Adab Dan Etika Memberi Nasehat Kepada Orang Lain

memberi nasehat
Nasehat memiliki makna mengajak orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang mengandung kebaikan, kemaslahatan, dan melarang mengerjakan sesuatu yang mengandung kerusakan. Nasehat selalu bersifat mendidik. Namun nasehat sifatnya relatif, tergantung siapa dan bagaimana orang yang menasehati, karena orang yang dinasehati setiap orang tidaklah sama.

kita sering meninggalkan nasehat-menasehati, baik kepada keluarga, kerabat, saudara, sesama sahabat maupun teman. Padahal pepatah mengatakan : Sahabat sejati adalah sahabat yang mengingatkan kita ketika kita lupa, menegur kita ketika kita salah, dan menasihati kita kepada kebenaran dan mencegah kita dari kesesatan.

Dalam memberi nasehat juga ada etika dan aturannya, tidak sembarang kita memberi nasehat kepada orang lain. Jangan berharap kita bisa menasehati orang lain, kalau kita tidak melakukannya dengan benar.

Ada beberapa adab etika menasehati orang lain, diantaranya:

1. Tidak dalam rangka mempermalukan orang yang dinasehati

Seseorang yang hendak memberikan nasehat harus berusaha untuk tidak mempermalukan orang yang hendak dinasehati. Ini adalah musibah yang sering terjadi pada kebanyakan orang, saat dia memberikan nasihat dengan nada yang kasar. Cara seperti ini justru akan berdampak buruk bagi kita, bagi orang yang memberi nasehat dan orang yang dinasehati.

2. Menasehati secara rahasia

Jangan sekali-kali memberi Nasehat disampaikan dengan terang-terangan, kecuali disampaikan ketika menasehati orang banyak seperti ketika menyampaikan ceramah. Jika nasehat disampaikan kepada perindividu, maka hendaklah jangan dilakukan didepan umum. 

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia. Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan, “Jika kamu hendak memberi nasehat sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

3. Menasehati dengan lembut, sopan, dan penuh kasih

Seseorang yang hendak memberikan nasehat haruslah bersikap lembut, sensitif, dan beradab di dalam menyampaikan nasehat. Sesungguhnya menerima nasehat itu diperumpamakan seperti membuka pintu. Pintu tak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Seseorang yang hendak dinasehati adalah seorang pemilik hati yang sedang terkunci dari suatu perkara, jika perkara itu yang diperintahkan Allah maka dia tidak melaksanakannya atau jika perkara itu termasuk larangan Allah maka ia melanggarnya.

4. Jangan Memaksa
Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan: “Janganlah kamu memberi nasehat dengan mensyaratkan nasehatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

Orang yang menasehati harus mengetahui tentang apa yang akan dinasehatkan, dan mempertegas berita yang sampai kepadanya (tentang orang yang dinasehati) sehingga dia mengingkari dan memerintahkan sesuatu berdasarkan ilmu dan ini lebih kondusif bagi diterimanya nasehat.

Hendaknya orang yang memberikan nasehat melaksanakan nasehat tersebut sebelum memberikan nasehat kepada orang lain sehingga ia tidak termasuk golongan orang-orang yang memberikan nasehat sedangkan mereka melupakan dirinya

5. Memilih moment dan waktu yang tepat.
yaitu dalam memberikan nasihat dilakukan dengan memperhatikan dengan situasi dan kondisi. Karena, apabila pemberian nasihat di berikan pada saat waktu atau momentnya tidak tepat maka, nasihat tidak akan di terima.

Tetaplah saling memberi nasehat meski kita banyak kekurangan

Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbaly Rohimahullah berkata :
لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده...
Kalau seandainya seseorang tidak boleh memberi nasehat kecuali orang yang terjaga dari kesalahan saja (ma'shum), Niscaya tidak akan ada seorang pun yang dapat menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada satupun yang ma'shum selain beliau Saw .Kitab Lathaiful Ma'arif (Halaman 19)-(AMM)


EmoticonEmoticon