah. Semoga sebaik-baiknya Sholawat dan Salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW”.

Pada samping pintu gerbang bagian utara dikanan dan kiri ada lagi prasasti berbentuk kura-kura tanpa ekor menghadap keatas, yang bertulis serta bahasa Arab dan Jawa kuno terjemahannya sebagai berikut :

"Didalam tulisan Prasasti ini mengingatkan padaku dari adanya bangunan pintu ini kepada orang yang menyempurnakan dan membangunnya yang mengharapkan dari orang yang menyempurnakan dan yang meneruskan, maka barang siapa ingin berziarah, kepada yang memiliki kebun / pemilik Asta ini, maka lupa ia masuk tidak melihat prasasti ini pertama kali, maka untuk yang kedua kalinya supaya berpikir dalam semua arti / maknanya, niscaya akan mengetahui kepada yang membangun dan yang menyempurnakan dan juga akan mengetahui apa yang diharapkan oleh yang menyempurnakan dan yang meneruskan. Maka kalau ada orang yang paham atau mengerti bahasa Arab, maka tulisan ini tulisan Arabnya. Namun jika tidak mengerti bahasa Arab, dipersilahkan melihat tulisan yang ada di sebelah kiri. Kiranya jarang orang mengerti terhadap maknanya sebab ditulis dengan bahasa Jawa yang diterangkan saya dari semua maknanya prasasti ini. Mudah-mudahan ALLAH SWT memberi ampunan kepada yang menyalin prasasti ini, yang menulis juga yang membantunya, dan yang memberikan petunjuk bagi orang-orang. Adapun yang membangun pintu ini, yaitu orang yang berpegang teguh pada Agama ALLAH, Sultan Pakunataningrat Raja di negeri Sumenep. Dan adanya beliau berpulang ke Rahmatullah sebelum pintu ini selesai sempurna. Adapun setelah beliau wafat, maka yang melanjutkan atau yang menyempurnakannya ialah : Putranya salah seorang Raja di negeri ini. Dan penyelesaian pintu ini serta diperbagus dengan sesuatu yang pantas baginya yakni : dengan kapur putih dari tanah rendah dan menulisinya pada kedua sisinya, semata-mata mengharap agar menyenangkan bagi yang melihat atau yang memandang dan untuk menutupi orang yang berziarah dan mau mengamankan dari orang yang dzalim terhadap peziarah yang berdo’a. Maka bagi orang yang berziarah pada kuburan ini agar bersopan santun kepada pemilik Astatinggi ini sewaktu masih hidup, dan selesainya pintu ini pada tahun 1274 Hijriyah”.

Asta Tinggi, adalah tempat dari akhir perjalanan kehidupan manusia, setelah beberapa saat lamanya menjalankan tugas yang masing-masing kita adalah pemimpin. Dan semuanya akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT.


EmoticonEmoticon