Tugas dan Tanggung Jawab Mahasiswa

mahasiswa
Kapada pewaris peradaban, yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia. Kepada para calon-calon sarjana dengan jaz almamter kebanggaan. Kepada para mahasiswa tempatnya gelar-gelar bersandang. Bolehkah aku memberi tahu, bahwa Negeri tidak bangun untuk lucu-lucuan sebagaimana stand up comedy yang kalian gandrungi. Indonesia tidak semestinya dikelola dengan cengengesan Karena ia diperjuangkan dengan sepenuh hati dengan darah, air mata, jiwa dan raga para pahlawan.

Para Mahasiswa, kalian dimana. Ketika subsidi BBM dibegal entah ke mana. Mungkin dialihkan ke BUMN yang tengah dahaga. Atau ke gedung DPR untuk jatah parpol berpesta Tinggallah minyak yang kapan saja bisa naik harga. Rupiah tumbang kehilangan keperkasaannya, lalu kalian masih bicara semua baik-baik saja.

Ketika banyak orang diperdaya pencitraan. Ketika hukum dinista dengan benderang. Ditafsirkan sekenanya untuk beroleh kekuasaan Bukan berpihak pada kebenaran. Para penegaknya disandera dan diadu laiknya domba. Ketika harga-harga melambung tak terkira. Dari beras hingga tarif kereta Dari listrik hingga pajak yang mencekik. Dari materai hingga cabai, pun pula petai. Semua seolah berlomba untuk berganti harga.

Bagaimana kalian tetap gembira menimba ilmu tatkala rakyat kalian menimba lara? Bagiamana kalian bisa tanpa gundah kuliah, sedang rakyatmu tengah berkalang resah? Bagiamana kalian bisa tanpa resah kuliah, sedang rakyatmu tengah berkubang gundah?
Sungguh kami tak mengerti, karena tak pernah ajarkan itu kepadamu.

Engkau bilang bahwa negara mensubsidi biaya kuliahmu? Tapi tahukah anda bahwa rakyatmu lah yang mensubsidi sekolahmu lewat pajak yang sebagian lalu dikorupsi berjamaah itu. Ya, pajak yang dibayarkan dengan terengah-engah, dalam sengal nafas kaum papa. Dalam duka kaum miskin yang kian terhimpit harga-harga yang melangit. Dalam rintih yang melirih, karena meraka tidak tahu kemana mesti mengadu.

Apakah jalan terjal kuliah itu membuat idealisme kalian lantas punah? Apakah teori-teori itu lantas membuat hati kalian menjadi mati? Apakah peliknya skripsi membuat kalian kelu hati? Apakah deretan angka-angka itu membuat akal sehat kalian binasa? Apakah kurikulum yang mesti kalian tempuh membuat jiwa kalian menjadi lumpuh? Apakah diktat-diktat yang tebal itu membuat otak kalian justru menjadi bebal? Apakah sibuk mengejar nilai itu membuat kalian lantas kehilangan sistem nilai dan jati diri? Apakah tugas-tugas yang besok mesti terkumpul itu membuat otak kalian menjadi tumpul?

Lalu, kalian bertumbuh menjadi generasi rapuh. Belajar berdiskusi perihal rakyat di kafe-kafe yang mewah. Belajar problem solving di tengah hingar bingar musik diskotik yang hedonis. Belajar soal kebangsaan di mal-mal kota yang kapitalis. Belajar perihal cinta bangsa dari drama-drama Korea yang sok romantis. Belajar nasionalisme sekedar dari menyusuri luasnya lapangan futsal.

Para Mahasiswa. Indonesia kembali memanggilmu. Rakyat kembali merindumu. Nusantara mendamba hadirmu. Pertiwi mengundang baktimu untuk membangun negara ini. Kalian tidak lagi berperang angkat senjata. Kalian tidak berperang melawan Belanda. Tapi, sempatkan sedikit waktu untuk belajar berperang. belajarlah tentang perang asimetrik Ketahuilah bahwa negeri ini diincar dari segala penjuru, bukan sekedar belajar peran-perangan ala Clash of Clans itu.

Sempatkan diri untuk lebih serius berlajar. Belajarlah berempati pada rakyatmu yang tengah kesrakat, Bukan sekedar bermain PS empat. Belajarlah cerdas berorasi, Bukan sekedar hingar-bingar bermain musik. Belajarlah tajam menganalisis, Bukan sekedar berfoto narsis. Belajarlah tampil menginspirasi, Bukan bangga dikerjai jadi penonton acara live di studio TV

Saudaraku. Bagaimana kalian akan bertumbuh menjadi pribadi kebanggan bangsa, jika kepada dosenmu kalian telah tanggalkan etika dan tatakrama. Bagaimana kalian akan bertumbuh menjadi mahasiswa juara, jika bangunmu masih saja kesiangan karena bergadang nonton bola. Bagaimana kalian akan menjadi hebat jika kalian telah tanggal semangat. Bagaimana akan menjadi benteng kokoh rakyat jika hatimu masih saja rapuh. Bagaimana pula menjadi pembela jika hatimu masih saja lara tersebab asmara. Bagaimana kalian akan menjadi mahasiswa dengan prestasi kemilau jika hatimu masih saja galau.

Saudaraku. Kenakan kembali jas Almamater Kebanggaanmu. Apapun warnanya, bersatu padulah membisik bangun kekuatan moral intelektual Buang jauh-jauh tongsismu. Kantongkan sejenak gadgetmu. Bubarkan klan CoC mu. Tanggalkan PS mu. Campakkan PB mu Tinggalkan medsosmu. Shutdownkan games online mu. Sesaat saja, kali ini saja. Senyampang masih ada waktu, Kenakan Jas Almamatermu dengan bangga dan sukacita, apapun warnanya

Saudaraku. Jaga amanah Tuhan bernama status muliamu sebagai Mahasiswa. Karena ia tidak Tuhan sematkan pada semua manusia. Ingatlah bahwa agen of change bukan sekedar mantra-mantra berbusa. Sosial kontrol bukan sekedar soal omong kosong yang tolol belaka. Iron stock bukan sekedar cerita gagah-gagahan yang dusta. Cerdas cendekia bukan bukan di otak semata, tetapi di laku yang mulia.

Saudaraku para mahasiswa. Cerdaslah, pandailah, kritislah, bijaklah dan beranilah. Toyor pemerintahmu jika kalap menaikkan pajak dan upeti. Tegur pemerintahmu jika mereka merampok dan membegal kekayaan negeri ini. Tampar pemerintahmu jika mengobral kekayaan negara kepada kapitalis asing. Bela rakyatmu, bela negaramu, bela bangsamu, dan bela tanah airmu. Kritisi pemerintahmu jika berlaku tidak amanah culas dan menipu saudaramu. Berdirilah gagah di barisan terdepan menjaga Indonesia. Anak Muda
Hadapi dengan watak ksatria para penjajah dan para pengkhianat bangsa

Karena pada pundak kalian lah, kelak negeri ini akan dititip sejahterakan. Di jiwa dan raga kalian, Republik ini akan dipertaruhkan. Mana darah juangmu intelektual muda. Mestinya kalian di sini.


EmoticonEmoticon