Beasiswa

Sekilas Tentang Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep

al amien prenduan sumenep
(LOGO AL-AMIEN)

Profil Pondok Pesantren (Ponpes) Al Amien

Al-Amien Preduan merupakan salah satu pondok pesantren terbesar yang ada di Sumenep Madura. Tepatnya berlokasi di desa Prenduan, kecamatan Pragaan, kabupaten Sumenep. Selain itu, Pondok Pesantren Al-Amien juga merupakan lembaga yang berbentuk dan berjiwa pondok pesantren yang bergerak dalam lapangan pendidikan, dakwa, kaderisasi dan ekonomi sekaligus pula menjadi pusat studi islam. 


Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren AL-Amin Sumenep Madura

Berkenaan dengan sejarah berdiirinya. Sekitar awal abad ke-20, Kiai Chotib merintis pesantren dengan mendirikan Langgar kecil yang dikenal dengan Congkop. Pesantren Congkop, begitulah masyarakat mengenal lembaga pendidikan ini, karena bangunan yang berdiri pertama kali di pesantren ini adalah bangunan berbentuk Congkop (bangunan persegi semacam Joglo). Bangunan ini berdiri di lahan gersang nan labil dan sempit yang dikelilingi oleh tanah pekuburan dan semak belukar, kurang lebih 200 meter dari langgar yang didirikan oleh Kiai Syarqowi.

Sejak saat itu, nama congkop sudah menjadi dendang lagu lama pemuda-pemuda prenduan dan sekitarnya yang haus akan ilmu pengetahuan. Ngaji di Congkop, mondok di Congkop, nyantri di Congkop, dan beberapa istilah lainnya. Dari congkop inilah yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Al Amien.

Sebelum congkop menjadi besar seperti yang beliau idam-idamkan, kiai Chotib harus meninggalkan pesantren dan para santri-santri yang beliau cintai untuk selama-lamanya. Pada hari sabtu, tanggal 7 Jumadil Akhir 1349 / 2 Agustus 1930 beliau berpulang ke haribaan-Nya. Sementara putra-putri beliau yang berjumlah 8 orang sebagian besar telah meninggalkan Congkop untuk ikut suami atau membina umat di desa lain. Dan sebagian lagi masih belajar di berbagai pesantren besar maupun di Mekkah. Sejak itulah cahaya Congkop semakin redup karena regenerasi yang terlambat. Walaupun begitu masih ada kegaitan pengajian yang dibina oleh Nyai Ramna selama beberapa tahun kemudian.

Periode Pembangunan Ulang

Setelah meredup dengan kepergian kiai Chotib, kegiatan pendidikan Islam di Prenduan kembali menggeliat dengan kembalinya kiai Djauhari (putra ke tujuh kiai Chotib) dari Mekkah setelah sekian tahun mengaji dan menuntut ilmu kepada Ulama-ulama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Beliau kembali bersama istri tercinta Nyai Maryam yang merupakan putri salah seorang Syekh di Makkah Al-Mukarromah.

Sekembali dari Mekkah, KH. Djauhari tidak langsung membuka kembali pesantren untuk melanjutkan rintisan almarhum ayah beliau. Beliau melihat masyarakat Prenduan yang pernah dibinanya sebelum berangkat ke Mekkah perlu ditangani dan dibina lebih dahulu karena terpecah belah akibat masalah-masalah khilafiyah yang timbul dan berkembang di tengah-tengah mereka.

Setelah masyarakat Prenduan bersatu kembali, barulah beliau membangun madrasah yang baru yang lebih teratur dan terorganisir. Madrasah baru tersebut diberi nama Mathlabul Ulum atau Tempat Mencari Ilmu. Madrasah ini terus berkembang dari waktu-waktu termasuk ketika harus berjuang melawan penjajahan Jepang dan masa-masa mempertahankan kemerdekaan pada tahun 45-an. Bahkan ketika KH. Djuhari harus mendekam di dalam tahanan Belanda selama hampir 7 bulan madrasah ini terus berjalan dengan normal dikelola oleh teman-teman dan murid-murid beliau.

Hingga akhir tahun 1949 setelah peperangan kemerdekaan usai dan negeri tercinta telah kembali aman, madrasah Mathlabul Ulum pun semakin pesat berkembang. Tercatat ada 5 madrasah cabang yang dipimpin oleh tokoh masyarakat sekitar madrasah. Selain mendirikan Mathlabul Ulum beliau juga mendirikan Tarbiyatul Banat yang dikhususkan untuk kaum wanita. Selain membina madrasah, KH. Djauhari tak lupa mempersiapkan kader-kader penerus baik dari kalangan keluarga maupun pemuda-pemuda Prenduan. Tidak kurang dari 20 orang pemuda-pemudi Prenduan yang dididik khusus oleh beliau.

MTA (Ma’had Tahfidh Al-Qur’an) Pondok Pesantren Al-Amien

MTA Pondok Pesantren Al-Amien berdiri pada 12 Rabi’ul Awal 1412H atau 21 September1991 M, dan diresmikan oleh Kyai Tidjani Djauhari. Sementara MTA khusus putri, didirikan pada Rabu, 25 Syawal 1425/8 Desember 2004.

Lembaga ini didirikan sebagai respon aktual terhadap kian langkanya ulama’ yang menguasai disiplin ilmu pengetahuan modern (ilmuwan), atau sebaliknya ilmuwan muslim yang memiliki kearifan ulama’.

Visi MTA adalah semata-mata untuk ibadah kepada Allah swt., dan mengharap ridho-Nya (tercermin dalam sifat tawadhu’, tunduk dan patuh kepada Allah swt., tanpa reserve, serta mengimplementasikan fungsi kholifah Allah di muka bumi (tercermin dalam sikap proaktif, inovatif, dan kreatif).

Misi MTA Pondok Pesantren Al-Amien adalah mempersiapkan individu yang unggul dan berkualitas menuju terbentuknya khoiru ummah, serta mencetak kader-kader mundzirul qoum yang mutafaqqih fid dien, berjiwa IMTAQ berbekal IPTEK dan memiliki ciri-ciri khusus sebagai huffadz/hamalatul Qur’an yang mengimplementasikan nilai, ajaran dan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Program pendidikan di Ma’had Tahfidh Al-Qur’an AL-AMIEN PRENDUAN, dilaksanakan secara terpadu dalam bentuk core and integreted curriculum (kurikulum terpadu) selama 24 jam non stop, dengan penekanan khusus pada upaya tafaqquh fiddin dengan berafiliasi pada berbagai macam ilmu, teori dan praktik yang meliputi semua life skill.


Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Pondok Pesantren Al-Amien

Tarbiyatul Mu’allimien al-Islamiyah (TMI) adalah lembaga pendidikan tingkat menengah yang paling tua di lingkungan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN. TMI—dengan bentuknya yang sangat sederhana telah dirintis pendiriannya sejak pertengahan tahun 1959 oleh Kiai Djauhari Chotib (pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan). Selama kurang lebih 10 tahun, Kiai Djauhari mengasuh lembaga ini di lokasi Pondok Tegal sampai beliau wafat pada bulan Juli 1970.

Pondok Putri I Pondok Pesantren Al-Amien

Pondok Putri I berdiri secara resmi pada tahun 1975. Ia adalah pesantren putri pertama yang ada di lingkungan AL-AMIEN PRENDUAN. Pondok Putri I ini berasal dari sejengkal tanah milik Kiai Abdul Kafi dan istrinya Nyai Shiddiqoh, keponakan Kiai Djauhari yang memang dikadernya secara khusus selama beberapa tahun di rumah beliau. Pada bulan April 1973, kedua pasangan suami istri ini pindah dari rumah asalnya di Prenduan ke sebuah rumah sederhana yang terletak di atas sebidang tanah sempit, di sebelah barat jembatan Prenduan. Di rumahnya yang sangat sederhana, beliau menerima remaja-remaja putri untuk mondok dan menampung mereka di salah satu sudut rumahnya. Lokasi inilah yang kelak menjadi sebuah pondok pesantren khusus putri. Dan sejak tahun 1986, dikenal dengan nama “Pondok Putri I AL-AMIEN PRENDUAN.

IDIA Pondok Pesantren Al-Amien

Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan merupakan lembaga pendidikan tinggi di lingkungan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN, yang berbasis tafaqquh fid-din dan berorientasi pada indzarul qaum. Cikal bakal IDIA bermula dari Pesantren Tinggi Al-Amien (PTA) yang didirikan secara resmi dengan penandatanganan prasasti pada bulan September 1983 oleh Bapak Munawir Syadzali, MA., Menteri Agama RI saat itu. Pesantren Tinggi ini kemudian berkembang menjadi STIDA, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (1986), lalu STAI, Sekolah Tinggi Al-Amien Prenduan (2000) dan akhirnya menjadi Institut Dirosat Islamiiyah Al-Amien (IDIA) melalui SK Dirjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, No. Dj.II/144/2002 tertanggal 21 Juni 2002.

Selengkapnya mengenai profil Al-Amien Prenduan Sumenep dapat dilihat disitus resminya.