Asta Sayyid Yusuf Sumenep Madura

sayyid yusuf
Di Sumenep, terdapat sebuah tempat wisata religi, sebuah Asta makamnya orang yang bersejarah, asta Sayyid Yusuf namanya. Tempat peristirahatan terakhir dari Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al Hasan. Tokoh penyebar agama di tanah air yang berasal dari mekkah. 

Asta Sayyid Yusuf merupakan asta yang pertama kali di temukan oleh Sultan Abdurahman, raja sumenep yang cukup terkenal. (Sumenep.go.id) Lokasi Astanya berada di Pulau Talango atau Poteran. Tepatnya berada di Desa Padike, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. 

Siapakah Sayyid Yusuf?
Sayyid Yusuf adalah seorang ulama yang berasal dari Arab yang ke tika itu secara gaib jenazahnya terapung diliputi sinar melintas di depan perahu Sultan Abdurrahman yang akan melakukan perjalanan ke pulau Bali. Kemudian diharibaanya jatuh daun sokon/sukun yang bertuliskan dengan jelas nama jenazah tersebut yaitu Sayyid Yusuf dari Mekkah. Sultan Abdurrahman berniat menguburkan janazah tersebut secara wajar dari pulau Bali.

Sejarah Asta Sayyid Yusuf
Menurut cerita turun temurun asal mula Makam Sayyid Yusuf bermula pada tahun 1212 H (Tahun 1791 M) raja Sumenep Sri Sultan Abdurrahman Pangkutaningrat, beserta rombongan berangkat dari Keraton Sumenep. Maksudnya akan menyebarluaskan Agama Islam ke Pulau Bali.

Setibanya di Pelabuhan Kalianget, karena hari telah sore, maka beliau terpaksa bermalam, di sekitar jam 24.00 Sri Sultan Abdurrahman terkejut karena tiba-tiba melihat sinar/cahaya yang sangat terang, seakan-akan jatuh dari langit ke Bumi di sebelah timur Pelabuhan atau tepatnya di Pulau Poteran desa Telango Kecamatan Telango Kabupaten Sumenep.

Setelah sholat Subuh, Sri Sultan dengan pengikutnya naik perahu menuju pulau tersebut untuk mencari tanda jatuhnya sinar tersebut. Setibanya di pulau Poteran, Sri Sultan masuk hutan dan mendapatkan tanda yang meyakinkan seakan-akan kuburan baru. Lalu beliau memberi salam dan salam beliau dijawab dengan suara jelas. Namun tidak ada yang menampakkan diri.

Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman ingin mengetahui suara tersebut. Maka beliau munajat atau memohon kehadirat Allah SWT, tiba-tiba jatuhlah selembar daun diharibaannya dan setelah diperhatikan daun tersebut tertulis dengan tulisan Arab 'Hadza Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al Hasani'.

Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman memasang batu nisan dengan diberi nama sebagaimana yang terdapat atau tertulis pada daun tersebut. Setelah melanjutkan perjalanannya. Sebelum berangkat beliau menancapkan tongkat beliau di dekat kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf dan tongkat tersebut hidup sampai sekarang menjadi pohon yang besar dan rindang.

Setelah beberapa lama kuburan atau pesarean diberi cungkup atau pendopo kecil tetapi hanya kuburan Sayyid Yusuf pindah dari sebelah timur dengan arti tidak menghendaki diberi cungkup.

Sekitar kurang lebih satu tahun, kemudian Sri Sultan Abdurrahman mendatangi lagi kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf untuk membangun pendopo di sekitar kuburan tersebut juga termasuk masjid Jami' Kecamatan Telango.

Asta ini banyak dikunjungi peziarah dari Jawa Timur dan Jawa Barat, kerena konon permohonan/doa mereka ditempat ini banyak dikabulkan oleh Allah SWT. Di sebelah utara Asta Sayyid Yusuf terdapat pohon Nangger yang sangat besar seperti memayungi kuburan tersebut. Pohon Nangger ini berasal dari tongkat Sultan Abdurrahman yang ditancapkan setelah menguburkan jenazah Sayyid Yusuf.


EmoticonEmoticon