Belajar Dari Murid Gila Yang Mengajak Gurunya Jalan-Jalan Ke Luar Negeri

murid gila fredy candra
(27/09/17) Sudah lama saya tidak menulis di gurusiana.id, situs media yang dirancang untuk mewadahi karya-karya tulis para guru. Dari situs tersebut saya menemukan artikel yang sangat menarik, aneh, yang bisa membuat kita bertanya-tanya.

Ada kisah menarik dalam situs media guru itu yang dapat kita jadikan contoh, kisah seorang murid yang mengajak guru-guru yang dulu pernah mengajarnya waktu di sekolah untuk jalan-jalan keluar Negeri. 

Kisah itu ditulis oleh Sulikin seorang guru sekaligus sebagai sebagai Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pekalongan, judul tulisannya pun sangat aneh. Ia menulis artikel dengan judul "Muridku Gila" melalui situs gurusiana.id

Namanya Fredy Candra, seorang murid yang telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh para murid lainnya. Fredy merupakan siswa SMA 1 Pekalongan jurusan IPS yang lulus pada tahun 1993. Berikut adalah tulisan dari Sulikin M.Pd yang diposting di situs gurusiana.id 

MURIDKU GILA

Siang itu saya kedatangan tamu alumni SMA N 1 Pekalongan tahun 1993. Dengan penampilan yang sederhana dan penuh senyum dia menyapa saya sambil berjabat tangan. 'Siang Pak, perkenalkan saya Fredy alumni tahun 1993" begitu dia memperkenalkan dirinya. Sambil saya persilahkan duduk, kami terlibat perbincangan yang cukup hangat dan penuh canda tawa.

"SMANSA makin maju ya pak"

lingkungan sekolahnya juga sudah banyak berubah, bangunannya semakin megah dan prestasinya juga makin hebat". kata Fredi.

Perbincangan kami makin akrab dan Fresi terus menerus memuji almamaternya "Semua telah berubah, hanya satu yang tidak berubah, kewibawaan SMA N 1 Pekalongan. Setiap alumni yang masuk ke SMA N 1, pasti akan merasakan aura wibawa penuh kenangan" Begitulah kesan Fredy terhadap SMA N 1 Pekalongan.

Setelah berbasa basi kesana kemari, Fredy menyampaikan maksud kedatangannya. Dia ingin mengajak jalan jalan Bapak ibu guru karyawan yang dulu mengajarnya. "Saya ingin mengajak jalan jalan ke luar negeri semua guru yang dulu mengajar saya pak" begitu yang dia sampaikan. Dalam hati saya berkata, "anak ini nglindur kali, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba tiba menawarkan angin syurga"

Rasanya saya percaya tidak percaya dengan apa yang diinginkannya. Karena untuk mengajak jalan jalan ke luar negeri pasti butuh biaya yang sangat banyak. Dia cerita lagi bahwa keinginannya ini sudah timbul sejak dia masih sekolah. Suatu saat kalau saya berhasil saya ingin mengajak Bapak ibu guru saya pergi jalan jalan ke luar negeri. Semangat itu yang menjadikan dia sekarang menjadi pengusaha kabel FO bawah laut yang cukup berhasil.

Ternyata dia sangat serius dengan keinginannya.
Tiga bulan berlalu, hari ini tanggal 20 September 2017, kami bersama dengan 65 guru berangkat ke Kualalumpur Genting Singapura selama 5 hari. Semua gratis dengan fasilitas kelas satu.

Mungkin 100 tahun yang akan datang, kami tidak menemukan lagi mantan murid gila seperti Fredi. Semoga sukses Fred, doa kami selalu bersamamu.

Murid seperti ini sangat langka di zaman saat ini. Murid yang mengingat jasa para gurunya sudah sangat jarang. Kalau kita saksikan di zaman yang serba gaul, tak heran jika ada murid yang bertemu gurunya seperti bertemu temannya dalam satu geng, bertemu dijalan enggan untuk menyapa.

Bukankah kita sering menyaksikan, ketika seorang murid lulus dari sekolah,  lama kelamaan gurunya dianggap orang biasa. Padahala guru adalah orang yang telah mengajari kita tentang bagaimana kita menjalani kehidupan. 

Walaupun kita tidak dapat membalas jasa guru, paling tidak, buatlah hati guru senang dan gembira serta bangga. Jangan anggap guru sebagai teman biasa meskipun kita sudah lulus dari sekolah. Kalau bukan karena guru, kita akan menjadi orang terbodoh di dunia. Menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Maka, ingatlah dan jangan sampai lupa jasa guru.


EmoticonEmoticon