Syarat Dan Rukun Shalat

syarat dan rukun shalat
Shalat merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan. Agar shalat kita diterima maka harus memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun shalat. Tanpa syarat dan rukun, maka shalat kita tidaklah sah. Syarat dan rukun itu di wujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan tertentu di sertai ucapan-ucapan tertentu. shalat di dalamnya mengandung do’a-do’a, baik yang berupa permohonan, rahmat, ampunan dan lain sebagainya.

Antara syarat dan rukun shalat itu berbeda. Jelasnya syarat itu tidak meliputi rukun shalat, karena rukun adalah bagian yang harus dikerjakan dalam shalat.

Syarat Sahnya shalat
A. Islam
Orang kafir tidak wajib melaksanakan shalat dan tidak pula mengqadha shalat-shalat yang ditinggalkan selama ia kafir.
Berbeda dengan orang murtad maka semua shalat fardhu yang ditinggalkan selama ia murtad, wajib diganti kalau nantinya masuk islam lagi

B. Baligh
Anak yang belum baligh baik pria maupun wanita, tidak wajib shalat, tapi orangtua wajib menyuruhnya ketika anak menginjak 7 tahun atau lebih, bahkan setelah umur 10 tahun belum juga melaksanakan shalat (enggan shalat) maka orangtua diperbolehkan memukulnya
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم  أبناء عشر سنين وفرقوا بينهم في المضاجع واذا زوج احدكم
“ Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika menginjak usia 7 tahun, dan pukullah mereka kalau meninggalkan (enggan) shalat (padahal) umurnya telah mencapai 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka dan nikahkan mereka apabila telah sampai waktunya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, Jami’ush shaghir jilid II/155)
C. Berakal sehat,
Bagi orang gila tidak wajib shalat, karena orang gila terlepas dari kewajiban. Berbeda dengan orang yang berakal sehat. 

D. Suci dari hadats besar ataupun kecil (najis). Termasuk juga suci dari hadas, haid dan nifas nifas
Sabda Rasulullah Saw :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لفاطمة بنت ابي حبيش : اذا اقبلت الحيضة فدعي الصلاة
“ Beliau berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisyi, “apabila datang haid, tinggalkanlah shalat.” (HR. Bukhari)
لا يقبل الله صلاة احدكم اذا احدث حتى يتوضأ
“ Allah tidak menerima shalat seseorang di antara kamu apabila ia berhadas hingga ia berwudhu” (HR. Bukhari Muslim)

E. Menutup aurat
Orang yang akan shalat hendaknya menutup aurat. Ilaki-laki auratnya antara pusar sampai lutut, sedangkan wanita auratnya seluruh anggota badan, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Firman Allah Swt :
يبني ادم خذوا زينتكم عند كل مسجد
“ Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf : 31)

F. Suci seluruh anggota badan, pakaian, dan tempat.

G. Telah masuk waktu yang ditentukan untuk masing-masing shalat.

H. Mengetahui mana yang rukun dan sunnah.

I. Menghadap kiblat,
 Firman Allah Swt :
فول وجهك شطر المسجد الحرام وحيث ماكنتم فولوا وجوهكم شطره
“ Palingkanlah mukamu ke arah masjidil haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah : 144)

Dalam hadits:
اِذَا  قُمْتُ اِلَى الصَّلَاةِ  فَاَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبِلِ
الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ
Artinya: “Apabila engkau hendak menegakkan shalat maka sempurnakanlah wudhu dan menghadaplah ke qiblat, kemudian bertakbirlah”

RUKUN-RUKUN SHALAT

Rukun Salat dalam bahasa Arab disebut أركان الصلاة ialah setiap perkataan atau juga perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu dalam rukun ini tidak ada atau tidak dilakukan, maka shalat yang dikerjakan tidaklah sah. Shalat mempunyai rukun-rukun yang harus dilakukan sesuai dengan aturan dan ketentuannya, sehingga apabila tertinggal salah satunya maka shalatnya tidak sah.

Yang dimaksud dengan rukun shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak teranggap secara syar'i

Meninggalkan rukun shalat ada dua bentuk.

Pertama: Meninggalkannya dengan sengaja. Dalam kondisi seperti ini shalatnya batal dan tidak sah dengan kesepakatan para ulama.

Kedua: Meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu. Di sini ada tiga rincian,
Jika mampu untuk mendapati rukun tersebut lagi, maka wajib untuk melakukannya kembali. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Jika tidak mampu mendapatinya lagi, maka shalatnya batal menurut ulama-ulama Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa raka’at yang ketinggalan rukun tadi menjadi hilang.

Jika yang ditinggalkan adalah takbiratul ihram, maka shalatnya harus diulangi dari awal lagi karena ia tidak memasuki shalat dengan benar. Apa saja Rukun Shalat?

1.      Niat.
Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
وَمَااُوْمِرُوااِلّاَلِيُعْبُدُواالله مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ خُنَفَآءَوَيُقِيْمُواالصَّلَوةَوَيُؤْتُواالزَكَوةَوَذَلِكَ دِيْنُ القَيِّمَةِ
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (al-Bayyinah: 98).

2.      Takbiratul Ihram.
Hal ini berdasarkan hadist dari Ali RA berikut ini:
عن علي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم (رواه الدارم)
 
Artinya: Dari Ali RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, kunci shalat bersuci, pembukaannya membaca takbir dan penutupannya adalah membaca salam. (H.R. Ad-Darimi).

3. Berdiri Pada Saat Mengerjakan Shalat Fardhu kecuali tidak mampu
Hukum berdiri ketika mengerjakan shalat fardhu adalah wajib. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
Artinya: Dari Imran bin Husain RA berkata, aku menderita penyakit ambien, lalu aku bertanya kepada Nabi SAW mengenai cara mengerjakan shalat yang harus aku lakukan, Nabi SAW bersabda, “Shalatlah dalam keadaan berdiri, jika engkau tidak mampu, maka laksanakan dalam keadaan duduk, jika engkau tidak mampu melakukannya, maka kerjakanlah dalam keadaan berbaring”. (H.R. Bukhari).

4.      Membaca al-Fatihah.
عن عبادة بن الصامت يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلم لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب (رواه مسلم)
Artinya: Dari Ubadah bin Shamit RA, Nabi SAW bersabda, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surah Fatihatul-Kitab”. (H.R. Muslim).

5.      Ruku’.
Firman Allah SWT:
يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أمَنُوااَرْكَعُواوَاسْجُدُواوَاعْبُدُوارَبَّكُمْ وافْعَلُواالخَيْرَلَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (al-Hajj: 77).

6.    Sujud dua kali
Adapun anggota sujud adalah kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak kaki.

7.      Duduk antara dua sujud
Duduk yang dilakukan setelah sujud yang pertama sebelum melakukan sujud yang kedua.

8.      Membaca tasyahud
Maksudnya membaca kalimat syahadat pada waktu tahiyat.

9.      Shalawat kepada Nabi SAW setelah tasyahud akhir.
Bacaan shakawat ini dikenal dengan shalawat ibrahimiyah.

10.      Salam
Yaitu penutup dari pelaksanaan shalat di akhiri dengan kalimat salam dengan menghadap ke kanan dan kekiri

11.      Tertib.
Tidak boleh mendahulukan yang akhir atau mengakhirkan yang awal. Harus berurutan.
_________
Rasjid, Sulaiman. 2015. Fiqh islam. Bandung : Sinar baru algensindo

Abu abdillah, Syamsuddin. 2010. Terjemah fathul qarib. Surabaya : Mutiara ilmu

Fatoni, Ade. 2013. Panduan lengkap rukun iman dan islam. Yogyakarta : Buku pintar
Bakar, Abu. Risalah tuntunan shalat lengkap. Surakarta : Al-hikmah

muslim.or.id


EmoticonEmoticon