Karena Mengajak Shalat, Guru Agama Divonis Penjara

guru agama divonis penjara
29/07/2017. Tulisan ini untuk menanggapi kasus seorang guru agama yang divonis bersalah gara-gara mengajak muridnya untuk shalat. Keputusan hukum semacam ini terdapat kejanggalan dimana hukum tidak ditempatkan pada tempatnya, yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Berikut ini petikan berita yang disampaikan media.

Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 3 Parepare, Darmawati divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Parepare atas kasus pemukulan terhadap siswiny berinisial AY. Dia dijatuhi hukuman 3 bulan penjara dan 7 bulan percobaan. (news.rakyatku.com)

Gerakan #Save Bu Darma pun semakin meluas. Sejumlah Organisasi, diantaranya Pemuda Muhammadiyah, Kopera, IGI dan PGHI, serta Komunitas Parependen memprotes putusan Pengadilan Negeri Parepare itu. (Arrahmah.com)

Proses hukum yang dialami, Guru Agama SMAN 3 Parepare, Darmawati yang divonis bersalah dalam proses mendidik siswinya dituding preseden buruk dalam dunia pendidikan Parepare. Hal ini diungkapkan Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Parepare Nasir Dollo. (Tribunnews.com)

Para peserta aksi mendatangi kantor Pengadilan Negeri Parepare pada Jumat, 28 Juli 2017, untuk menemani dan mengawal Darmawati mengambil salinan putusan pengadilan atas vonis yang dijatuhkan terhadap dirinya. Selain itu, para peserta aksi juga menandatangani spanduk dukungan moril kepada guru agama SMAN 3 Parepare itu (liputan6.com)

Guru agama bernama Darmawati divonis bersalah karena memukul siswa yang tidak salat. Ia dijatuhi hukuman 3 bulan penjara dengan masa percobaan 7 bulan. Hakim Pengadilan Negeri Parepare menyatakan guru agama SMA Negeri 3 Parepare Sulawesi Selatan itu bersalah karena memukul siswinya. (Fajar.co.id)

Jika seorang guru divonis bersalah karena menyuruh siswanya shalat, maka putusan semacam ini justru menodai ajaran agama islam. Karena secara tidak langsung, sama saja menyalahkan ajaran islam tentang perintah mengajarkan shalat terhadap anak kecil.

Bukankah Nabi kita memerintahkan agar mengajari anak untuk shalat, beliau bersabda dalam haditsnya riwayat Abu Daud no 495 :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ»


Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka."

Makna pukulan dalam hadits tersebut bukan berarti pukul memukul seperti yang sering kita lihat. Memukul dalam islam mempunyai aturan, tidak sembarang main pukul. Termasuk juga dalam mendidik anak untuk shalat. Selama pukulan tidak meninggalkan bekas, tidak menimbulkan luka, bukan bagian muka, maka diperbolehkan.

Keputusan hakim dalam kasus guru agama yang divonis salah gara-gara mengajak muridnya untuk shalat, sangatlah bertentangan dengan hadits tersebut. Nabi kita mengajarkan agar memerintahkan anak shalat, ketika guru melakukannya, divonis salah. Ada apa dibalik keputusan hakim?

Ketika gurunya memukul dengan halus memakai mukena, apalagi dari hasil keterangan dokter, anak yang bersangkutan tidak ada luka ataupun memar, tetap saja divonis bersalah. Ada apa dibalik ketukan palu?

Lagian seorang murid harus patuh pada peraturan sekolah, termasuk peraturan shalat yang diterapkan dan sang guru pun melakukan itu semua karena peraturan sekolah. Tetap saja gurunya dianggap bersalah. Ada apa dibalik vonis hakim?

Keputusan yang tidak layak ini merupakan tindak ketidak adilan, pencemaran terhadap kehormatan seorang guru, pencemaran nama baik dunia pendidikan.


EmoticonEmoticon